Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bah 43. Pernikahan Bahagia


__ADS_3

Bab 43 TCSM - Tamat


Sinar mentari pagi mengintip dari celah tirai dan menerpa wajah Sahid. Pria itu masih mendekap tubuh sang istri yang tertidur di pelukannya. Ia tersenyum kala mengingat kejadian semalam. Pria itu tak menyangka kalau ia akan sebahagia itu memiliki seorang istri seperti Andara.


Sahid memberi kecupan di pucuk kepala istrinya kala itu. Ia mendekap tubuh istri cantiknya lebih erat lagi.


"Ummm ... lepaskan aku! Aku kesulitan bernapas ini," keluh Andara.


"Tak mau, aku tak akan melepaskanmu!" sahut Sahid.


Suara di pintu kamar mereka menyentak keduanya.


"Non Dara, Tuan Sahid, dipanggil Nyonya besar untuk sarapan," seru Bibi Mina dari luar kamar.


"Iya, Bi. Kami akan segera sarapan," sahut Sahid.


"Aku mandi duluan, ya," ucap Andara yang berusaha bangkit, tetapi Sahid langsung menariknya.


"Sayang lepaskan aku! Duh, nanti nenek marah, loh, kalau kita tidak bergegas," tukas Andara.


"Biarkan nenek marah!" Sahid masih berusaha menahan Andara.


"Ayolah, aku mau mandi, nih! Dih, tubuhku terasa lengket semua!" kata Andara yang tetap mencoba untuk bangkit.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita mandi bersama!" ajak Sahid.


Sahid mengangkat dua alisnya menggoda Andara. Tak perlu menjawab pertanyaan sang istri, Sahid langsung membopong tubuh istrinya ke dalam bath tub.


"Awww! Kau mau apakan aku?" pekik Andara.


"Memandikanmu, pakai tanya lagi!" jawab Sahid terkekeh.


Bukannya langsung mandi, pria itu mengulangi lagi adegan asmara mereka yang semalam mereka lakukan itu. Toh, Andara juga tak membantahnya.

__ADS_1


...***...


Di ruang makan.


"Mana, Bi? Kenapa mereka lama sekali dan belum juga turun?" tanya Nyonya Anjani setelah menunggu selama hampir satu jam.


Jhony juga sudah datang untuk menjemput Sahid pagi itu sampai Nenek Anjani mempersilakan pria itu untuk sarapan bersama.


Akhirnya yang ditunggu tiba, Sahid dan Andara turun bersama. Karena bersiap dengan terburu-buru, rambut Sandara masih tampak basah dan belum dikeringkan begitu juga dengan Sahid.


Nyonya Anjani melirik ke arah Bibi Mina. Asisten rumah tangannya itu sempat mengintip leher Andara yang penuh tanda kepemilikan saat menuangkan teh ke dalam cangkir wanita itu.


Bibi Mina tersenyum dan mengisyaratkan kode berhasil pada Nyonya Anjani. Sahid menangkap kode tersebut dan bertanya pada neneknya.


"Ada apa, Nek? Kenapa senyum-senyum sama Bibi Mina?" tanya Sahid.


"Tidak ada apa-apa, Kok. Nenek hanya sedang bahagia.  Pasalnya, ada kemungkinan kalau Nenek akan cepat menimang cicit, ya kan, Bi?" Nyonya Anjani melirik ke arah asisten rumah tangganya itu.


"Iya, Nyonya," sahut Bi Mina.


"Silakan diteruskan sarapannya. Kalian harus makan yang banyak,  untuk mengisi tenaga kalian setelah semalaman bekerja keras." Nyonya Anjani kembali meledek pasangan baru itu.


Hari-hari Andara dan Sahid dipenuhi kebahagian. Malam itu, Andara melihat ke langit biru cerah seraya menunjukkan cincin pernikahannya ke arah langit yang dipenuhi kemerlap bintang.


"Ayah, Ibu, Sandara, Sandrina, Tante Malika, aku sudah menikah. Doakan aku bahagia selalu dengan Sahid, ya," ucap Andara.


"Pasti, pasti aku akan selalu membahagiakanmu," sahut Sahid seraya memeluk istri tercintanya dari belakang.


"Eh, sejak kapan kau di sini?" tanya Andara.


"Sejak tadi. Aku pastikan kalau aku akan membahagiakanmu. Oh iya, aku sudah memperkerjakan Ari di perusahaanku. Dia akan bertugas di cabang India esok hari. Apa kau mau menemuinya?" tanya Sahid.


"Tentu, aku akan menemuinya besok. Apa boleh?" tanya Andara.

__ADS_1


"Tidak boleh! Kalian cukup berkomunikasi saja lewat video call," ucap Sahid seraya mengecup rambut Andara.


"Hissh, kau ini terlalu overprotektif!" cibir Andara 


"Dara, aku akan selalu membahagiakanmu," tukas Sahid.


"Aku tahu, aku tahu. Aku juga suka, kok, kau beri perhatian seperti itu." Andara lantas berbalik badan dan melingkarkan kedua tangannya ke leher Sahid.


"Oh iya, apa kau siap menyandang gelar Nyonya Gangster?" tanya pria itu.


"Hahaha, baiklah, baiklah. Aku rasa Nyonya Gangster tak terlalu buruk."


Terdengar seseorang mengetuk pintu kamar, rupanya Tuan Jhony yang melakukannya. Andara membuka daun pintu berbahan jati itu.


"Tuan Sahid, pesawat jet Anda sudah siap di bandara. Kita menuju ke sana sekarang," ucap Jhony.


"Kita mau ke mana malam-malam begini?" tanya Andara pada Sahid.


"Bulan madu." Sahid tersenyum.


"Hah? Bulan madu ke mana? Secara mendadak begini?!" Andara memekik tak percaya.


"Iya, Sayang!" 


"Apa nantinya menyenangkan dan seru?" tanya Andara tak percaya. 


"Pasti seru, Sayangku." Sahid menarik tangan Andara ke dalam genggamannya.


Mereka mengikuti Jhony yang menpersilakan masuk ke dalam jaguar hitam menuju ke bandara. Privat jet yang menunggu di sana akan membawa mereka pergi berbulan madu ke sebuah pulau bernama Pulau Nirwana.


...*****...


...The End...

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti kisahnya Sandara, Andara, dan Sahid.


Mampir ke cerita Vie selanjutnya ya.


__ADS_2