
Bab 19 TCSM
Seorang dokter keluar dari ruang operasi dan menyatakan kalau kondisi Sahid sudah dalam keadaan selamat dan stabil. Pria itu lalu dipindahkan ke ruang perawatan VVIP nomor 505 di lantai lima.
"Pak Jhony, bagaimana keadaanmu?" tanya Sandara saat melihat pria itu memasuki ruangan perawatan Sahid.
"Aku tak apa-apa. Bagaimana keadaan Nona?"
"Aku juga tak apa-apa." Sandara merebahkan diri di atas sofa.
"Nona, jika nanti Nyonya Anjani menanyakan kabar Tuan Sahid, bilang saja kalau Anda dan Tuan sedang berada di luar negeri untuk pertemuan bisnis," ucap pria besar itu seraya mengecek seluruh ruangan.
"Kenapa harus berbohong? Dia kan neneknya, jadi harus tahu keadaan yang sebenernya," jawab Sandara.
"Jika Nona mengatakan kebenaran, maka Nyonya Anjani dipastikan akan terbaring di rumah sakit juga karena serangan jantung," tukas Jhony.
"Astaga! Oke baiklah aku akan merahasiakannya."
"Saya percayakan keadaan Tuan Sahid pada Nona. Saya permisi dulu untuk membereskan seluruh administrasi semuanya. Nanti saya akan kembali lagi," ucap Tuan Jhony yang mulai menyukai keberadaan Sandara di sekitar Sahid.
"Oke, aku akan menjaganya di sini."
"Nona, aku mengandalkan Anda," kata Jhony sebelum dia keluar dari ruangan tersebut.
Sandara menjawab dengan anggukan kepala. Gadis itu lalu melangkah dan duduk di kursi yang ada di samping Sahid.
"Kenapa dia terlihat lebih tampan jika tertidur pulas seperti ini, sih?" gumam Sandara.
Namun, bayangan kematian keluarganya membuat gadis itu jadi sangat ingin membunuh Sahid. Rasanya ingin dia bekap wajah tampan itu dengan bantal sampai kehabisan oksigen untuk dihirup lalu tewas. Tapi, lagi-lagi tubuhnya tak kuasa dan tak sejalan dengan perintah otaknya.
"Bagaimana mungkin pria ini tega memberi perintah untuk membunuh keluargaku?" Isak tangis mulai terdengar dari Sandara.
__ADS_1
Perlahan Sandara keluar dari tubuh Andara. Tubuh itu merasa kelelahan sampai akhirnya dan merebahkan kepalanya di atas ranjang Sahid. Andara kini malah tertidur pulas.
Sepasang mata di wajah tampan itu terbuka dan mengerjap. Mencoba menatap ke arah sekitar dan memastikan kalau dia berada di mana. Rasa sakit masih terasa berdenyut di bahunya. Sahid menyadari kalau dia sudah berada di rumah sakit. Tangan kanannya menyentuh sesuatu yang lembut dan halus. Rambut hitam legam milik Andara tepat berada di bawah telapak tangan kanannya.
"Gadis ini ... dia menyelamatkan aku," lirih Sahid seraya mengusap kepala Sandara.
Andara terdengar mengigau karena membayangkan sedang bersikap dengan Sandara. Dalam mimpinya, Andara mengejar Sandara yang pergi menjauh meninggalkannya seraya membawa Sahid di sisinya.
"Jangan tinggalkan aku!" Andara mengigau.
Sahid merasa gadis itu sangat mengkhawatirkannya kala itu dan memberi perhatian lebih padanya. Di sudut bibir yang terangkat itu mulai melukiskan senyum di wajah tampannya.
"Aku tak akan pergi, aku tak akan meninggalkanmu," lirih Sahid berucap sambil terus mengusap kepala Andara.
Ada debaran yang terasa berbeda. Detak jantungnya mulai berdenyut lebih cepat. Gadis itu mulai terpatri di pikiran dan di hatinya. Ya, pria itu mulai jatuh cinta pada gadis cantik nan ceroboh itu.
Sahid mencoba memejamkan kedua matanya kembali. Dia merasa kalau tidurnya akan lebih nyenyak. Istirahat dalam pemulihannya nanti pasti akan terasa menyenangkan mengingat Andara akan selalu ada di sisinya.
Seminggu berlalu, Sahid sudah dinyatakan sembuh dan boleh pulang dari rumah sakit. Pria itu mulai menyukai sosok Andara. Meskipun dia kerap merada bingung.
Terkadang Sahid merasa gadis itu pintar dan cepat tanggap, tetapi ketus dan menyebalkan karena dialah sosok Sandara. Tetapi, kadang pula gadis itu sangat polos dan agak lama dalam berpikir karena dialah Andara. Sahid akhirnya curiga kalau gadis itu memiliki dua kepribadian ganda.
Siang itu, Sandara yang tengah merasuk ke dalam tubuh Andara, selalu saja mengerjai gadis itu dengan memberi perintah apapun dengan tujuan agar sering bertemu dengannya baik di kantor maupun di rumah.
"Ini semua tugas kantor Anda, Tuan!" Sandara menyerahkan beberapa berkas ke meja Sahid di kamar besar itu.
Seperti biasa, Sahid sedang membelai kucing hitamnya kala itu.
"Aku lapar, aku mau bubur brokoli," pintanya.
"Tapi aku kan baru saja– baiklah. Aku akan segera kembali." Sandara menuju ke arah dapur. Dia lupa kalau dia tak bisa memasak bubur. Akhirnya, dia keluar dari tubuh gadis itu.
__ADS_1
"Masak bubur untuk tuan mudamu!" titah Sandara pada gadis itu.
"Haduh, aki merasa tubuhku letih sekali ini," sahut Andara.
Tubuhnya memang sangat lelah karena seharian ini harus bolak-balik ke kantor dan rumah besar itu. Sandara tak bisa membantah, lagi-lagi gadis itu menuruti segala titah tuan mudanya.
"Terserah! Kau mau buat apa tidak?" tanya Sandara.
"Iya iya, aku buat," sungut Andara.
Bibi Mina memperhatikan dari kejauhan. Dia mengira Andara mulai stres kaena tekanan kerja yang Sahid berikan.
***
Satu jam berlalu, Andara kembali dengan bubur brokoli di tangannya.
"Suapi aku!" pinta Sahid.
"Hah? Suapi Anda?" Andara mengernyit.
"Kau tak lihat ya tanganku sibuk bekerja memeriksa file ini?!" bentaknya.
"Baiklah, dengan senang hati," sahut Andara.
Kelakuan Sahid bahkan menimbulkan kecurigaan Nenek Anjani dan Bi Mina. Sahid menatap lekat iris cokelat nan cantik milik Andara kala menyuapinya.
Sampai ketika, gadis itu sudah tak tahan lagi untuk bersin. Sendok berisi bubur yang ada di tangannya tersembur begitu saja ke wajah tampan pria itu.
"Hatchu!"
...*****...
__ADS_1
...To be continued...