Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 42. Hadiah dari Nenek


__ADS_3

Bab 42 TCSM


Note : Bijak dalam membaca, jomblo dan belum cukup umur menjauh, ya.


...****************...


"Nah, seperti ini dong. Dulu waktu Nenek muda, kakeknya Sahid paling suka kalau liat Nenek pakai baju dinas seperti ini hehehe," ucap Nenek Anjani. Di sampingnya.


Sementara itu, Sahid masih mematung dan terperanjat melihat kemolekan tubuh Andara.


"Baju dinas? Memangnya ada petugas instansi pemerintah memakai baju dinas seperti ini?" tanya Andara dengan polosnya karena sungguh tak mengerti.


"Bukan baju dinas yang itu, Dara. Baju itu baju dinas khusus istri yang bekerja pada suaminya. Sudah ya Nenek mau pamit tidur dulu. Selamat tidur para cucu Nenek. Jangan lupa berjuang demi calon cicit Nenek. Jika tidak ada kabar baik setelah ini, aku akan gantung kalian!" ucap Nyonya Anjani seraya menepuk kedua bahu gadis itu berkali-kali dan menatap tajam pada Sahid.


Andara hanya mengangguk lemah mengiyakan.


'Kenapa ancaman wanita paruh baya itu terdengar lebih menakutkan dari berhadapan dengan Sahid ya? Ucapanya juga meyakinkan.' Batin Andara.


Bibi Mina tiba dengan membawa segelas jamu kuat dan menyerahkannya pada Nyonya Anjani.


"Oh iya, ada satu lagi dari Bibi Mina. Terima kasihya, Bi." Nyonya Anjani lalu menyerahkan gelas itu pada Sahid menyentak pria itu setelah bengong cukup lama.


"Apa ini, Nek?" tanya Sahid.


"Penambah stamina agar kau tetap sehat, karena Nenek mulai khawatir kau terlalu sibuk. Nanti kau bisa lupa untuk menjaga kesehatan," ucapnya berbohong padahal jamu itu merupakan jamu kuat buatan Bibi Minam


"Ini kan jamu." Sahid tak tahan menghirup aroma jamu di gelas itu.


"Lalu, kau mau Nenek beri wine, begitu? Ayo, diminum habiskan! Jangan biarkan Nenek sia-sia membuatnya!" tegas Nyonya Anjani.

__ADS_1


Sahid hanya bisa menghela napas panjang lalu akhirnya pasrah meminum jamu itu sampai habis.


"Sudah aku habiskan. Terima kasih, Nek." Sahid menyerahkan gelas itu pada Bibi Mina.


"Duh, pintarnya cucu Nenek. Nah, sekarang kalian bisa bekerja dengan baik." Nyonya Anjani dan Bibi Mina pamit meninggalkan Sahid dan Sandara yang hanya saling tatap.


...***...


Sementara itu di dalam kamar, Sahid duduk di sofa dan masih sibuk dengan layar ponselnya karena Jhony memberi kabar tentang ulah gangster baru di kota itu. Andara tiba-tiba mengerang dan menggeliat di atas ranjang sampai membuat pria itu tersentak. Gadis itu bangkit dan duduk di atas ranjang tersebut memandangi Sahid.


"Kau merasa tidak kalau kamar ini panas sekali, apa AC di kamar ini sudah dalam keadaan dingin maksimal?" tanya andara seraya mengibaskan tangannya di depan wajah.


"Sudah paling dingin ini. Kau kenapa memangnya?" tukas Sahid.


"Panas banget, Sayang ... Aku merasa tubuhku sangat gerah tau!"


Andara bangkit berdiri sampai tak sadar ia memperlihatkan lingerie pemberian nenek tadi. Sahid menelan cairan saliva di tenggorokannya yang makin terasa berat kala melihat Andara berjalan mondar-mandir. Gadis itu sampai akhirnya membuka cardigan lingerie dan membiarkannya tergeletak di lantai.


Suara ponsel milik Sahid lalu berdering.


"Ya, Nek?" tanya Sahid.


"Pelajari video yang Nenek kirim!" tukas Nyonya Anjani dari dalam ponsel.


Sambungan ponsel itu terputus kemudian.


Sebuah video dikirimkan oleh sang nenek. Andara mendekat dan melihat ponsel Sahid tanpa malu-malu. Gadis itu terlihat seperti lepas kendali tidak seperti biasanya.


"Kau mabuk, ya?" tanya Sahid.

__ADS_1


"Aku tak mabuk, Nenek malah memberi aku teh tadi. Setelah itu aku merasakan kepanasan dan entahlah ini terasa berbeda," jawab andara.


"Astaga! Nenek bahkan menyuruhku minum jamu, mungkinkah dia memberikan kita obat atau semacam jamu kuat?"


Andara tak sadar meletakkan tangannya di paha Sahid saat melihat video yang dikirimkan sang nenek.


"Lho, ada apa ini?" Sahid mulai merasa risih dengan sentuhan tangan istrinya saat melihat ponsel miliknya. Akan tetapi sentuhan itu malah makin terasa menyenangkan.


******* demi ******* yang terdengar dari dalam ponsel Sahid ditambah teriakan sang wanita pada layar ponsel itu membuat Andara dan Sahid saling menatap.


"Jadi, inikah yang Nenek mau dari kita?" tanya Sahid.


"Ayo, kita coba saja, hehehe!" Andara meringis.


Tangan gadis itu meraih tangan kanan sang pria dan membawa tangan kekar itu untuk menyentuh tubuhnya, di situlah pertahanan sang pria mulai runtuh.


Sahid memeluk tubuh sang istri dan menyesapkan gairah demi gairah yang ia alirkan ke tubuh Andara. Pria itu akhirnya membopong tubuh istrinya ke atas ranjang. Gadis itu masih menelisik dan mengamati layar ponsel.


"Kita coba cara yang ini, ya?" bisik Andara dengan manja.


"Biarkan naluriku yang akan menuntunmu menuju kebahagiaan kita malam ini," bisik Sahid.


Malam itu, detik demi detik suara jam dinding terdengar lebih kencang dari biasanya. Kedua pasangan suami istri yang dimabuk asmara itu saling mendesah dan berusaha untuk belajar bagaimana pertama kalinya mereka harus menikmati.


Waktu terus berlalu, para manusia di sekitar rumah besar itu juga mulai terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Hanya Sahid dan Andara yang masih sibuk menikmati malam itu dengan kegiatan asmara mereka.


Kelucuan demi kelucuan terjadi di antara keduanya yang baru pertama kali melakukan. Semua spot tempat di kamar itu mereka datangi hanya untuk melakukan sensasi tersendiri seperti video yang mereka lihat kala itu.


Ditambah lagi efek jamu kuat yang diberikan Nenek Anjani benar-benar membuat keduanya harus berjuang sampai didera keletihan dan terlelap.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2