
Bab 8 TCSM
Sahid kemudian menoleh ke pada Sandara.
“Apa yang kau dengar barusan, cukuplah simpan dalam hati dan jangan pernah kau tanyakan! Apalagi sampai berani mengatakan pada nenekku!" ancam Sahid.
"Iya iya, aku tahu," sungut gadis itu.
"Siapa yang suruh kau bicara, hah?!" Sahid menggertak.
"Iya, maaf."
"Diam!"
Sahid menatap tajam pada Sandara dan memberikan kaleng soda yang sudah remuk ke tangan mungil gadis itu dengan kasar.
Sandara menahan diri dengan perlakuan Sahid. Padahal sedari tadi dia ingin melempar kaleng soda itu ke arah pria menyebalkan tersebut.
"Ayo, ikut aku!" ajak Sahid.
Sandara hanya menatap pria itu tajam.
"Apa kau tak dengar ayo ikut aku!" serunya.
Sandara segera bergegas mengikuti.
"Kenapa diam saja?" tanya Sahid saat masuk ke dalam mobil itu.
Sandara tak lagi cerewet seperti biasanya.
"Tadi aku disuruh diam sama Tuan, kan?" Sandara berlagak polos menahan kesalnya.
"Haiiish, ya sudah diam saja lah!"
__ADS_1
Sahid membawa gadis itu ke sebuah tempat perjudian.
"Bos, kenapa Anda bawa dia ke sini?" bisik Jhony.
"Sudah biarkan saja! Aku ingin tahu bagaimana polosnya gadis desa jika dibawa ke tempat seperti ini," sahut Sahid.
Namun, Sahid salah sangka. Sandara bukan gadis cupu yang dia kira. Bahkan Sandara mahir bermain biliard. Akan tetapi, gadis itu menolak minuman keras dan rokok.
"Apa kau tahu kalau tuanmu itu penyuka sesama jenis?" tanya salah satu wanita penghibur di tempat judi itu.
"Hah? Dia "gay"?"
"Yup! Dia tak pernah tertarik ke padaku atau ke perempuan manapun yang ada di sini. Tapi aku heran juga kenapa kau perempuan pertama yang dia bawa ke sini, ya?" Perempuan rambut pirang itu lantas menyodori Sandara lintingan berisi daun canabis.
"Tidak, terima kasih."
Tiba-tiba, terdengar kepungan beberapa orang bersenjata. Kembali lagi terjadi baku hantam. Sahid segera menarik Sandara agar bersembunyi dan masuk ke dalam mobilnya. Namun, lagi-lagi tubuh Andara tak kuasa menerima Sandara. Gadis itu tak sadarkan diri kemudian.
...***...
"Lain kali jangan merepotkan seperti itu!" keluh Sahid.
Pria itu duduk di sofa dalam ruang perawatan VVIP tempat Andara terbaring. Gadis itu tak mengerti apa yang sedang Sahid bicarakan.
"Bos, kau harus lihat ini!" Jhony masuk ke dalam ruangan Andara lalu menyalakan televisi dan menonton berita terkini.
"Insiden baku tembak di sebuah gudang terbengkalai, menewaskan empat orang. Gudang tersebut ternyata digunakan untuk dijadikan arena perjudian dan casino. Diduga ada keterlibatan pejabat setempat yang memiliki area perjudian ilegal tersebut."
Sahid dan Jhony menyimak perkataan reporter dalam layar tersebut.
"Suara tembakan meletus pada Sabtu lima belas Januari malam hari waktu setempat. Polisi mengatakan, saat itu ada sekitar lima belas orang yang sedang bermain judi kartu dan dadu. Ketika penembakan berhenti, empat orang ditemukan tewas dan tiga lainnya cedera, kata polisi. Hal itu adalah penembakan massal kedua di kota tersebut dalam dua bulan terakhir," tuturnya.
Sahid mematikan layar televisi di ruang tersebut.
__ADS_1
"Apa itu serangan The Dog?" tanya Sahid.
"Betul, Bos. Tapi tenang saja, polisi akan mengatakan kalau motif penembakan itu belum jelas, dan para penyelidik akan mengesampingkan aktivitas geng. Mereka akan mengulur waktu pada media tentang berita tersebut apa tentang perselisihan judi atau perampokan yang ada di balik penembakan itu," jelas Jhony.
"Lalu, bagaimana tersangkanya? Apa ada yang ditemukan?" tanya Sahid.
"Tidak ada tersangka yang diidentifikasi, katanya," ucap Jhony menambahkan.
Dia sudah menyuap polisi agar mengatakan tidak ada bukti penembakan itu terkait dengan perselisihan antara geng The Black Cat atau The Dog. Bahkan Tanaka memanfaatkan keadaan politik yang tengah memanas. Dia menggiring opini untuk menuduh para pejabat telah mendorong lonjakan kekerasan senjata di tahun ini.
"Okay, kalau begitu aku akan pulang. Kau bawa dia pulang jika dokter sudah membolehkannya pulang," ucap Sahid menunjuk Andara.
Gadis itu hanya menggaruk kepalanya meski tak gatal. Dia benar-benar bingung akan apa yang dikatakan Sahid.
...****...
Satu bulan berlalu. Sandara belum bisa menemukan kesempatan untuk menghabisi Sahid. Bahkan kini, Andara tahu keberadaan Sandara di sekitarnya. Awalnya gadis itu takut, tetapi melihat paras yang sama persis dengannya itu, sukses membuat Andara penasaran.
"Hari ini, aku pinjam tubuhmu lagi," ucap Sandara.
"Nggak mau! Aku terlalu letih hari ini," tukas Andara.
"Ayolah, seben–"
"ANDARA!"
Teriakan sang Tuan Muda selalu menggema menyebutkan nama gadis itu untuk segera menghampiri.
"Oke, aku datang!" Andara melihat peluang emas untuk meninggalkan Sandara di kamar. Ia berlari mendekat dan tersenyum dengan riang.
"Buatkan aku teh!" titah Sahid.
"Baik, Tuan Muda."
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...