Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 23. Cemburu


__ADS_3

Bab 23 TCSM


Pagi itu di rumah sakit tempat Andara dirawat, seorang dokter pria dengan tubuh tinggi dan berbadan tegap datang ke dalam ruang perawatan gadis itu.


"Selamat pagi, Dara!” sapa seorang dokter yang bernama Dimas pada Andara. Ia datang bersama seorang suster. Rupanya dokter itu dan Andara saling mengenal. Mereka teman semasa kecil kala itu.


“Hah, Dimas! Kau yang dulu gendut itu, kan? Wah, sekarang kau sudah jadi dokter. Kau tinggi, kurus, dan tampan lagi," puji Andara seraya meringis menunjukkan senyum manisnya.


“Ternyata kau masih ingat aku. Kau ini kenapa, sih, selalu saja sial seperti ini. Dari kau kecil sampai zaman kita sekolah dulu juga kau sering sial seperti ini. Bahkan dulu kau pernah digigit ular, kau masih ingat kan?" tukas pria tampan itu seraya mengusap kepala Andara.


"Hahaha … iya aku ingat. Duh, aku jadi malu nih kenapa kau masih ingat hal-hal sial begitu.” Andara sampai tersipu malu kala berhadapan dengan cinta monyetnya kala masih di bangku SD dan SMP itu


"Memang kau selalu seperti itu, kan?" Dimas mencengkeram lembut bahu Andara.


"Hehe, bukannya selalu sial, Mas. Tapi aku selalu ada di dalam kondisi dan waktu yang tak tepat," jawab Andara berkilah lalu tertawa.


"Ah, kau bisa aja. Aku cek kondisi mu dulu, ya,” ucap Dimas seraya memeriksa kondisi gadis itu.


Sahid yang terbaring di sofa tiba-tiba terbangun dan langsung menatap ke hadapannya. Sosok Dimas yang bercengkrama hangat dengan Andara membuatnya terusik. Kedua orang itu terlihat akrab satu sama lain. Sahid baru kali itu melihat Andara tertawa lepas dengan riangnya. Tawa yang makin membuat paras ayu itu semakin cantik.


"Apa kau tak tahu kalau sedang ada migrasi ubur-ubur di pantai? Kenapa kau malah mendekat, dasar gadis sial. Pasti kau mau cari squidward terus diajak foto bareng, ya?" Dimas mencoba berkelakar.


"Hahaha, bisa aja kamu. Sekalian saja aku cari spongebob, ya?" ucap Andara menimpali.


"Aku minta maaf ya, aku baru tahu soal keluarga kamu dari temen kita dulu. Semasa SMA hidup dengan bibimu saja pasti sangat berat. Berarti saat aku pindah, kau kehilangan orang tuamu, ya?" tanya Dimas.


Andara mengangguk.


"Tapi kau tak usah khawatir, Mas. Bibi Mina menjagaku dengan baik. Andara yang kamu kenal tetaplah gadis yang kuat dan selalu tabah serta ceria dalam menghadapi apa pun," ucap Andara.

__ADS_1


Sahid sengaja menyenggol gelas di atas meja sampai jatuh ke lantai agar mengganggu percakapan Dimas dan Andara. Saat keduanya menoleh, ia berpura-pura sibuk dengan layar ponselnya padahal indera pendengaran miliknya menajam untuk mencuri dengar pembicaraan dua orang tersebut.


"Saya panggil petugas kebersihan dulu," ucap seorang suster saat melihat air yang mengenang di lantai. Sahid menggangguk menanggapi.


“Oke kalau begitu, ini krim hidrokortison dioles ke bagian kaki yang masih memerah ini, ya,” ucap Dimas seraya mengoleskan krim tersebut pada kaki Andara.


Ada sesuatu yang menganggu pikiran Sahid kala melihat adegan itu. Pria itu langsung bangkit dan melangkah mendekati ranjang gadis itu. Dia menepis tangan Dimas.


“Biar saya saja yang oles!” seru Sahid meraih krim dalam kemasan tube dari tangan Dimas.


Andara menatap tak percaya akan adegan barusan.


"Jangan, tak usah. Biar saya saja, Tuan…." Dimas menoleh pada Sahid.


"Sahid."


“Ini, siapanya kamu?” tanya Dimas.


“Ini, Bos aku. Bos Bibi Mina juga,” lirih Andara.


Sementara itu, Sahid masih diam tak peduli. Pria itu hanya fokus pada luka di kaki gadis itu.


“Bos kamu? Wah, baik banget ya mau mengurus dan merawat karyawannya seperti ini. Ummm... sepertinya kalau aku jadi bos buat kamu pasti aku akan bersikap yang sama. Aku akan merawat anak buah ku yang cantik ini," ucap Dimas.


Sahid hanya melirik dan menatap tajam ke arah Dimas.


"Okay, okay, kalau begitu saya pamit dulu. Dara, nanti ada beberapa obat tambahan untuk kamu minum, ya. Aku harap kamu cepat pulih dan segera pulang. Oh ya, Dara ... boleh saya minta nomor telepon kamu?” tanya Dimas.


“Tidak usah! Tidak boleh!” suara Sahid terdengar lantang dan jelas melarang.

__ADS_1


“Lho, kok tidak boleh? Kenapa? Terserah aku kan mau kasih nomor telepon ke siapa pun," sahut Andara.


Si ketua gangster itu menoleh pada Andara dengan tatapan tajam kembali.


“Oke, kalau begitu tidak boleh. Maaf ya, Dimas, nanti aja ya kita ngobrol lagi,” bisik gadis itu.


"Oke, aku pamit dulu, ya. Lekas sembuh!" Dimas hendak mengusap kepala Andara tetapi Sahid buru-buru menepis tangan pria itu.


Dimas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil lalu pamit dari ruangan tersebut bersama suster pendampingnya.


"Apa kau senang bertemu dengan dokter itu?" tanya Sahid.


"Tentu saja senang. Dia itu pria paling tampan di desa ku dulu meskipun dia agak gemuk. Dia cinta monyetku, Tuan Muda. Aku tuh pernah su—"


"Kenapa?" potong Sahid.


“Nggak kenapa-kenapa. Eh, Tuan Muda, kenapa tidak pulang ke hotel saja, kenapa masih di sini, sih?” tanya Andara.


“Kenapa memangnya? Kau tak suka? Oh, aku tahu maksudmu sekarang. Kau mau usir aku supaya bisa bertemu dengan dokter itu, kan?” hardik Sahid dengan nada ketus.


“Lho, kok jadi nuduh yang bukan-bukan, sih!”


“Saya mau di sini saja, apa tak boleh?” tantang Sahid.


“Boleh, sih, boleh banget. Hanya saja …."


...*****...


...To be continued. ...

__ADS_1


__ADS_2