Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 13. Make Over


__ADS_3

Bab 13 TCSM


"Ada apa sih dengan gadis ini?" Sahid terlihat panik. 


Entah kenapa dia malah berniat memberikan napas buatan pada Andara. Sandara malah menahan geli melihat pria itu sudah memajukan bibirnya untuk memberi napas buatan pada Andara. Sontak saja Sandara langsung memukul bahu Andara agar tersadar.


"Bbuuuahhh!"


Semburan napas Andara sampai ke wajah Sahid yang kedua matanya sudah menutup dan hampir memberikan napas buatan itu.


"Apa-apaan barusan itu? Apa yang kau lakukan?" pekik Andara.


"Heh, kau pingsan tau! Aku hanya–" 


Hardik Sahid dengan nada kesal dan tatapan sinis tetapi tampak panik dalam menjawab.


"Hanya apa? Tuan Muda mau menciumku, ya? Memangnya Tuan Muda tertarik dengan perempuan?" tanya Andara yang bangkit dan mendaratkan bokongnya di sofa.


Sandara menertawai kepolosan Andara sampai gadis itu meliriknya tajam. Tetiba saja, Andara merasa lapar. Dia meraih kue di meja dan air mineral dalam kemasan botol. 


"Jaga ucapanmu, ya! Aku masih normal tau!" pekik Sahid meraih botol air mineral dari gadis itu dan membantingnya ke lantai.


"Kenapa Tuan Muda kasar sekali, sih?!" Andara mulai bangkit dan berdiri di sudut ruangan.


"Kau benar-benar keterlaluan. Aku bukan penyuka sesama jenis! Huh, kalau bukan karena nenek yang sudah membuatmu bekerja ke padaku, sudah kuhabisi kau!"


Sahid pergi melangkah ke luar ruangan meninggalkan Andara.


"Wah, dia menakutkan juga, ya." Bulu kuduk Andara sampai meremang. Dia mengusap lengannya sendiri agar membuat tubuhnya rileks.


"Kau itu harus menjaga bicaramu," ucap Sandara yang duduk di samping Andara.


"Memangnya Apa yang terjadi?" Andara balik bertanya.


Sandara akhirnya menceritakan kegiatannya hari itu sampai membuat Andara tak percaya. Dia menjadi seorang model sungai hal yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya.


"Kalau kau sudah siap, aku pinjam lagi tubuhmu," ucap Sandara.


"Tidak, tidak, tidak! Aku mau pulang dan tidur. Tubuhku ini letih sekali," ucap Andara.


Namun, gadis itu malah terlelap di sofa.


...***...


Keesokan harinya, lagi-lagi Sandara menggunakan tubuh Andara untuk mencelakai Sahid. Sandara mencoba mensabotase jaguar milik Sahid. Dia memutuskan untuk memotong kabel rem kendaraan tersebut.


"Rasakan! Setelah ini kau akan mengalami kecelakaan lalu jatuh ke jurang. Akhirnya dendamku akan terbalas." 

__ADS_1


Sandara tersenyum puas lalu kembali ke dalam rumah. Namun saat dia hendak kembali ke dapur, sosok Sahid sudah berdiri seraya bertolak pinggang.


"Mau ke mana kau?!" bentak Sahid.


"Ha-hai, Tuan Muda! Aku mau ke dapur membantu Bibi Mina."


"Ayo, antar aku ke galeri!" Sahid menyerahkan kunci mobil ke tangan Sandara.


"Hah? Kenapa tidak setir sendiri atau sama sopir atau sama Tuan Jhony?"


Tak ada jawaban dari Sahid selain mata melotot yang seperti hendak keluar itu. Padahal Sahid sengaja ingin bepergian dengan gadis itu. 


"Oke, oke. Tapi jangan pakai mobil ini," tukas Sandara.


"Memangnya kenapa dengan mobil ini?" tanya Sahid.


"Sebaiknya dibawa ke bengkel karena... ummmm sepertinya harus diservice." Sandara jadi takut sendiri.


"Gadis yang aneh!" Sahid meraih gagang telepon lalu menghubungi staf kantor untuk menyiapkan mobil untuknya.


'Duh, gagal lagi aja rencananaku.' Batin Sandara seraya menggigit bibirnya dengan cemas.


"Ayo, antar aku pakai mobil satunya!" seru Sahid mengejutkannya.


"A-aku ganti baju dulu." Sandara masih menggunakan piyama tidur kala itu. 


"Tak usah!"


"Kau akan ikut aku menghadiri galeri temanku. Kalau kau mengubah pakaianmu seperti biasa, kau itu akan terlihat jelek! Aku akan membawamu ke butik!" titah Sahid.


Sahid melangkah lebih dulu mendahului Sandara.


"Huh, dasar pria menyebalkan! Rambut duri! Hah, sudahlah Sandara, sekarang kau gagal, besok kau susun rencana membunuhnya kembali." Sandara lalu melangkah cepat menyusul Sahid.


...***...


Sahid membawa Sandara ke sebuah butik ternama di kota metropolitan itu. Dia meminta salah satu pelayan untuk menggantikan pakaian Sandara dengan sebuah stelan jas dan rok warna abu-abu dengan motif garis vertikal. Wajah gadis itu juga ditambahi dengan riasan cantik nan elegan. Sahid sampai terkesima melihat perubahan Sandara. Namun, pria itu mencoba menahan diri dan berpura-pura cuek. Tak lupa pula Sahid membelikan sepatu heels sepuluh centi warna senada dengan stelan yang dipakai Sandara.


"Kenapa bukan warna hitam saja, sih? Lalu tambah kacamata hitam biar seolah aku seperti mafia," kata Sandara lalu terkekeh.


"Mafia dari mana? Jadi gangster saja rasanya kau tak pantas," cibir Sahid.


"Lalu, Tuan Muda sendiri jadi ketua gangster memangnya pantas?" sahut Sandara.


"Jaga ucapanmu! Ini tempat umum tau!" Sahid menatapnya tajam.


"Iya iya, maafkan aku."

__ADS_1


Sandara lantas mengikuti Sahid masuk ke dalam mobilnya. Tiga puluh menit kemudian, keduanya sampai di sebuah gedung pameran The Glory, dimana dalam gedung itu ada pameran lukisan milik perempuan cantik bernama Nona Samantha. Ternyata wanita itu merupakan cinta pertama dari Sahid yang tak pernah terungkap. Semenjak pria itu ditinggalkan, dia seolah enggan memiliki hubungan dengan gadis lain sampai Nenek Anjani termakan gosip murahan kalau Sahid penyuka sesama jenis.


"Halo, Sahid! Apa kamu sudah melihat pameran lukisan milikku yang di sudut kanan?" tanya seorang wanita dengan balutan long dress warna hitam dilengkapi furing warna ungu. Rambut hitamnya disanggul dengan tambahan sematan hair clip mutiara.


"Hai, Sam! Aku belum ke sudut sebelah sana," sahut Sahid.


"Kau harus lihat karena itu lukisan tentang kita dulu. Semua tempat yang kita pernah kunjungi ada di sana," tukas Samantha.


"Oh, begitu."


"Siapa gadis ini?" Samantha menunjuk ke arah Sandara.


"Dia, dia adalah–"


"Hai, baby!" Seorang pria tinggi dengan tubuh kekar seperti model datang memeluk Samantha dari belakang.


Pria itu memakai pakaian kemeja putih polos yang agak menerawang. Ia seperti sengaja memperlihatkan perut kotak - kotak sempurna miliknya. Sandara sampai terlena melihat pemandangan gratis itu dengan takjub. Cubitan pelan mendarat di kepala belakang pinggang gadis itu dari Sahid.


"Awww! Sakit, Tuan!" Teriakan Sandara tertahan karena tak ingin memancing keributan.


"Dasar mesum! Sampai begitu terpesonanya kau melihat tubuh Brian," bisik Sahid.


"Dia memang sempurna. Lihat tubuh atletisnya, ckckck keren parah," bisik Sandara dengan kedua mata berbinar saat mengucapkannya.


Wajahnya bersinar seperti sedang terpasang lampu tumbler yang kerlap kerlip berkilauan di bola mata gadis itu.


'Bisa - bisanya gadis ini bersikap memalukan seperti itu, cih… hanya pria sial yang akan menjadi jodohnya kelak, dan pria itu pasti sangat tersiksa menjadi pasangannya. Dan pastinya, pria itu pasti sangat bodoh.'


Sahid membatin seraya merutuki Sandara.


Sahid tertawa dalam hati seraya menatap ke arah Sandara dengan tatapan sinis.


"Sahid, kau masih ingat tunanganku Brian, kan?" tanya Samantha.


"Dia tunanganmu?" Sahid sampai mengernyitkan dahi.


Sandara sempat menangkap momen kecemburuan di wajah Sahid kala itu.


"Iya, kami akan menikah bulan depan. Senang bertemu denganmu lagi, Sahid." Brian mengulurkan tangannya ke arah Sahid.


"Ya, selamat kalau begitu." Sahid membalas uluran tangan Brian.


"Lalu, siapa gadis ini?" tanya Samantha lagi.


"Dia Sandara, kekasihku. Kami juga akan bertunangan bulan depan." Sahid merangkul pinggang Sandara.


"Hah? Kekasih?!" pekik Sandara dengan wajah heran dan tak menyangka.

__ADS_1


...*****...


...To be continued. ...


__ADS_2