
Bab 35 TCSM
Di sebuah Kedai Fast Food 24 Jam.
Saat berada di kedai makanan cepat saji yang masih buka 24 jam itu, Sahid menceritakan pada Sandara saat ia diselamatkan oleh dua orang turis ketika ia jatuh ke dalam laut.
Seminggu sebelumnya...
Setelah Sahid jatuh ke laut, dua orang turis yang suka melakukan olahraga menyelam ekstrim sedang berada di lautan lepas dekat villa kala itu. Mereka yang sedang menyelam, menolong Sahid kala melihat pria itu baru saja tenggelam. Mereka membawa Sahid ke permukaan dan membawanya menuju ke atas kapal.
“Are you okay?” tanya salah satu turis perempuan saat Sahid sadar.
“I am okay, where am I?” tanya Sahid.
“On my boat,” sahut turis pria mencoba membuka ikatan tangan Sahid dengan pemotong besi yang ia ambil dari kotak perkakas miliknya.
"Thank you. Can I borrow your phone?" tanya Sahid.
"Sure!"
Keberuntungan masih berpihak pada Sahid. Dia masih hidup karena diselamatkan oleh kedua turis tersebut. Sahid meminta bantuan kembali kepada mereka untuk menghubungi kantornya mencari Jhony.
Sesampainya ia di daratan, Jhony sudah hadir menunggu kedatangannya.
“Kau tahu di mana Sandara sekarang?” tanya Sahid lalu mengucapkan terima kasih pada penolongnya.
“Bersama Pamannya,” jawab Jhony.
“Sudah kau cari tahu latar belakang Andara dan pamannya itu?” tanya Sahid lagi.
“Sudah, Tuan. Tapi sebenarnya gadis yang ada hubungan kerabat dengan Tuan Andre bernama Sandara. Dia mirip sekali dengan Nona Andara," ucap Jhony seraya memberikan foto keluarga milik Keluarga Mahardika.
__ADS_1
"Apa mereka kembar?" tanya Sahid.
"Ya, Bos, mereka kembar. Apa kau tau dengan Nyonya Lidia yang kerap mencuri bayi di rumah sakit dan menjualnya?"
"Aku ingat wanita tua menyebalkan itu," sahut Sahid.
"Aku bertanya padanya, meski memaksa. Dia melihat buku catatan miliknya dan menculik Nona Andara. Ada daftar anak dari Mahardika. Sungguh wanita ini benar-benar licik," sahutnya.
"Sial, jadi Sandara dan Andara saudara kembar? Lalu apa orang tua mereka tahu?"
"Tuan Mahardika sudah tahu baru-baru ini. Dia bertemu Nyonya Lidia saat wanita itu mengatakan keberadaan Nona Andara dan meminta uang. Tapi, keluarga Mahardika tewas dalam kecelakaan," ucapnya.
"Apa? Si-siapa yang tewas?" Sahid menatap tak percaya.
"Semuanya, kecuali Nona Andara."
"Jadi, Sandara sudah mati, begitu?" tanya Sahid.
"Iya, Bos. Tepat seperti dugaan kita sebelumnya juga. Pamannya menjebak keluarga kakak tirinya sendiri untuk mendapatkan harta ayahnya Sandara, Tuan Sandi Mahardika.”
“Baik, Tuan Bos." Jhony mengangguk. Keduanya kembali ke kediaman Khan.
Sahid menceritakan semuanya pada Nyonya Anjani. Andara bukanlah pembunuhnya, dia hanya dijebak. Sahid juga menceritakan keluarga kandung Andara pada Bibi Mina. Jadi, Andara merupakan putri keluarga berkecukupan selama ini, anak dari Keluarga Mahardika.
...***...
“Jadi, Andara saudara kembarku?" tanya Sandara.
"Maksudmu?" Sahid menatap gadis itu dengan lekat.
Kini, gantian Sandara yang menceritakan semua tentangnya. Awalnya, Sahid tak percaya dan menertawai gadis itu. Namun, saat Sandara keluar dari tubuh Andara, gadis di hadapannya mendadak pingsan. Dan yang mengherankan lagi. Sahid bisa melihat arwah Sandara duduk di hadapannya dan sedang tersenyum.
__ADS_1
"Mungkin, keluargaku yang mengirim dua turis itu untuk menyelamatkanmu, ya?” gumam Sandara.
Sahid merasa sedih juga karena mungkin saja gadis yang selama ini dia cintai adalah sosok gadis yang sebenarnya memiliki pribadi Sandara.
"Sebentar lagi, aku akan pergi. Aku sudah mengetahui semua kebenaran ini tentang keluargaku. Sekarang, aku mohon ya, tolong jaga adikku ini," ucap Sandara seraya memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya. Dia baru sadar kalau sudah bisa menyentuh benda milik manusia.
Sahid hanya diam saja menatap Sandara.
Gadis di hadapan Sahid berkali-kali mengerlingkan kedua matanya menggoda dengan gemas. Kali ini, pria tampan yang kerap berperilaku dingin dan tegas itu tak dapat membendung air matanya yang mulai mengembang. Sahid meraih tisu dan mengusapnya.
"Kau kenapa?" tanya Sandara.
"Ada benda asing yang masuk di mataku," jawab Sahid berkilah lalu melanjutkan ucapannya, "sampai kapan Andara pingsan?"
"Ummm, sampai tubuhnya pulih. Kalau dia tak siuman juga, kau gendong saja bawa pulang," ucap Sandara terkekeh.
"Kau yakin akan pergi?" tanya Sahid.
"Aku yakin. Aku kan sudah tenang di dunia ini. Tapi, aku ingin bertemu dan memeluk Andara sebentar saat dia bangun. Oh ya, jangan lupa nanti kau balaskan dendamku pada Paman Andre, ya?"
"Pasti, Sandara."
Senang rasanya mendengar Sahid menyebutkan namanya bukan nama Andara. Gadis itu lalu bangkit dan mengikuti Sahid yang membopong tubuh Andara ke dalam mobil. Beberapa pelayan sempat mengira Sahid pria mesum yang memanfaatkan Andara yang dikira tengah mabuk. Sahid sampai harus berteriak menjelaskan kalau Andara pingsan dan mau diantar pulang agar para pelayan tidak salah paham.
...***...
Sementara itu, Andre yang sedang berkemas itu mencoba untuk kabur. Kabar terserangnya The Dog oleh kelompok The Black Cat sudah sampai ke telinganya.
Sang istri yang tak percaya dengan kelakuan suaminya itu terlihat geram. Ia tak menyangka kalau suaminya sampai tega mengorbankan Sandara. Perang adu mulut terjadi sampai pria itu tak sengaja membuat istrinya jatuh dari tangga dengan kepala menghantam lantai.
Darah bercucuran karena kepala wanita itu pecah. Ia tewas seketika dan ditinggalkan begitu saja oleh Andre. Ari yang baru pulang langsung berteriak ketika menemukan jasad ibunya tak bernyawa ketika ayahnya sudah kabur melarikan diri.
__ADS_1
...*****...
...To be continued...