
Bab 25 TCSM
Keesokan harinya tepat pukul tujuh malam setelah Andara dinyatakan pulih oleh Dimas, gadis itu diperbolehkan pulang. Tadinya sang dokter ingin memeluk gadis itu sebagai salam perpisahan, akan tetapi Sahid langsung melerai keduanya.
"Sudah tidak usah pakai pelukan. Memalukan saja!" cibir Sahid.
"Apa-apaan sih pria ini," keluh Dimas.
"Dadah Dimas, aku pulang dulu ya. Nanti kita ketemu lagi!" Andara melambai pada Dimas.
Sahid langsung menurunkan tangan gadis itu seraya menatap tajam. Andara menunduk.
"Aku pinjam tubuhmu karena aku yakin dia ingin aku membawa mobilnya," bisik Sandara. Andara mengangguk.
"Mana kunci mobilnya?" tanya Sandara.
“Kau duduk saja di sana. Biar aku saja yang bawa mobil, kamu duduk dengan tenang!”
Bagai mendengar petir di siang bolong saat Sandara mendengar ucapan si Tuan Gangster itu. Bagaimana mungkin pria penguasa itu menawarkan dirinya untuk menyetir, sementara dia duduk tenang di samping kursi pria itu di dalam mobil?
Sandara masih tak juga habis pikir saat menatap wajah pria itu. Keheningan tercipta kala Sahid melajukan mobil jaguarnya. Sandara juga jadi bingung dengan suasana kikuk kala itu.
Tiba-tiba saat di perjalanan, pandangan mata gadis itu tertuju ke arah pameran pasar malam yang diadakan di sebuah lapangan dekat Pantai Pasir Putih.
“Kau mau ke sana?” tanya Sahid.
Tanpa mendengar jawaban gadis itu, ia langsung mengarahkan mobil itu ke tempat parkir pasar malam tersebut.
"Kau yakin, Tuan Muda?" tanya Sandara.
"Maksudmu?" Sahid mengernyit saat turun dari mobil.
__ADS_1
"Kau mau ke tempat seperti ini?"
"Memangnya kenapa?" Sahid lantas melangkah menuju tempat penjualan tiket masuk terusan untuk menikmati beberapa permainan juga.
Sandara masih saja memasang muka jutek saat bersama Sahid. Namun, gadis itu tak menyangka bisa juga melihat tawa di wajah Tuan gangster itu saat menikmati beberapa permainan.
“Ini, makan dulu!” pinta Sahid.
“Tidak mau, ah!" sahut Sandara.
“Aku mau makan sate kerang ini, jadi kamu cicipi dulu. Kau lupa tugasmu, ya? Nanti kalau aku keracunan, bagaimana?” tukas Sahid.
"Cih!" umpat Sandara dalam hati.
Dengan wajah kesal Sandara meraih sate kerang tersebut dan memakannya. Begitu seterusnya setiap Sahid ingin membeli makanan, harus gadis itu dulu yang mencicipinya. Pria itu sengaja ingin membuat Sandara kenyang dan menikmati kuliner di pameran tersebut.
Saat kembang api berlangsung, Sahid menarik lengan Sandara menuju ke atas bukit. Ternyata beberapa pasangan yang sedang memadu kasih sudah berada di sana. Ingin rasanya Sandara mendorong Sahid dari tepi tebing. Namun, banyak saksi mata yang nanti akan melihat perbuatannya.
"Wah, cantiknya!" seru Sandara.
Suasana meriah seperti ini sangat dia rindukan. Dulu Sandrina selalu ingin melihat pesta kembang api bersamanya.
"Ya, cantik sekali," lirih Sahid menatap ke wajah Sandara dengan lekat.
Pria itu lantas menarik lengan gadis itu sampai tubuhnya berada tepat di hadapannya. Di bawah sinar rembulan malam itu, kedua tangan pria itu menyentuh kedua pipi si gadis, lalu membawa bibir gadis itu berpagut dengan miliknya.
Anehnya, Sandara tak bisa mengelak, bahkan ia membiarkan bibir pria itu menempel cukup lama. Sahid melepasnya, lalu ia tersenyum memandang wajah Sandara dan berucap,
“Aku menyukaimu.”
Deg!
__ADS_1
'Lepaskan, Sandara! Kau harus melepasnya!'
Sandara memaki dalam hati tetapi tak kuasa melawan. Sahid akhirnya melepas pagutan bibir milik Sandara. Dia menatap lekat wajah gadis di hadapannya sambil menangkup wajahnya.
“Sejak saat ini, kau milikku! Jangan membantah!” tegas Sahid berucap penuh keyakinan.
Pria itu lalu menggenggam tangan Sandara menuju ke mobil dan bergegas pulang.
"Hah? Apa aku yang terlalu bodoh apa bagaimana ini? Kenapa dia tak bertanya padaku apa aku suka apa tidak dengannya, tau-tau langsung ditandain bibirnyabdan diancam seperti ini,” keluh Sandara yang masih menurut saat Sahid mempersilakan masuk.
Tak ada tanggapan dari Sahid. Hanya senyum mengembang terlukis di wajahnya. Pria itu lalu melajukan mobilnya.
“Kutegaskan sekali lagi, aku tak mau ya kalau ada kata penolakan! Apalagi ini kali pertama aku menyatakan cinta pada seorang perempuan,” sahut pria itu yang masih fokus menyetir dan tak mau menatap Sandara.
“Hah? Baru pertama kali menyatakan cinta pada perempuan? Jadi, sebelumnya pernah menyatakan cinta pada yang bukan perempuan, gitu?” tanya gadis itu.
“Kau ini–"
“Oke, oke, maafkan aku."
Gadis itu meringis menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi pada Sahid.
"Mulai saat ini kau milikku!" tegas Sahid.
Hati Sandara bimbang tetapi dia merasakan kesenangan. Namun, hatinya kembali gundah kala mengingat maksud dan tujuan dia mendekati Sahid.
'Baiklah, jika kau memang benar-benar menyukaiku, maka akan aku manfaatkan kesempatan ini. Aku akan membuatmu hancur, Sahid.'
Ada senyum sinis yang terlukis di wajah cantik itu kala membatin. Dia menoleh menatapi pepohonan yang seolah berjalan mundur dari jendela mobil tersebut.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...