
Bab 41 TCSM
Sahid hanya terdiam tak bergeming, tak juga berkata apa pun. Aka tetapi hal itu malah membuat andara jadi lebih takut. Ia teringat dulu pasti pria itu akan memarahinya habis-habisan jika tidak menurut.
"Sini, aku keringkan. Tadi aku hanya bercanda," ucap Andara.
Gadis itu akhirnya beranjak mendekati suaminya dan mengeringkan rambut pria itu.
"Pijat kepala aku juga, ya!" pinta Sahid.
"Baiklah, suamiku Tuan Gangster ku yang tampan."
Kepala pria itu direbahkan ke arah tubuh bagian depan miliknya. Ia memijat kepala Sahid dengan memutar tangannya. Pria itu merasakan di kepala bagian belakang ada di dua gundukan milik Andara, tetapi ia begitu menikmati pijatan tangan dari istrinya itu. Pening di kepalanya mendadak berkurang.
"Sudah hentikan! Sana mandi dulu!" Sahid mulai tak fokus. Dia malah memikirkan hal liar yang lain.
"Apa kau yakin mau menyudahi ini? Ya sudah kalau begitu aku mandi dulu," ucap Andara.
Gadis itu lalu melangkah ke dalam kamar mandi. Sementara itu Sahid bangkit dan memilih pakaian ganti di depan lemari pakaian miliknya. Handuk yang melilit di tubuhnya itu ia lepas dan ia letakkan di atas kursi depan cermin.
Andara yang terlupa belum mengambil handuk, ia keluar dari kamar mandi begitu tiba-tiba. Penampakan sosok polos Sahid tanpa sehelai benang pun menutupi langsung membuatnya tersentak.
"Aaaaaaaaa!" pekik Andara.
Pria itu malah buru-buru membekap mulut gadis itu.
"Kenapa kau teriak, nanti nenek bisa ke mari!" bisik Sahid.
Sandara benar-benar merasa gemetar, detak jantungnya berdetak lebih kencang apalagi bokong pria itu terlihat menyeluruh di cermin dalam kamar. Roti sobeknya begitu menggoda. Sahid membuka bekapan tangannya di mulut gadis itu.
"Jangan bersuara sedikit pun," ucap Sahid.
__ADS_1
"A-aku, aku mau ambil handuk," lirih Andara.
"Ini handukmu!" Sahid mengambilkan handuk istrinya dan memberikannya pada gadis itu.
"Kau itu benar-benar ya–"
"Kenapa? Apa baru kali ini ya kau lihat pria se seksi aku?" Sahid sampai bertolak pinggang penuh percaya diri di hadapan gadis itu.
Sahid dengan bangga memperlihatkan tubuh tegap nan atletis itu. Perut kotak-kotak terpampang nyata di hadapan Andara yang tanpa sadar mengangguk. Bibir gadis itu kelu tanpa bisa berkata lagi. Sampai Sahid menyentak gadis itu dengan jentikan jari.
"Sampai kapan kau akan memandangi aku seperti itu?" tanya Sahid menggoda sang istri.
Wajah gadis itu merona menahan malu. Ia harus sadar kalau cairan saliva di mulutnya itu hampir keluar karena bibirnya menganga sedari tadi.
"Mandi sana, bersihkan otak mesummu itu!" Sahid mengetuk kepala Andara berkali-kali. Lalu pria itu menuju lemari pakaian.
"Tapi, memangnya tak boleh apa kalau istri mesum pada suaminya?" Andara mengeluh.
Sahid mengetuk pintu kamar mandi, gadis itu hanya memakai balutan handuk saat membuka pintu kamar mandi itu. Jantungnya juga berdegup kencang saat melihat tubuh molek Andara hanya terlilit handuk warna merah jambu.
Pria itu tak bergeming, ia masih menatap ke arah tubuh sang istri yang ada di hadapannya itu. Bagai singa lapar yang siap menerjang mangsanya, Sahid bergerak maju untuk memangsa Andara.
Tiba-tiba, terdengar suara ketukan saat Sahid bersiap menyantap sang istri. Nyonya Anjani datang menghampiri lalu memberikan teh herbal yang sudah dicampur dengan obat perangsang di dalamnya. Ia meminta Andara untuk minum. Gadis itu hanya menggunakan kamerjas kala menyambut kedatangan sang nenek.
"Dara, ini Nenek ada hadiah buat kamu." Nyonya Anjani menyerahkan kotak besar warna merah muda.
"Apa ini, Nek?" tanya Sandara.
"Bukalah!"
Setelah Andara membuka tutup kotaknya, ia sangat terperanjat kala melihat isi dalam kotak itu. Sehelai lingerie warna merah muda terlihat menggelikan untuk gadis itu.
__ADS_1
"Ini apa, Nek?"
"Ganti bajumu dengan ini! Pakai ini sekarang!" titahnya.
"Nenek, kenapa sih harus seperti ini?" tanya Sandara tak mengerti.
"Kamu harus selalu tampil cantik di depan cucuku! Nah, sekarang minum teh herbal ini untuk menenangkan pikiran kamu. Biar tidurmu lebih nyenyak juga," ujarnya.
'Bagaimana bisa aku tidur nyenyak jika aku harus menggunakan pakaian minim bahan seperti ini, duh…' batin Andara.
Gadis itu menerima cangkir terebut.
"Ini minum dulu!" Nyonya Anjani memastikan kalau gadis itu akan menghabiskan teh buatannya.
"Sudah habis, Nek. Terima kasih, ya."
"Baiklah ganti baju dulu sana!"
"Harus sekarang, Nek?" tanya Andara.
"Iya harus! Nenek baru bisa keluar dari kamar ini setelah memastikan baju ini kamu pakai!" serunya penuh ancaman.
"Oke, oke, nih aku pakai!" sahut Andara.
Gadis itu meraih pakaian tidur minim bahan tadi lalu menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Sahid gantian keluar dari dalam kamar mandi. Dia juga mengenakan kamerjas yang senada warnanya dengan milik Andara.
Andara lalu keluar dari kamar mandi berusaha untuk menutupi belahan rendah di bagian dada gadis itu dengan kain penutup luarannya. Sahid sampai menatap tak percaya dan tak berkedip melihat penampakan istrinya yang sekarang.
*****
To be continued
__ADS_1