
Bab 31 TCSM
"Kak, jika kau berani keluar dan menghentikan aktivitas kita ini, aku pastikan keluargamu hancur memalukan. Pikirkan itu!" Andre meremas bahu sang kakak sebelum akhirnya dia masuk ke dalam ruangan kamar untuknya.
Tuan Sandi jadi terpaksa mengikuti anjuran adiknya untuk terus ikut menjalankan bisnis obat-obat terlarang. Dia juga memiliki kaki tangan yang bernama Dean. Seorang pria berusia empat puluh tahun yang sudah dia jadikan kepercayaan selama dua puluh tahun bersama.
"Tuan, saham Mahardika Furniture terus naik," ucap Dean seraya menunjukkan tablet layar sentuh pada atasanya.
"Harusnya dengan hasil seperti ini sudah bisa mencukupi hidup keluargaku. Aku ingin berhenti dari kegiatan haram ini, Dean," tuturnya.
"Tapi, Tuan ... berhadapan dengan anggota kelompok gangster The Black Cat dan The Dog bukanlah perkara mudah. Lagipula Anda akan diusulkan menjadi walikota. Anda pasti butuh biaya banyak untuk kampanye dan suap-menyuap," ucap Dean.
"Hahaha, otakmu itu memang selalu diisi dengan tindakan culas dan kecurangan lainnya."
"Karena aku suka uang, Tuan. Berbuat culas memang selalu memberi untung banyak untukku," sahut Dean penuh percaya diri.
Tuan Sandi Mahardika bukannya tak takut menjalankan bisnis ilegal tersebut karena tentu saja hewan-hewan itu pasti dilindungi oleh undang-undang negara. Namun, semenjak istrinya hamil anak ketiga dia sudah bertekad mengakhiri bisnis tersebut dan tak ingin terlibat lebih jauh lagi. Apalagi barusan Bernard mengatakan produk perusahaan miliknya sudah mulai laris manis di pasaran.
"Tuan, klien kita dari Austria sudah tiba," ucap Dean.
Sandi menganggukkan kepalanya. Lalu, pria itu menuju ke sebuah ruang pertemuan untuk menemui si pembeli yang disebut klien. Sesampainya di ruangan itu, ternyata Andre sudah berbincang seraya menikmati Domaine du Vissoux di gelas white wine di tangannya.
__ADS_1
"Nah, itu kakakku sudah datang!" seru Andre menyambut kedatangan Sandi.
Sandi langsung memerintahkan Dean untuk meletakkan sebuah peti berukuran cukup besar di atas meja. Meja berbahan batu tebal itu tepat berada di hadapan para pria tersebut. Seorang pria yang disebut dengan klien dengan tubuh pendek dan perut buncit akan melihat barang yang ada di dalam peti tersebut.
Sandi lalu memerintahkan Dean untuk membuka peti tersebut. Si pria yang bernama Tuan Mike Stoner itu tampak tersenyum simpul melihat sebuah gading gajah yang langsung menarik minatnya.
"Hmmm … aku suka ini. Baiklah kalau begitu lima puluh ribu dolar!" ucapnya menawar harga gading tersebut.
Sandi menoleh pada Andre yang langsung menganggukkan kepalanya mengiyakan.
"Oke, baiklah. Aku terima penawaran Anda," sahut Sandi sambil menyodorkan tangannya menyambut tangan pria itu dan berjabat tangan tanda tercapainya kesepakatan tersebut. Ia lalu memerintahkan kepada Andre untuk memberikan sebuah koper berisikan uang yang diminta.
Sebenarnya, Sandi tidak pernah menerima uang dalam bentuk kontan, karena tentu saja hal itu bisa menjadi bumerang baginya jika sewaktu-waktu terjadi masalah yang tak diinginkan.
Lalu pria yang disebut klien itu merogoh sakunya dan memberikan sebuah cek yang bertuliskan nominal yang sudah disepakati bersama. Dia juga membubuhkan tanda tangan nama pria tersebut pria itu lalu pergi. Berkali-kali Sandi selalu membicarakan untuk berhenti dari bisnis haram tersebut. Sampai dia nekat menjauh dan akan membawa semua keluarganya pergi dari kota itu.
Namun, Andre yang mulai dekat dengan Bos Tanaka mengatur strategi. Mereka akan menjadikan The Black Cat sebagai kambing hitam dalam menciptakan kecelakaan sabotase yang akan menimpa keluarga Mahardika.
...***...
Saat perjalanan pulang ke rumah Paman Andre.
__ADS_1
"Tante, pergilah dari rumah ini! Paman Andre tak pantas untuk dicintai olehmu," pinta Sandara pada Tante Malika.
"Aku akan pergi bersama Ari dan Tuan Dean, tapi tidak saat ini. Aku harus mencari surat rumah ini dan surat tanah milik ayahku," ucap Tante Malika.
"Jadi, Tante akan tetap bertahan?" tanya Sandara.
"Untuk sementara ini iya, Dara. Tante harap kau sebaiknya berhati-hati dengan Andre. Dia berhasil membuatmu membunuh Sahid karena perintah The Dog untuk menguasai wilayah ini. Maka, Tante yakin dia juga akan membunuhmu," ucap Malika.
"Kenapa Ibu baru bilang tentang keburukan ayah?" tanya Ari.
"Maaf, Nak. Ibu hanya ingin kau punya figur ayah yang baik dan sempurna. Namun pada akhirnya, ibu salah. Sebaiknya-baiknya kita menutupi bangkai pasti akan tercium juga," ucap Tante Malika seraya menunduk dan menitikkan air mata.
Sandara menggenggam tangan Tante Malika dan menguatkannya. Keduanya saling berpelukan lalu berpisah. Sandara kembali ke dalam rumah yang disiapkan untuknya dari Paman Andre. Pria itu bilang Sandara harus bersembunyi di rumah itu sementara waktu dari kejaran anak buah The Black Cat.
Setelah satu minggu mengikuti Paman Andre, Sandara akhirnya memutuskan untuk nekat membunuh pamannya. Ia sudah muak dan tak tahan lagi. Dia juga meminta maaf pada Andara. Mungkin setelah dia berhasil membunuh pamannya, maka Sandara akan terbebas dan kembali ke alam baka.
Namun sayangnya, Sandara merupakan gadis ceroboh dan pendendam tetapi tak pandai membuat strategi. Ia akan berusaha menjebak sang paman. Gadis itu berusaha membuat rencana yang matang. Sandara juga tak mengatakan pada Ari tentang rencananya menghabisi ayah pemuda itu.
Sandara mengintai gerak-gerik sang paman selama satu minggu belakangan. pria yang tadinya ia hormati itu suka berselingkuh di belakang sang istri ketika Sandara mencoba membuntuti Paman Andre saat menuju tempat gangster The Dog.
"Sial, aku tak menyangka kalau Paman Andre benar-benar pria berengsek!" gumam Sandara penuh kegeraman selama bersembunyi dalam pengintaian.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...