
Bab 12 TCSM
Sesampainya di kantor, terlihat enam orang wanita berpakaian minim yang memperlihatkan lekuk tubuh nan seksi. Mereka sedang berpose memamerkan produk-produk yang berkaitan dengan dunia otomotif merek dagang perusahaan Sahid.
"Pegang ini," ucap Johny dia menyerahkan alat kejut listrik pada Sandara ketika mereka mengikuti langkah Sahid.
"Kau harus menjaga diri dengan ini," ucapnya.
"Kenapa bukan senjata saja, aku bisa menggunakannya," tutur Sandara.
"Heh, kau ini! Jangan mulai berulah. Nanti aku ajari kau main senjata, tapi belum sekarang. Simpan itu dulu!" tutur Jhony.
"Okey dokey, Tuan Jhony," sahut Sandara yang lalu melihat ke arah para model.
“Wuih, mereka seksi sekali,” gumam Sandara sampai melihat ke area bukit kembarnya sendiri yang kalah besar dari para model tersebut.
Jhony melirik ke arah milik Sandara dan menahan tawanya.
"Apa kau liat-liat?" tantang Sandara.
Sahid menoleh ke arah Sandara dan Jhony yang tampak akrab. Tahu kalau mereka sedang diperhatikan, Jhony meminta Sandara untuk diam.
“Tuan Sahid, bagaimana dengan para model baru kita? Besar-besar, kan?” tanya salah satu pegawai yang gemulai menghampiri Sahid.
“Apanya yang besar?” celetuk Sandara.
“Ah, kamu ini main celetuk saja! Sudah diam jangan ikut campur!” sahut Pak Jhony.
Sandara hanya membalas dengan memajukan bibirnya beberapa senti.
“Aku pikir bagus. Sudah sana lanjutkan sesi pemotretannya!” perintah Sahid.
“Maksud saya begini, Tuan. Apakah ada salah satu wanita itu yang membuat Anda tertarik, apalagi nanti malam Anda harus hadir di pertemuan bulanan para pejabat The Black Cat?” tanya Tuan Alfredo berusaha menahan Sahid.
Namun, si tuan muda itu tetap melangkah menuju ruang kerjanya.
“Saya akan tetap hadir, kenapa harus membawa wanita?” tukasnya seraya membuka pintu.
“Tidakkah Anda ingat dengan kicauan Bos Harry?”
“Tentang gosip murahan itu? Saya tak peduli!” ketus Sahid.
Brak!
Hampir saja daun pintu itu membentur hidung lancip milik Tuan Alfredo. Sandara dan Jhony yang berada di belakang pria itu langsung tertawa kecil.
__ADS_1
“Apa yang kau tertawakan?” hardik Tuan Alfredo lalu pergi meninggalkan gadis itu.
"Huh, menyebalkan sekali!" sungut Sandara.
...***...
Satu jam kemudian, pemilik perusahaan Dev Company hadir di kantor Sahid. Dia menunggu bersama seorang wanita bernama Rani, wanita keturunan India. Darah keturunan negara yang sama dengan Sahid dan Nyonya Anjani.
Rani datang bersama Dev. Pria gemulai itu sedang mencari model gadis belia untuk dijadikan bintang iklan produk skincare terbarunya yang dikhususkan untuk kaum remaja. Dia akan bekerja sama dengan perusahaan milik Sahid menggunakan mobil sport keluaran terbaru.
"Selamat datang Tuan Dev, senang akhirnya bisa bekerja sama dengan Anda," sapa Tuan Sahid menjabat tangan Dev.
"Terima kasih, Tuan Sahid. Saya juga senang bekerja sama dengan Anda," jawabnya seraya memberi kecupan di kedua pipi Sahid.
Sandara dan Tuan Jhony sempat saling menatap. Mereka memiliki pemikiran yang sama yaitu mulai percaya kalau Sahid merupakan pria penyuka sesama jenis.
Tuan Dev juga memperkenalkan Rani pada Sahid. Lalu kemudian, pandangan wanita itu mengarah pada sosok gadis yang berdiri di belakang Sahid dan berada di samping Jhony.
"Wah, dia sempurna. Dia benar- benar wajah baru yang pas untuk produk terbaru nanti," ucap Rani saat melihat Sandara.
"Bagaimana kalau kita minta dia untuk mencobanya?" tanya pria gemulai itu pada adiknya.
"Aku setuju, Kak, masukkan dia!" Rani menunjuk ke arah Sandara yang masih tak mengerti.
Pria gemulai itu menunjuk pengumuman di layar ponselnya. Di sana tertera jelas pencarian model gadis belia untuk produk skincare terbarunya.
Sahid langsung tertawa dengan ide yang menurutnya konyol barusan.
"Kenapa Anda malah tertawa, Tuan Sahid?" tanya Rani menatap pria di hadapannya itu kini dengan pandangan sinis.
"Ya, habisnya kau lucu. Bagaimana mungkin gadis seperti ini bisa menjadi model? Ini konyol sekali hahahaa," sahut Sahid masih menertawakan ide konyol itu.
"Hei—"
Jhony langsung menahan Sandara agar bersikap tenang. Pria itu juga menatap tajam ke arah Sahid agar bersikap tenang di hadapan para rekan bisnis tersebut.
"Baiklah, aku akan mendaftar jadi model kalian," ucap Sandara dengan yakin.
"Nah, kalau begitu, ayo kita mulai bisnis kita nanti setelah itu dia aku ikut sertakan menjadi model untuk produk iklan terbaruku," ucap Rani yang tersenyum hangat kala melihat Sandara.
Wajah belia, cantik mempesona, dan terlihat polos itu merupakan figur baru yang cocok untuk produk skincare terbarunya nanti.
"Baiklah, buat gadis ini mau melakukan pemotretan!" ujar Rani memaksa Sandara.
Setelah melihat Sandara melakukan pemotretan untuk Tuan Dev dan Nona Rani, Sahid pergi ke ruangan yang sudah disiapkan untuknya. Aneka makanan dan kopi sudah disiapkan, tetapi bukan yang sesuai dengan yang dia mau.
__ADS_1
"Saya akan membelikan kopi dan kue yang Anda mau, Tuan Sahid," ucap Jhony.
"Harusnya kau tau seleraku karena kau cukup lama kan bekerja denganku," ujar Sahid dengan sinis.
"Tapi saya masih belum paham dengan kepribadian Tuan terutama masalah cinta," sahut Jhony terkekeh.
"Tuan Jhony!" pekik Sahid.
"Maafkan saya." Jhony lalu pamit undur diri untuk mencari kopi kesukaan Sahid.
Tak lama kemudian, Sandara masuk ke ruangan tersebut. Sahid sedang duduk di sofa dengan mata terpejam. Gadis itu mendekat ke pria tersebut dan memandangnya lebih dekat.
'Kalau sedang seperti ini, hmmm ... sebenarnya dia tampan juga,' batin Sandara.
Sandara makin mendekat. Kini, jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. Mendadak kemudian, Sahid membuka mata. Sontak saja kedua mata mereka langsung saling berbalas.
"Apa yang mau kau lakukan? Kau mau menggodaku, ya? Atau kau mau berbuat kurang ajar kepadaku?" tanya Sahid seraya menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya
"Hissh, kau membuatku mual. Terlalu percaya diri sekali tuan muda ini," cibir Sandara.
"Memang banyak yang seperti itu, kok. Mereka berusaha menggodaku," ucap Sahid penuh kenarsisan.
"Mereka?" Sandara mengernyit.
"Iya, para model itu."
"Oh... jadi begitu. Ummm... apa mungkin Tuan mau digoda, ya?"
Timbul rasa usil pada diri Sandara untuk menggoda Tuan Muda nya. Gadis itu maju beberapa langkah mendekat ke arah pria itu. Dia duduk di pangkuan Sahid. Kedua tangan Sandara lantas mengunci pria itu.
"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Sahid mulai salah tingkah.
"Aku mau menggodamu."
Kedua tangan Sandara kini mendarat di bahu Sahid. Wajah gadis itu mulai mendekat. Sahid segera menutup bibirnya dengan kedua tangannya. Tiba-tiba dia merasa takut jika Dara akan nekat menciumnya di ruangan itu.
Gadis itu menurunkan kedua tangan Sahid dari bibirnya dengan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya mulai berpindah ke pipi pria itu. Kini, tangan gadis itu memajukan wajah si pria mendekat ke wajahnya.
Deg.
Detak jantung Sahid berdetak lebih kencang. Jantungnya terasa ingin melompat keluar dari rongga dadanya kala wajah gadis itu makin mendekat. Kedua ujung hidung mereka sudah bertemu. Sandara sebenarnya berusaha menahan tawanya karena ingin mengerjai Tuan Muda yang terlihat pasrah itu. Tiba-tiba, Sandara jatuh tak sadarkan diri. Lagi-lagi tubuh Andara tak kuat menerima kehadiran Sandara di tubuhnya.
...*****...
...To be continued ...
__ADS_1