Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 9. Percobaan Pertama


__ADS_3

Bab 9 TCSM


Selang satu jam kemudian.


"Andara!"


"Oke, Tuan."


Satu jam kemudian.


"Aandara!"


"Baik, Tuan Muda!" sahut Andara.


"Ya Tuhan aku ingin membunuh dia secepatnya. Cepat biarkan aku ada di dalam tubuhmu," pinta Sandara.


Lagi-lagi seperti biasa Andara menolaknya. Gadis itu tak pernah bisa beristirahat dengan tenang. Tubuhnya terlalu letih untuk menerima Sandara. Namun, Sandara tidak menyerah. Dia harus tetap bertahan berada di rumah besar itu.


"Yang sabar, ya, Dara," ucap Bibi Mina.


"Pasti, Bi. Aku selalu sabar menghadapi tuan muda ini." Andara tersenyum senang sampai mengusap dadanya berkali-kali.


...***...


Malam itu, Sandara mulai menyusun rencana untuk membunuh Sahid. Belum ada keyakinan dalam dirinya mengenai rencana yang paling pas untuk menghabisi pria itu.


Dalam ruangan bersama lima kucing hitam itu, ia masih memikirkan bagaimana rencana selanjutnya untuk membuat pria itu terbunuh. Gadis itu menatap layar LED berukuran 40 inch yang menggantung di ruangan tersebut.


“Ruangan untuk kucing saja pakai TV, memangnya mereka paham dengan apa yang tertera di layar tersebut,” keluh Sandara.


"Meong Meong."

__ADS_1


Suara para makhluk berbulu hitam itu terdengar. Sesekali mereka menggeliat di kaki gadis itu.


"Dasar kucing! Kalian harusnya bersyukur punya ruangan sebagus ini, makan makanan mahal, dan punya pembantu seperti aku. Betapa sangat beruntung kalian ini," gumam Sandara bersungut-sungut kesal.


"Hahaha. Kau itu lucu sekali. Apa kau mau masuk ke tubuhku untuk mengerjakan ini?" goda Andara.


"Hmmm, ide bagus. Ya sudah sini!" Sandara tak menyia-nyiakan kesempatan untuk mengambil alih Andara.


Gadis itu akhirnya dengan setengah hati menyeroki kotoran para kucing di bak pasir. Dia lalu memasukkan benda menjijikkan itu ke dalam kantong plastik. Kegiatan yang sebenarnya sangat ia benci.


Tiba-tiba, cuplikan layar LED yang menampilkan berita terkini terpampang di sana. Pembawa berita menuturkan tentang pembunuhan seorang suami yang diberi racun sianida dalam kopi. Hal itu membuat Sandara memiliki ide untuk membunuh Sahid.


Meskipun dia tahu saat kematian Tuan Gangster itu terjadi, maka ia tak akan bisa lepas dari para anggota gangster The Black Cat. Namun, gadis itu tak peduli. Ia akan segera pergi jauh saat kematian datang menjemput Sahid. Senyum kepuasan yang terlalu dini, tersungging di bibir mungil gadis itu. Tekadnya sudah bulat. Ia akan menyiapkan sebuah bubur brokoli dan ayam yang akan dicicipi pria buruannya itu untuk terakhir kalinya.


Setelah kegiatan dengan para kucing selesai, Sandara izin ke luar rumah dengan alasan pergi ke minimarket. Satu jam kemudian, gadis itu kembali dengan membawa racun sianida yang ia beli di toko kimia sebelum pulang ke rumah besar itu.


Sandara lalu menuju dapur dan memasak bubur brokoli ayam untuk Sahid.


“Biasa aja sih, Bi. Aku lagi mau nyanyi aja,” sahutnya.


“Hari ini kan hari libur, apa kamu tak mau izin ke luar untuk jalan-jalan?”


“Tadi udah izin ke luar sebentar. Sekarang aku di rumah saja. Aku juga sedang buatkan bubur Tuan Sahid,” jawab Sandara.


“Memangnya Tuan Sahid minta?”


“Enggak, sih.”


“Cie … tumben, jangan-jangan ada udang di balik bakwan, nih.”


“Apaan, sih? Bi Mina enggak jelas! Justru saya mau baik-baikin dia biar enggak kena omel terus, bukannya malah suka sama dia. Idih amit-amit, deh.”

__ADS_1


“Hahaha, jangan ge-er, Neng. Saya kan cuma bilang ada udang di balik bakwan, nih bakwannya.”


Wanita itu meraih bakwan udang di atas meja lalu tersenyum meledek Sandara.


“Apaan, sih? Enggak jelas banget tuh Bi Mina.”


Satu jam kemudian, Sandara selesai membuat bubur kesukaan Tuan Sahid. Tak lupa ia campurkan satu sendok cairan sianida ke dalam mangkuk bubur tersebut. Lalu kemudian, ia membuat tampilan bubur itu lebih cantik sebelum ia bawa ke kamar Tuan Gangster di rumah itu.


Sahid sedang membelai satu kucing hitam miliknya yang bernama Bubu di kamarnya saat Sandara mengetuk pintu.


“Masuk!”


“Halo, Tuan! Selamat siang, mau bubur brokoli ayam?” tanya Sandara.


“Memangnya saya meminta?"


“Tidak, sih. Ummm ... tapi kan Tuan belum sarapan, dan saya lagi mau buat ini aja. Mungkin Tuan mau?” tanya Sandara seraya menunjukkan senyum paling manis yang ia punya.


Aroma wangi bubur itu sebenarnya tercium sampai ke indera penciuman milik pria tampan tersebut, tetapi pria yang mengenakan piyama biru dengan motif garis vertikal putih itu hanya menundukkan wajah datar dan dingin.


“Baiklah, saya letakkan di meja ini saja.”


Sandara meletakkan mangkuk bubur itu di atas meja yang berada di depan sofa putih dalam kamar tersebut. Tanpa persetujuan Sahid, ia tetap melakukannya. Kemudian, gadis itu pergi ke luar kamar dan menutup pintu kamar.


Sahid bangkit menuju kamar mandi, ia sempat melirik bubur di atas meja tersebut sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu menghampiri mangkuk bubur tersebut. Ia menghirup aroma yang menggugah selera. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.


“Gadis itu, adakah yang ia inginkan dariku sampai menyuapku dengan bubur ini?” gumam Sahid.


...*****...


...To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2