
Bab 18 TCSM
"Okay!"
Sandara dengan terpaksa mengobati luka Sahid. Kadang dia sengaja menekan lebih keras saat mengusapkan alkohol tujuh puluh persen dan juga betadine ke pelipis pria itu.
"Awww! Kau bisa pelan tidak, sih? Kau sengaja ya membuatku sakit?!" pekik Sahid.
"Nah, kau sendiri bisa diam tidak, sih? Kau yang memintaku untuk mengobati lukamu, Tuan Muda. Jadi kau sebaiknya diam!" tegas gadis itu dalam menjawab.
Entah kenapa, Sahid langsung tunduk pada titah gadis di hadapannya itu. Bekas tanda kepemilikan di leher mulus milik Sandara terlihat olehnya. Membuat pria itu merasakan udara sekitar terasa lebih panas dari sebelumnya. Gadis itu membuatnya membayangkan lagi hal panas dan liar yang Sahid lakukan pada gadis itu kala di malam ulang tahun Harry.
"Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku membuatmu bernafsu, ya?" tanya Sandara tiba-tiba seolah ingin menggoda Sahid.
Sahid tertegun mendengar pertanyaan gadis itu. Cairan salivanya terasa berat dia telan. Namun, dia berusaha mengendalikan diri dan tetap bersikap angkuh pada Sandara. Dia menepis tangan Sandara.
"Ambilkan aku air soda dari lemari pendingin itu!" pinta Sahid mengalihkan pertanyaan Sandara.
Gadis itu menurut. Dia meletakkan satu kaleng soda di meja yang ada di hadapan Sahid.
Ponsel milik Sandara berbunyi. Ari menghubunginya kala itu. Sontak saja hal tersebut membuat Sandara gugup. Dia takut Sahid curiga ke padanya.
"Kau punya ponsel rupanya. Kenapa tidak kau angkat? Apa itu pacarmu?" tanya Sahid penuh selidik.
Belum juga Sandara menjawab pertanyaan Sahid, seruan anak buah pria itu menggemparkan semuanya. Rupanya lawan gangster The Black Cat disinyalir menyerang. Sahid lantas menarik tangan Sandara dan keluar dari ruang rahasia menuju ke sebuah mobil yang sudah disiapkan untuknya ketika hendak kabur.
Jhony berusaha melindungi Sahid dan Sandara dari hujan peluru yang terus berdatangan sampai salah satu peluru menembus bahu kiri Sahid kala itu.
__ADS_1
"Aarrgghh!" pekik Sahid jatuh dengan kedua lutut dan memegangi bahunya.
Sandara menoleh ke arah Sahid yang terluka. Hatinya merasa senang karena akhirnya pria yang ingin dia bunuh itu bisa saja akan tewas karena serangan gangster The Dog milik Tanaka.
"Pergilah! Cepat pergi!" Sahid berteriak pada Sandara.
Dia meminta gadis itu untuk menyelamatkan diri. Sandara segera berlari ke dalam mobil BMW hitam yang sudah siap untuk dikemudikan.
Salah satu anak buah Tuan Tanaka tertawa dengan puas kala sampai di hadapan Sahid. Pria kurus yang menggunakan jaket kulit hitam dengan celana jeans hitam itu mengarahkan revolver ke kepala Sahid.
"I got you, Bos Sahid! Bos Tanaka pasti akan senang melihat kepalamu yang akan aku penggal nanti menjadi hadiah untuknya," ucapnya seraya tertawa menyeringai.
Sahid hanya diam, mungkin saat itu juga dia merasa pasrah. Namun, secara mendadak sebuah mobil menabrak pria kurus itu dengan cepat.
Brak!
"Masuk!" Sandara memerintahkan Sahid untuk masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobil itu ke rumah sakit.
"Kenapa kau selamatkan aku?" lirih Sahid sebelum akhirnya pria itu tak sadarkan diri kemudian.
Sandara berteriak dengan kesal. Namun dia juga memastikan kalau Tuan Jhony juga selamat bersama beberapa anak buah The Black Cat lainnya. Entah apa karena Andara yang mengendalikan tubuhnya untuk menolong Sahid atau memang dia yang ingin menolong pria itu. Sandara hanya bisa merutuki diri sendiri. Mobil itu pun dia lajukan dengan cepat.
...***...
Di Rumah Sakit Jaya Internasional. Ponsel Sandara berbunyi kala sedang menunggu di depan ruang operasi tempat Sahid berada. Di rumah sakit itu juga sudah ada Jhony dan beberapa anak buah The Black Cat untuk menjalani perawatan pasca serangan gangster The Dog tadi.
"Halo, maaf ini Sandara apa Andara?" tanya Ari dari dalam ponsel.
__ADS_1
"Ini aku Sandara. Ada apa menghubungi ponsel ini?"
"Syukurlah kalau kau Sandara. Oh iya aku mau memberitahukan kata ayahku kalau The Dog akan menyerang The Cat, kau sebaiknya berhati-hatilah," ujar Ari.
"Hah? Kenapa baru bilang sekarang?! Sudah telat tau. Aku hampir saja terbunuh di sana!" Aku Sandara dengan kesal.
"Lalu, apa Sahid mati?" tanyanya.
"Tidak, aku menolongnya," sahut Sandara.
"APA?!"
Suara Ari memekik dengan kencang sampai membuat gadis itu menjauhkan ponsel tersebut dari daun telinganya.
"Salah sendiri tidak bilang padaku tentang rencana penyerangan ini. Paling tidak aku bisa mempersiapkan diri di sana. Aku hampir mati di sana tau!" Sandara membalas dengan berbisik dan menjauh dari depan ruang operasi.
"Tapi kau tidak mati, kan? Aku juga baru tahu tadi. Lalu, kenapa kau selamatkan Sahid?!" tanya Ari.
"Entahlah, aku hanya ingin dia mati di tanganku, bukan di tangan orang lain." Sandara memberi alasan.
"Dara! Dasar kau ini–"
Sandara langsung mematikan sambungan ponsel itu. Jelas-jelas para anak buah Tanaka tadi ikut menyerangnya membabi buta. Kini, dia malah sudah memutuskan untuk menolong Sahid.
...******...
...To be continued ...
__ADS_1