Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 20. Mulai Jatuh Hati


__ADS_3

Bab 20 TCSM


"Ma-maaf, jangan marah! Aku akan segera membersihkannya."


Andara meletakkan sendok tersebut lalu mengarah menuju ke kamar mandi. Dia meraih handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat. Lalu, dia membersihkan wajah Sahid dengan handuk itu.


Pria itu mulai membayangkan wajah cantik itu mendekat. Bibir indahnya mulai menempel dengan miliknya dan saling berpagut. Perlahan tubuh itu naik ke atas pangkuannya. Tangan Sahid mulai menyusuri lekuk tubuh milik Sandara.


Plak!


Sebuah tamparan handuk panas menyadarkan pria itu dari lamunannya.


"Kenapa Tuan Muda memejamkan mata sambil memajukan bibir seperti itu?" tanya Andara.


"Apa aku seperti itu? Kau pasti salah lihat!" Sahid mulai kikuk.


"Aku tidak salah lihat, Tuan Muda! Apa kau baik-baik saja?" Andara sampai panik dan menyentuh dahi Sahid takut pria itu mengalami demam dan mengigau.


'Bagaimana aku bisa baik - baik saja kalau kau sedekat ini?' batin Sahid meronta.


Dia menatap kembali kedua mata gadis cantik itu. Dia tak menyangka kalau baru saja dia membayangkan tengah melakukan kegiatan mesra dengan gadis itu.

__ADS_1


"Wajah Tuan Muda sudah bersih, sebaiknya aku pergi, ya." Andara meraih baki berisi mangkuk bubur lalu keluar dari kamar Sahid dengan segera.


Sahid membiarkan gadis itu keluar dari kamarnya. Dia melukiskan mimik wajah yang tidak bisa dijelaskan. Frustasi karena berusaha melawan keinginan dirinya yang menggebu ketika melihat Andara sedekat itu, bahkan ketika ia merasakan deru napas milik sang gadis.


"Astaga! Aroma gadis itu membuatku gugup! Bahkan aku tanpa sadar ingin menyentuhnya. Andai saja...." Sahid langsung menggeleng dan mengutuk pikiran liarnya.


Akan tetapi, dia tidak bisa membohonginya dirinya karena dia memang sangat tertarik pada gadis itu. Hanya saja ia adalah pria yang suka menentang kata hatinya sendiri.


"Bagaimana bisa aku menginginkan gadis seperti itu? Dia hanyalah gadis yang ceroboh bahkan sangat lalai." Lagi-lagi Sahid berusaha menepis pikirannya tentang Andara.


Setelah berusaha menormalkan mood liarnya, ia segera melangkah menuju ke dalam kamar mandi. Dan pastinya, dia harus segera mandi air dingin saat itu juga demi menjernihkan pikirannya.


Gadis itu lalu menampar pipinya sendiri.


"Pikiran bodoh macam apa ini? Aku harus menghabisinya, membuatnya tersiksa tanpa ampun. Bukan malah ikut-ikutan jatuh cinta padanya. Cih, dia hanya pria jelek Sandara!" gumamnya lalu pergi menghilang.


...***...


Nyonya Anjani melihat gelagat yang aneh dari Sahid kala bersama Andara. Dia bahkan menggunjingkan hal itu dengan Bi Mina. Jika memang cucunya itu menyukai keponakan sang asisten rumah tangganya itu, ia tak akan mempermasalahkan keduanya jika mereka berjodoh. Malah kalau bisa Sahid dan Andara harus segera menikah daripada berita tentang Sahid penyuka sesama jenis itu semakin menyebar ke mana-mana.


Bi Mina memberikan saran pada Nyonya Anjani agar menjodohkan Sahid dan Andara. Dengan begitu, gosip mengenai pria penyuka sesama jenis yang melekat pada diri Sahid akan segera luntur.

__ADS_1


Pagi itu saat sedang sarapan bersama, Nyonya Anjani memberi penawaran pada cucunya. Tawaran yang dimaksud untuk membuat Sahid dan Andara agar lebih dekat nantinya.


“Bagaimana kalau kita berlibur ke Pantai Pasir Putih?” tanya sang nenek dengan menunjukkan selembar leaflet di tangannya pada Sahid.


"Berlibur? Tumben Nenek ingin berlibur, ada apa ini?" tanya Sahid.


"Nenek hanya ingin menghabiskan waktu dengan kamu. Nenek juga ingin mengajak Andara, Bibi Mina, Tuan Jhony berlibur biar lebih seru dan ramai," ujar Nyonya Anjani.


“Hmmm ... ide yang bagus itu, Nek. Aku setuju, boleh juga. Andara kau siapkan pakaianku untuk berlibur, jangan lupa kau juga siapkan pakaianmu!” titah pria tu menunjuk wajah Andara.


“Serius ini saya ikut?” tanya gadis itu menunjuk ke arah dirinya sendiri.


Sahid hanya menjawab dengan tatapan tajam tanpa suara. Itu artinya Andara tak boleh mengucapkan satu patah kata pun.


"Baiklah, baiklah...." Andara segera melangkah naik ke kamar Sahid untuk menyiapkan pakaian pria itu.


Nyonya Anjani jelas melihat senyum Sahid yang ditahan kala melihat punggung gadis itu. Wanita paruh baya itu juga melirik ke arah Bi Mina yang juga melihat senyum terulas di wajah Sahid. Kedua wanita itu lalu tersenyum puas kala rencana yang mereka buat akan berhasil.


...*****...


...To be continued....

__ADS_1


__ADS_2