Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 39. Pernikahan


__ADS_3

Bab 39 TCSM


"Huh, dasar gadis bodoh! Kau belum tau apa-apa tentang kejamnya dunia ini!" pekik Andre.


Umpatan dan makian pria itu tak lagi Andara pedulikan. Sahid mengangkat tangan kanannya memberi perintah pada Jhony. Kurungan besi itu terbuka di bagian bawah dan mulai turun ke dalam air. Paman Andre sempat terjatuh di kerumunan para hiu. Namun, dia masih bisa bertahan dengan berpegang pada besi kerangkeng. Kedua kakinya putus dan hancur karena tebasan gigi hiu besar. Jhony mengangkat besi kerangkeng Paman Andre. Pria itu diselamatkan.


"Apa kita harus sekejam itu?" lirih Andara tak kuasa menahan bulir bening di pipinya.


"Apa kau menyesal melakukan ini?" tanya Sahid.


"Ummmmm, aku memang ingin membunuhnya. Tapi, melihat dia seperti itu bukankah menunjukkan kalau kau…."


"Aku pria yang jahat, begitu?" tanya Sahid.


Andara menggangguk lemah.


"Dia memang pantas seperti itu."


Kemudian, dengan diiringi teriakan dan rintihan kesakitan dari Paman Andre setelah mendapat serangan dari para hiu, Sahid langsung melamar Andara. Pria itu berlutut di hadapan gadis itu seraya mengarahkan kotak perhiasan beludru warna merah berisi cincin berlian.


"Will you marry me?" tanya Sahid.


"Kalau aku menolak, apa aku akan dihabisi seperti tadi?" tanya Andara.


"Jadi, kau berniat menolakku?" Sahid menatap Andara tajam.

__ADS_1


"Tidak tidak, bukan seperti itu! Oke oke, aku mau, aku mau menikah denganmu!" teriak Andara penuh keyakinan dengan penuh kebahagiaan.


Sahid langsung memeluk dan mengecup bibir Andara. Mereka berpagut dengan mesra. Sahid juga menggendong gadis tersebut seraya berputar-putar.


"Kita pergi cari pakaian pengantin, yuk!" ajak Sahid.


"Oke." Andara mengangguk tanpa ragu.


Keduanya lantas melangkah meninggalkan penangkaran hiu yang warna airnya masih terlihat merah. Sahid meminta Jhony untuk membawa Paman Andre ke rumah sakit. Pria itu akan tetap hidup dalam pengawasan The Black Cat.


Di dalam mobil Sahid saat Andara hendak meraih uang receh untuk pengamen jalanan, ia melihat sebuah gelang rantai dengan bandul kupu-kupu.


"Dari mana kau dapatkan gelang ini?"


"Oh ... gelang itu milik Sandara. Dia bilang aku harus memberikannya padamu. Dan sekarang aku akan mengembalikannya," jawab sahid seraya menyerahkan gelang cantik itu pada Andara.


"Ini milik Sandara rupanya, cantik sekali," ucap Andara.


Senyuman di wajah Sahid terlukis sangat berwarna. Pria itu sangat manis di mata Andara. Gadis itu masih mengamati sosok pria di sampingnya. Ia tak menyangka kalau takdir membuat mereka akan bersatu.


"Untungnya kakakku belum sempat membunuhmu, ya," ucap Andara dengan perasaan lega.


"Lalu, kau masih ingin menggantikannya dengan membunuhku begitu?" tanya Sahid.


"Iya, aku ingin membunuhmu," sahut Andara.

__ADS_1


Sahid sampai menepikan kendaraannya lalu menatap Andara dengan tajam.


"Kau bilang apa?" tanya Sahid.


"Iya, aku ingin sekali membunuhmu. Tapi… membunuhmu dengan cintaku, eyaaakkk!"


Sahid dan Andara sontak saja saling melempar tawa bahagia mereka kala itu.


...***...


Tiga malam sebelum acara pernikahan, di rumah besar Keluarga Khan selalu terdengar kemeriahan dari nyanyian pemujaan dan makanan khas negara India untuk para tamu yang hadir.


Andara sebenarnya sangat merasa lelah dengan hal ini. Akan tetapi, ia berusaha untuk menghormati Nyonya Anjani karena wanita itu sangat terlihat bahagia. Di malam sebelum pernikahan itu, Andara tahu kalau Sahid berusaha mencuri pandang padanya. Namun, dia tak dapat bergerak menghampiri karena para kerabat selalu mengajak serta pria itu untuk menari dan menyanyi.


Nyonya Anjani tersenyum bangga sambil menikmati manisan yang disediakan. Andara yang terlalu lelah sampai ia kabur di tengah acara dan masuk ke ruang kerja milik Sahid. Gadis itu langsung berbaring di atas sofa.


"Capek banget rasanya. Duh, rasanya aku mau kabur saja. Ummm ... sebaiknya aku tidur saja di sini," gumam Andara.


Ia terlelap tanpa sadar saking lelahnya. Namun, tak hanya gadis itu yang kabur dari pesta malam sebelum pernikahan, Sahid juga kabur dan masuk ke ruang kerjanya. Napasnya terasa lega setelah beberapa kali para kawan sebaya neneknya mencubit pipinya dengan gemas. Mereka takjub dengan ketampanan milik Sahid.


"Lho? Rupanya dia juga lelah sampai pulas begini," gumam Sahid kala melihat Andara sudah pulas dengan mulut menganga.


Sontak saja dengan usianya Sahid menangkap gambar lucu sosok Andara.


Karena tak tega membangunkan gadis itu, Sahid memutuskan untuk duduk di sofa juga. Ia mengangkat kepala gadis itu agar tidur di atas pahanya. Mereka terlelap bersama akhirnya sampai pagi menjelang.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2