Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 11. Andara Tahu


__ADS_3

Bab 11 TCSM


Andara hanya menggelengkan kepala berkali-kali. Raut wajahnya tampak ketakutan.


"Sudah jangan bohong! Siapa yang mengutusmu ke sini untuk membunuhku?" tanya Sahid lagi.


Pria itu menarik lengannya dari mulut Sandara. Tubuhnya masih duduk di atas perut gadis itu.


"A-aku, aku tak akan pernah berani membunuhmu," jawab Andara dengan nada terbata-bata.


"Kau pasti bohong. Kali ini aku yang akan menghabisimu!" Sahid mencekik Andara sampai gadis itu tak bisa bertahan. Padahal, Andara sedang bermimpi buruk.


Sahid mencekik Andara dan membuatnya tak bisa menghirup oksigen lagi. Gadis itu meronta dan berusaha sekuat tenaga untuk lepas. Pergulatan terjadi antara Andara dan Sahid sampai gadis itu menyerah. Tenaga pria itu jauh lebih kuat. Andara merasa tak bisa lagi mempertahankan hidupnya. Sampai akhirnya, Sandara berhasil membangunkan Andara dari mimpi buruk.


"Ah, aku sedang bermimpi rupanya. Kenapa dia sangat menakutkan ya sampai masuk ke mimpiku?" gumamnya.


Andara lalu menghela napas panjang.


"Ya Tuhan, kenapa mimpiku aneh sekali?" gumam Andara lalu meraih gelas di atas nakas.


Setelah meminum airnya sampai habis, Andara melihat sebuah bayangan. Sosok hantu Sandara tengah berdiri menatapnya.


"Aku tahu kalau kau selalu ada di sekitarku. Kau selalu menggunakan tubuhku untuk melukai Sahid, kan? Apa kau kembaranku yang sudah meninggal?" tanya Andara.


Sandara terperanjat ketika mendengar Andara mengatakannya. Rupanya selama ini Andara sudah tahu mengenai keberadaanya.


"Jadi, kau sudah tahu ya kehadiranku di sini? Andara, Sahid itu pria iblis yang kejam! Dia membunuh seluruh keluargaku. Aku tak akan membiarkan pria itu hidup!" pekik Sandara.


"Apa kau yakin dia yang menhabisimu dan keluargamu? Kau masih ingat dia melakukan itu?" tanya Andara.


"Apa kau tahu berita tentang kecelakaan keluarga Mahardhika? Dia dalang semuanya. Dia perintahkan orang untuk sabotase mobil ayahku," ucap Sandara dengan amarah dan linangan air mata.


"Oh, aku ingat berita keluarga itu. Aku juga ingat kalau melihat adikmu membeli cinderamata di tokoku."


"Iya, Sandrina juga mengatakan hal yang sama. Dia bilang bertemu gadis yang wajahnya mirip aku," ucap Sandara.

__ADS_1


Keduanya saling menatap dan tersenyum.


"Aku tak akan membiarkan mu menggunakan tubuhku untuk menghabisi nyawa siapa pun," ujar Andara.


"Hmmm, aku tak akan menghabisi nyawa siapa pun. Hanya Sahid, kok."


"Sama saja!" Andara lantas merebahkan dirinya kembali lalu terlelap.


Andara tak mau lagi mendengar ocehan Sandara.


...***...


Pagi itu, ketukan pintu itu terdengar dengan teriakan Bi Mina yang menyadarkan gadis itu. Andara terbangun lebih lambat dari sebelumnya. Dia segera berlari membuka pintu.


"Kamu baru bangun?" tanya Bi Mina.


Andara mengangguk seraya merentangkan kedua tangannya dan menguap.


"Semalam digangguin setan aku, Bi," sahut Andara seraya menoleh pada Sandara.


"Lekas rapikan dirimu! Nanti kalau Tuan Muda marah-marah, kamu bisa dipecat," ucap Bibi Mina.


Gadis itu segera pergi ke kamar mandi. Setelah kondisinya rapi, ia segera menuju ruang makan. Di sana Sahid sudah menunggu dengan wajah kesal.


Gadis itu masih takut menatap sang Tuan Muda karena kejadian kemarin. Meskipun laki-laki itu terus mencari bola mata lentik milik gadis itu, akan tetapi Andara selalu mengalihkan pandangannya.


“Sahid, jangan lupa nanti siang kau harus datang ke pertemuan kita dengan keluarga Wijaya!” titah Nyonya Anjani.


“Untuk apa?” tanya pria itu dengan nada seperti biasa ketus dan datar.


“Astaga, kau lupa ya? Usiamu sudah tiga puluh tiga tahun. Usia yang matang bagi laki-laki untuk menikah, tidakkah kau ingin membahagiakan Nenekmu ini?” tukasnya.


“Nenek mau apa, sih, mau berlian? Mau mobil bagus? Atau mau rumah yang lebih besar dari ini? Mau pulau juga bisa aku belikan, bagaimana?” tantang Sahid.


“Hartaku sudah sangat cukup. Nenek hanya mau dari kamu sekarang yaitu seorang cicit,” ucap wanita paruh baya itu sampai membuat Sahid tersedak.

__ADS_1


Pria itu mengulurkan tangannya pada Andara agar mengambilkannya segelas air, tetapi gadis itu tak paham maksud dari Sahid. Dia malah mengulurkan tangannya sampai mengenggam tangan pria itu. Sahid langsung terkejut dan langsung menghempas tangan mungil gadis itu.


“Andara, ambilkan Tuan Muda air!” bisik Bi Mina.


“Oh, minta air. Duh, bilang dong dari tadi.”


Gadis itu segera menyerahkan segelas air pada Sahid. Kedua mata mereka kini bertemu. Tatapan pria itu tajam menghunus bagai pedang yang menancap dan menyakitkan.


“Duh, kenapa sih harus melotot?” gumam Andara.


Cukup lama mereka saling menatap sampai menimbulkan suara berdeham dari Nyonya Anjani yang langsung memisahkan keduanya.


“Aku tak mau ikut jika tujuan Nenek adalah menjodohkanku,” ucap Sahid tegas.


“Kau selalu menolak perjodohan Nenek, lalu apa kau seorang penyuka pria?” tanya Nyonya Anjani secara spontan.


Semua pelayan terkejut dan menatap ke arah Sahid. Pria itu langsung membanting garpu di tangannya ke atas meja makan. Sahid lalu bangkit dengan wajah merah padam.


“Sahid tunggu! Kau selalu menolak perjodohan Nenek! Kau bahkan tak pernah punya pacar, wajar kan kalau Nenek menyangka kau seorang pria penyuka sesama jenis!” teriak Nenek Anjani, tetapi pria itu tetap berlalu tanpa menoleh sedikit pun ke arah wanita tersebut.


Sandara mengikuti langkah Sahid dengan cepat agar tak tertinggal. Pria itu meraih kunci mobil dari sang sopir lalu menyerahkan ke tangan Andara.


“Kau bisa menyetir, kan?” tanya Sahid.


“Tidak bisa, Tuan."


"Hah?" Sahid mengernyit.


"Aku pinjam tubuhmu," bisik Sandara lalu memasuki tubuh Andara tiba-tiba.


"Bisa, Tuan Muda," sahut Sandara.


“Bagus, kau sopir ku juga sekarang!”


Sandara akan mengikuti alur Sahid. Dia akan menjadi penurut merupakan cara yang tepat untuk saat ini. Gadis itu masuk ke dalam mobil lalu melajukan jaguar hitam tersebut ke kantor milik Sahid.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2