Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 26. Rencana Mulai Matang


__ADS_3

Bab 26 TCSM


Sejak malam itu setelah mendapat ciuman dari Sahid, hatinya Sandara merasa tak karuan. Namun, Andara sontak saja marah-marah.


"Harusnya aku yang diberi ciuman oleh Tuan Muda, bukan kau!" seru Andara di dalam kamar itu.


"Halah! Kenapa kau jadi marah? Itu bibirmu, kan? Itu tubuhmu, tau!" sungut Sandara.


"Iya juga, sih. Tapi tetap saja kau yang merasakannya. Huh, menyebalkan!" Andara melempar Sandara dengan buku novel romantis tetapi tak kena.


Ketukan di pintu terdengar.


"Tuan Muda mencarimu," ucap Bibi Mina kala Andara membuka pintunya.


"Benarkah? Oke, aku akan segera ke sana." Andara lantas merias diri sejenak agar tak terlihat kusam.


Dia segera menuju kamar Sahid.


"Dasar centil!" cibir Sandara.


Malam itu, Sahid mengajak Andara untuk makan malam dan menonton ke bioskop. Andara merasa perlakuan pria itu semakin manis. Dia bahkan selalu memanjakan dan siap menuruti semua keinginan gadis itu. Selama satu minggu ini setiap malam Sahid mengajaknya untuk berkencan.


Nyonya Anjani yang mengetahui hal tersebut. Dia bahkan merasa bahagia dan mendukung keduanya sampai menikah. Berkat Andara, kabar burung tentang Sahid si penyuka sesama jenis jadi terbantahkan.


Setelah tahu perasaan cinta yang dimiliki Sahid untuknya sangat besar bahkan gadis itu mampu membuat si Tuan Gangster itu menjadi budak cinta akan dirinya, Sandara malah memanfaatkan kelemahan itu untuk menjebak pria tersebut setiap dia memasuki tubuh Andara.


Biar bagaimanapun tujuannya ke rumah itu tetap ingin membunuh Sahid. Setiap kali gadis itu bersamanya, ia terus teringat akan senyuman para anggota keluarganya yang telah meninggal.

__ADS_1


Meskipun bukan si pria jangkung itu yang membunuh keluarganya secara langsung. Namun, menurut Paman Andre, kecelakaan itu dilakukan atas perintah ketua gangster The Black Cat. Kejadian yang selalu membuatnya penuh amarah dan emosi.


...***...


Malam itu di sebuah beranda restoran mahal di kota metropolitan itu, Sahid memeluk Sandara dari belakang saat dia menyusun rencana pembunuhan selanjutnya. Gadis yang sedang merenung dan berpikir perencanaan pembunuhan selanjutnya pada pria itu terkejut.


“Apa yang sedang kau pikirkan, Sayangku?” tanya Sahid.


“Hanya sedang memandang bulan,” jawab Sandara asal.


“Mana bulannya?” tanya pria itu karena cuaca sedang mendung dan bulan sabit itu tertutup awan hitam.


“Eh, tadi ada kok bulannya, ke mana ya sekarang?” Sandara malah terlihat bodoh.


Sahid tertawa seraya mencium pucuk kepala gadis itu. Tiba-tiba, Sandara teringat sesuatu mengenai rencananya dan ia berharap agar rencana itu tidak gagal lagi.


Gadis itu berbalik badan dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Tatapan mata lentiknya itu juga sengaja dibuat-buat. Wajahnya tersenyum merekah agar terlihat makin manis dan menggemaskan di mata pria itu.


“Mau berlibur ke mana?” tanya Sahid yang bersiap mendaratkan bibirnya di atas bibir gadis itu, tetapi wajah Sandara langsung menoleh ke arah lain untuk menghindar.


“Kita ke villa pamanku. Di sana ada permainan jet ski, banana boat, serta permainan air lainnya, mau ya?” pinta Sandara.


“Villa milik pamanmu? Bukannya keluargamu hanya Bibi Mina?" tanya Sahid mengernyitkan dahi.


"Oh, ada keluarga yang lain, kok. Apa Bibi Mina lupa, ya? Jadi bagaimana apa kau mau?" tanya Sandara.


"Oh begitu. Oh iya, bagaimana dengan keluargamu dulu?" tanya Sahid.

__ADS_1


Sandara merasa darahnya berdesir panas. Rasanya dia ingin mendorong Sahid jatuh dari beranda itu. Namun, dia sadar kalau tak mungkin rasanya melakukan itu.


“Keluargaku sudah meninggal karena sebuah kecelakaan,” jawab Sandara berusaha untuk tidak menitikkan air mata meski kedua matanya sudah berkaca-kaca.


“Oh, maafkan kebodohanku, aku tak tau mengenai keluargamu. Aku juga pernah berada di posisi itu saat ayah dan ibuku meninggal.”


Sahid menatap ke langit malam, lalu tersenyum seraya melambaikan kedua tangannya.


“Hai, Ayah dan Ibunya Andara, namaku Sahid. Ketahuilah kalau aku berjanji akan selalu membuat hari-hari putri kalian ini bahagia. Aku berjanji kalau aku tak akan pernah menyakitinya!”


Pria itu berseru ke arah langit malam seolah ada keluarga Sandara yang mengamati dari atas sana.


'Bagaimana dia bisa semanis ini, sih? Kenapa hatiku merasa bahagia ya saat melihat sikap manisnya ini? Duh… aku tak boleh seperti ini. Aku tak boleh membiarkan hal ini berlarut. Aku harus fokus pada tujuanku, demi membalaskan dendam keluargaku,' batin Sandara.


Gadis itu sampai mengepal kedua tangannya menahan kegeraman.


“Kapan kita pergi ke villa pamanmu?”


Pertanyaan Sahid menyadarkan gadis itu dari lamunan.


“Bagaimana kalau hari Minggu? Aku akan menghubungi dia untuk menyiapkan villa itu,” ucap Sandara.


"Terserah kau saja." Sahid mengecup lembut kedua punggung tangan milik Sandara.


Setelah pulang dari makan malam ini, Sandara akan menghubungi Ari. Dia akan meminta Ari untuk mengatakan pada Paman Andre kalau Sahid akan datang ke villa. Sandara ingin sang paman menyiapkan balas dendam untuknya. Balas dendam menghabisi Sahid.


...*****...

__ADS_1


...To be continued. ...


__ADS_2