Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 29. Musuh Tak Terduga


__ADS_3

Bab 29 TCSM


"Tentu, itu sangat lucu." Tuan Tanaka kembali menghisap cerutunya.


Sandara menatap tajam ke arah Ari. Bola mata itu bagaikan hendak keluar dari rongga matanya. Rasa sesak dan selalu tak tertahan. Begitu juga dengan Ari yang tak menyangka kalau ayahnya akan sekeji itu.


"Aku pun sebenarnya tak menyangka kalau dia kembali dan selamat dari kecelakaan mobil kakak tiriku itu. Setahuku dia sudah mati," sahut Andre.


"Tapi, anakmu itu juga percaya dengan mudahnya. Aku tak sangka," sahut Tanaka.


"Hmmm, ya sudah kubuatkan saja kebohongan tentang Sahid si pembunuh keluarga Mahardika. Ibarat sekali dayung dua tiga pula terlampaui, ya kan?”


“Hahaha, dasar licik! Tapi aku suka bekerja sama dengan pria sepertimu,” ucap Tanaka yang kemudian menyerahkan satu batang cerutu pada Andre.


“Nah, kalau begitu kau harus segera menyiapkan uang imbalanku.” Andre menerima cerutu tersebut lalu tersenyum menyeringai.


"Pastinya, Andre. Kau tenang saja. Aku akan berikan padamu nanti malam. Aku juga akan membuat pesta untuk merayakan keberhasilanmu kali ini." Tanaka tersenyum puas.


"Wah, ide yang bagus, Bos!" seru Andre.


"Sekali lagi aku ucapkan selamat untukmu, akhirnya kau bisa menguasai harta keluargamu yang berada di tangan Sandi Mahardika.”


“Hahaha terima kasih, Bos Tanaka. Kau lekaslah pergi, nanti keponakanku keburu datang!” ucap Paman Andre memberi perintah pada pemimpin gangster The Dog itu.


“Oke, baiklah. Kita akan bertemu lagi nanti malam di bar milikku.”


Laki-laki bernama Tanaka itu menuju ke arah mobil Mercedes Benz hitam yang terparkir di halaman villa. Paman Andre terlihat mengantarnya. Sementara itu, Sandara dengan sigap bersembunyi ke belakang rumah sebelum ketauan bersama Ari. Betapa terkejutnya ia saat mencuri dengar pembicaraan sang paman dan Bos Tanaka tentang konspirasi pembunuhan keluarganya.


Dia tak menyangka kalau sang paman sebenarnya ingin membunuh semua keluarga Mahardika untuk merebut semua harta keluarganya. Mungkin inilah alasan Sandara kembali untuk mendengar kebenaran ini semua sebelum dia kembali tenang ke alamnya.

__ADS_1


Begitu juga dengan Ari yang tak menyangka kalau ayahnya sangat licik dan muncul ide untuk menjebak Sandara agar mau membunuh kepala gangster The Black Cat yang baru.


Parahnya lagi ayahnya juga mendapat uang dari pihak musuh The Black Cat yaitu Gangster The Dog. Ayahnya bahkan berpikir jika Sandara atau Andara ini tak berhasil melakukan misinya, toh gadis itu akan mati dan membuatnya mendapatkan harta warisan milik Mahardika.


Sandara tak menyangka kalau paman terbaik yang ia miliki, dia percaya, dan ia hormati bisa melakukan tindakan sekejam itu. Gadis itu meringkuk memeluk lututnya kala berada di persembunyiannya.


Tangisan Sandara pecah kala ia menyadari telah kehilangan Sahid, yang harus ia akui kalau ia juga jatuh cinta pada pria itu.


Penipuan yang direncanakan Paman Andre benar-benar tak ia duga sebelumnya. Gadis itu rasanya ingin menembakkan semua peluru dalam revolver itu pada pamannya, tetapi ia tak bisa.


“Aku harus bangkit demi membalaskan dendamku,” gumam Sandara seraya bangkit tetapi Ari menahannya.


"Bersikaplah untuk pura-pura tidak tahu," pinta Ari.


"Tapi, Ri—"


"Nanti kita pikirkan lagi cara untuk membuka kejahatan ayahku pada keluargamu," ucap Ari.


Hari itu juga Sandara pulang bersama Paman Andre menggunakan mobil sedan warna metalik menuju rumah pria itu.


“Sandara, Ari, apa kalian baik-baik saja?” tanya Paman Andre sambil menyetir.


“Iya, aku baik-baik saja,” jawabnya.


Sementara Ari mengangguk. Gadis itu hanya bisa menatap pohon-pohon di tepi jalan yang seolah-olah berjalan mundur itu.


“Apa kau menembak Sahid?” tanya Paman Andre seraya menyalakan musik klasik di radio mobil.


“Ya, lalu ia jatuh ke laut," jawab Sandara.

__ADS_1


“Bravo! Bagus sekali, ia pasti tak akan selamat di laut lepas itu bahkan mungkin ia bisa dimangsa oleh hiu." Tawa puas pria itu makin membuat Sandara geram.


Gadis itu hanya bisa mengepalkan tangan seraya memilin ujung kaus yang ia kenakan dan menahan tangis meskipun kedua matanya sudah terlihat berkaca-kaca. Sandara meraih selembar tisu yang berada di dashboard mobil.


“Sepertinya ada sesuatu yang masuk ke mataku,” ucap gadis itu mencoba berbohong.


“Apa perlu kita membeli obat tetes mata?” tanya Paman Andre.


“Tak usah, Paman.”


"Lalu, apa kau mau kembali ke rumah keluarga Khan?" tanya Paman Andre.


"Sebaiknya jangan dulu, Yah. Keluarga Khan pasti akan curiga dan menanyakan keberadaan Sahid pada Sandara," sahut Ari.


Tiba-tiba, Sandara tak sadarkan diri. Arwahnya sudah berada di sisi Ari.


"Dia pasti sangat lelah. Nanti kalau dia sudah sadar, kau jelaskan semua padanya, Ri," ucap Sandara.


"Baik," sahut Ari.


"Gadis ini kenapa?" tanya Andre yang melihat Andara tak sadarkan diri.


"Biarkan dia istirahat, Yah," titah Ari.


Pria itu mengangguk lalu lalu bersenandung sambil fokus menyetir menuju pulang.


Sandara menahan kuat kegeraman yang ingin membuncah agar terbendung dalam ketenangan yang dia coba ciptakan. Dalam hati dia mengutuk dirinya sendiri karena begitu bodohnya percaya dengan pria yang duduk di kursi kemudi itu.


...*****...

__ADS_1


...To be continued ...


__ADS_2