Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 27. Jebakan Sandara


__ADS_3

Bab 27 TCSM


Pada hari Minggu yang telah dijanjikan itu, Sahid terlihat senang ketika dia bisa menemui keluarga Andara yang lainnya. Sandara sejak pagi sudah bersiap untuk mengambil alih tubuh Andara.


Nyonya Anjani mengetuk pintu kamar cucunya kala itu.


"Ada apa, Nek?" tanya Sahid.


"Kau yakin akan pergi tanpa Nenek?" tanyanya seraya merapikan kemeja biru dengan motif garis vertikal putih yang Sahid kenakan.


"Aku akan membawa keluarganya ke sini untuk menemui Nenek. Jadi, sebaiknya nanti Nenek menyiapkan jamuan makan malam saja," ucap Sahid.


Ada senyum kebahagiaan yang terlukis di wajah tampan itu.


"Ini cinta pertamamu, ya? Kau bahagia sekali." Nyonya Anjani tersenyum merekah.


"Benarkah aku terlihat sebahagia itu?" Wajah Sahid langsung bersemu merona.


"Jelas sekali, Nak. Persis seperti kau mendapat mainan kesukaanmu dulu. Tapi wajah bahagia ini pernah menghilang saat ayah dan ibu mu tiada."


Nyonya Anjani berusaha membendung bulir bening di mata rentanya yang sudah terlihat berkaca-kaca.


Sahid memeluk sang nenek dengan erat.


"Terima kasih sudah merestui kami," ucap Sahid.

__ADS_1


"Nenek hanya ingin kau bahagia. Nenek tak peduli siapapun orangnya. Tapi, sepertinya Sandara gadis yang baik. Nenek suka dengannya," sahut Nenek Anjani menimpali.


Di luar kamar Sahid, Sandara sempat mendengarkan perbincangan Sahid dan neneknya. Ada perasaan sedih dan rasa bersalah yang menghinggap karena gadis itu sebenarnya sudah menyayangi Nenek Anjani. Namun, rasa dendam yang sudah membuncah membuatnya bertekad untuk mengakhiri hidup Sahid. Karena bagi gadis itu hutang nyawa harus dibalas nyawa.


Sahid dan Sandara pamit pada Nyonya Anjani. Namun, selepas keduanya pergi, Nyonya Anjani terkejut dengan pengakuan Bibi Mina. Pasalnya, dia membicarakan pada Bibi Mina tentang villa di mana Sandara ingin mengajak bertemu dengan pamannya, dan Bibi Mina tidak pernah tahu akan tempat itu.


Timbul kecurigaan dan rasa khawatir pada diri wanita paruh baya itu. Sontak saja, wanita paruh baya itu meminta Jhony mengikuti mobil Sahid secara diam-diam. Dia ingin Jhony menjaga Sahid jika ada sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


...***...


"Aku senang kalau hari ini hanya kita berdua tanpa pengawal pribadi," ucap Sandara saat berada di dalam mobil yang dikendarai oleh Sahid.


Gadis itu berhasil meyakinkan pria itu agar tak membawa pengawal karena ingin berduaan saja di villa. Hal itu sontak saja membuat Sahid merasa girang tak terkira.


Tak berapa lama kemudian, mereka melintasi beberapa mobil polisi karena ada kendaraan yang terjatuh ke dalam jurang di tepi jalan menanjak itu. Sandara sampai menitikkan air mata karena teringat dengan kecelakaan yang menimpa keluarganya.


"Ada apa denganmu?" tanya Sahid.


"Aku hanya teringat ada orang jahat yang membuat satu keluarga juga mengalami hal yang sama. Mereka tewas karena jatuh ke jurang sama seperti itu," ucapnya menahan kegeraman.


"Iyakah? Wah, sedih sekali rasanya mendengar itu. Maafkan aku karena sudah membuatmu jadi sedih," ucap Sahid yang sempat melambatkan laju mobilnya.


'Tenang saja, sebentar lagi dendamku akan terbalas. Kau akan merasakan kematian yang sama seperti yang pernah aku dapatkan,' batin Sandara.


Gadis itu berusaha untuk tak menatap ke wajah Sahid. Saat itu, dia harusnya senang karena hari yang dia nantikan akan tiba. Dia merasa telah berhasil menculik dan membawa pria itu ke sebuah villa di atas bukit dekat dengan laut, milik Paman Andre.

__ADS_1


Sesampainya di villa yang telah disiapkan tersebut, Paman Andre dan Ari sudah menunggu di ruang tamu. Ternyata saat Sandara membawa Sahid masuk ke dalam villa, sang paman telah bersiap menyambut mereka seraya menodongkan pistol di tangannya ke arah Sahid.


"Astaga, Sandara! Jadi, apa yang dikatakan Ari selama ini benar. Kau hidup lagi, Sandara?" Paman Andre sangat terperanjat melihat kehadiran gadis yang sangat mirip dengan keponakannya.


"Aku menyebutnya keajaiban, Paman." Sandara tersenyum sinis.


“Kau, bukankah kau orang yang bekerja sama dengan The Dog?” tuding Sahid.


Rupanya pria itu mengenali Paman Andre. Ia menoleh pada Sandara yang tengah mengubah raut wajahnya menjadi tegas dan memancarkan aura kebencian.


“Apa-apan ini, Sayang? Kenapa dia memanggilmu Sandara?” tanya Sahid.


"Halo, Tuan Muda. Perkenalkan namaku Sandara Mahardika," ucap Sandara seraya mendekat pada Ari dan Paman Andre.


“Sayang? Wah, kau sudah menjadikannya kekasihmu rupanya," puji Paman Andre berdecak kagum.


"Tenang, Paman, itu hanya gurauan! Dia hanya pria bodoh yang sedang mabuk cinta," tukas Sandara.


"Hebat, Sandara! Kau bahkan berhasil membuat pria ini memanggilmu sayang dan bertekuk lutut,” ucap Paman Andre.


Ari hanya bisa mengamati dengan saksama. Dia benar-benar tak mengerti kenapa ayahnya jadi tampak bengis begini. Apalagi Sandara juga tampak licik. Dia bukan gadis lugu dan baik hati seperti yang pernah dia kenal dulu.


...*****...


...To be continued. ...

__ADS_1


__ADS_2