Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 33. Dia Kembali


__ADS_3

Bab 33 TCSM


Gadis itu meyakinkan diri seraya perlahan menarik pelatuk dan mengarahkan pistol itu ke samping kepalanya. Sandara sempat menahan Andara, tetapi tekad gadis itu sudah bulat. Andara sempat membayangkan wajah para keluarganya dan juga wajah tampan Sahid seraya memejamkan kedua mata.


"Sandara, sebentar lagi aku akan menemui mu. Kau tunggulah aku, nanti kita balas dendam si Andre dan Tanaka terkutuk itu," ucap Andara.


Tangan kanan gadis itu mulai perlahan-lahan ingin menarik pelatuk pistol tersebut. Kedua matanya sudah terpejam dan bersiap menjemput kematiannya. Sandara juga menutup mata karena tak tega. Tiba-tiba, pintu ruangan tempat Andara disekap terbuka dengan paksa.


Brak!


Seseorang mendobrak pintu ruangan tempat Andara disekap. Dobrakan pintu yang sangat kencang itu mengejutkan Andara yang sudah bersiap menarik pelatuk senjata apa di tangannya.


“Tuan Sahid! Lho kok, Anda sudah datang menjemputku? Aku kan belum membunuh diriku sendiri. Kok, bisa-bisanya kau sudah hadir di hadapanku, apa kau sedang menjemputku seperti malaikat kematian?” tanya Andara begitu polosnya karena mengira Sahid sudah meninggal.


Sandara juga melongo dengan mulut terbuka. Ia tak menyangka kalau Sahid akan datang menjemput Andara. Namun, sosok pria itu ternyata tak dapat melihat kehadirannya.


“Heh, dasar gadis bodoh! Letakkan pistol itu atau sebaiknya kau gunakan untuk melawan para The Dog!” seru Sahid membentak Andara.


“Ta-tapi, bukankah kau….”


“Aku masih hidup, nanti kuceritakan semuanya. Sekarang, lekas kita pergi dari sini!” ajak Sahid yang mengulurkan tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih memegang senjata api berjenis colt dengan sikap siaga.

__ADS_1


“Aaaaa … aku mencintaimu, Tuan Muda!” pekik Andara yang langsung menghamburkan tubuhnya memeluk pria yang baru saja ia bayangkan wajahnya tadi.


“Aku tahu itu. Aku tahu kau pasti akan mencintaiku, karena tak akan ada wanita di dunia ini yang bisa menolakku,” ucap Sahid dengan nada angkuh dan narsisnya.


“Cih, sombong sekali pria ini. Tapi aku suka juga," ucap Sandara.


Andara terlihat sangat bahagia di pelukan Sahid sampai ia menepuk dada Sahid berkali-kali dengan gemas. Keduanya saling bertatapan. Dengan penuh semangat, Andara bahkan sengaja memajukan ujung bibirnya untuk mencium bibir Sahid kala itu. Kedua mata lentiknya juga sudah terpejam.


"Haruskah kalian melakukan ini di hadapan aku? Haishh, menyebalkan sekali!" keluh Sanndara.


Namun, seketika adegan romantis yang dia inginkan buyar kala Jhony datang menyela.


“Tuan, bisakah Anda lebih cepat!” seru Jhony yang masih membabi buta melayangkan isi peluru ke arah lawan.


Suara tembakan yang saling bersahutan itu malah terdengar seperti iringan musik yang mengalun di telinga Andara. Gadis itu dengan mantapnya menggenggam tangan Sahid. Senyum mengembang jelas terlukis di wajah cantiknya. Tak ada rasa takut mendengar hujanan tembakan dari segala arah. Rasa bahagia sudah membuncah di hati gadis cantik kala itu.


Berada di dalam pelukan lelaki itu seraya memandang wajah ketua gangster saat ia dilindungi dari serangan musuh itu, sangat membuatnya makin bahagia. Gadis itu yakin inilah pria yang akan ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya kelak.


Sandara juga tak pernah menyangka kalau pria yang pernah ingin dia bunuh itu, malah membuatnya merasakan jatuh cinta juga. Harus Sandara akui kalau dia juga suka dengan Sahid.


Sahid terus berteriak membentak Andara agar fokus dan menembak ke arah musuh. Namun, gadis itu malah merasa mendengar Sahid sedang mengucapkan kata-kata cinta.

__ADS_1


“Sandara! Apa kau dengar aku memanggilmu dari tadi!" bentak Sahid yang memukul pelan kepala Sandara dengan ujung pistol.


"Awww, sakit tau!" keluh gadis itu.


"Makanya kau harus fokus! Arahkan pistol di tanganmu pada musuh!” bentak Sahid menyadarkan Andara dari lamunan nakalnya yang sesaat.


“Musuh yang mana, anak buah Tuan Muda dan anak buah Bos Tanaka tadi terlihat tampak sama, kan?” tanya Andara mulai panik.


“Anak buahku memakai pin bergambar kucing hitam!” seru Sahid seraya menembak.


“Oh, aku paham baiklah.” Andara mengangguk yakin.


Akan tetapi, gadis itu selalu saja hampir terkena terjangan peluru. Sandara jadi tak sabaran. Ia segera memasuki tubuh Andara kala itu. Sahid melepaskan genggamannya dari Sandara. Dia mempercayakan gadis itu untuk menggunakan senjata. Sandara lalu mencoba mengarahkan senapannya pada musuh. Akan tetapi, karena baru kali pertama menggunakan senjata api tersebut, kedua tangannya terdorong seiring tubuhnya yang mundur beberapa langkah.


“Hei, kau mau membunuhku, ya?” Jhony berteriak marah-marah ke arah Sandara. Dia hampir saja terkena peluru nyasar dari gadis itu.


“Ups! Duh, maafkan aku, Pak Jhony!” jawab Sandara yang menjawabnya dengan berteriak.


“Lepaskan gadis itu! Dia milikku!” seru Tanaka.


Pria yang tiba-tiba muncul itu meraih lengan Sandara dan membawanya pergi ke luar bangunan bar tersebut.

__ADS_1


...*****...


...To be continued...


__ADS_2