Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bah 24. Kehadiran Dimas


__ADS_3

Bab 24 TCSM


“Sudahlah! Kamu istirahat saja! Banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan," tukas Sahid.


“Hmmmm … kalau hanya untuk cepet-cepet balik kerja mending nggak usah deh buat cepet-cepet sembuh,” gumam Andara seraya meringis.


“Kamu bilang apa barusan?” Jari telunjuk pria itu mengetuk-ngetuk dahi Andara dengan tatapan tajam yang mengancam.


“Tidak, kok. Aku tidak bilang apa-apa. Sepertinya Tuan Muda salah dengar hehehe." Andara langsung menarik selimut dan menyembunyikan dirinya ke dalam selimut tersebut. Dia tak mau bertatapan dengan Sahid lagi kala itu. Jantungnya berdetak sangat kencang tak tertahan.


Senyum kecil tersungging di sudut bibir laki-laki itu. Dia senang jika gadis itu tunduk ke padanya. Sahid hendak mengusap kepala Andara kala itu, tetapi tak jadi karena Jhony sudah keburu datang.


"Tok tok, apa saya mengganggu?" sapa Jhony.


"Hmmm, masuklah!" sahut Sahid.


Jhony datang membawakan pakaian ganti untuk Sahid beserta roti sandwich lengkap dengan satu cup kopi hitam. Pria itu juga membawakan surat kabar terbaru untuk sang Tuan Muda


“Apa Nenek sudah pulang?” tanya Sahid.


“Sudah, Bos. Andi yang menjemput Nyonya Besar satu jam yang lalu,” jawabnya.


"Baguslah," lirih Sahid.


“Apa Bos akan tetap berada di sini sampai Nona Andara sembuh?” tanya Jhony seraya melirik ke arah tubuh Andara yang tertutup selimut.


Tak ada jawaban dari bibir pria itu selain tatapan yang selalu tajam menusuk. Jhony segera paham maksud tatapan itu. Dia tak bisa mendebat dan mengganggunya.


“Oke, saya paham. Kalau begitu sebaiknya saya ke luar sekarang. Jika ada barang yang harus saya bawa ke sini, Anda cukup memberi perintah maka akan langsung segera saya bawakan,” ucap Jhony.


"Oke, terima kasih." Sahid tersenyum.

__ADS_1


Jhony sempat mengernyit, kata terima kasih itu sungguh suatu perkataan yang sulit didengar dari bibir seorang Sahid Aryan Khan.


"Semoga Nona Sandara lekas sembuh!" Jhony sengaja mengeraskan suaranya karena yakin Andara masih terjaga dan mendengarnya.


Pria itu lalu pergi dengan sunggingan senyum di wajahnya.


...***...


Malam itu, Dokter Dimas datang membawakan seikat bunga mawar untuk Andara. Pria yang sudah tak memakai seragam dokter itu tampak terlihat makin tampan. Celana jeans yang dipadukan dengan kaus biru berkerah itu membalut tubuh tegap dan tinggi sang dokter. Saat dokter itu datang kebetulan Sahid sedang pergi membeli makan malam.


“Hai, Andara!” sapa Dimas.


“Hai, Dimas! Memangnya kau sudah selesai jam kerjanya?” tanya Andara.


“Sudah, dong! Makanya aku ke sini buat nemenin kamu. Mana bos mu yang rese menyebalkan itu?” Dimas menoleh ke arah sekitar.


“Sepertinya dia sedang mencari makan malam. Ayo, duduk sini!”


“Permisi, mau cabut infus,” ucap seorang suster yang masuk ke dalam ruang perawatan Andara.


“Silahkan, Suster Dania,” ucap Dimas.


“Eh, ada Dokter Dimas di sini,” sapa Suster Dania.


“Iya, saya lagi nemenin temen lama saya,” sahut Dimas.


“Jadi, karena sekarang aku udah buka infus, besok aku boleh pulang, ya?” tanya Andara.


“Boleh, tentu saja boleh. Bagaimana kalau pas kamu pulang kita jalan-jalan ke taman deket sekolah kita dulu sekalian jajan cilok, mau?” ajak Dimas.


“Wah, tentu saja aku ma—“

__ADS_1


“Tidak boleh!”


Suara Sahid seolah menggema memasuki ruang perawatan tersebut dan menghentikan ucapan Andara. Laki-laki itu menatap tajam ke arah Dimas.


“Sudah selesai kunjungannya? Silakan pergi, pasien ini butuh istirahat!” tegas Sahid.


“Umm … baiklah kalau begitu. Dara, aku pulang dulu dan selamat beristirahat.” Dimas mengusap bahu kiri gadis itu sebelum pergi.


Hawa panas makin Sahid rasakan. Ia mulai cemburu dengan kelakuan si dokter yang sok perhatian itu. Sahid segera meraih tisu basah di atas lemari cabinet dan membersihkan bahu Andara yang tadi disentuh oleh Dimas.


“Apa-apaan, sih?” keluh gadis itu.


“Cuma aku yang boleh sentuh kamu!” tegas pria itu berucap.


Sandara yang sedari tadi berdiri di samping ranjang Andara sampai menatap tak percaya. Sama seperti Andara. Kedua dahi mereka mengernyit.


"Apa Tuan Muda habis minum?" tanya Dara hati-hati.


"Tentu saja, aku minum air putih. Memangnya kenapa?" Sahid mendelik.


"Maksudku, apa kau habis mabuk?" tanya Andara dengan polosnya.


"Tidak! Sudah sebaiknya kau tidur saja!" tegas Sahid berucap sampai membumkam Andara.


"Pria ini mulai gila, Dara," ucap Sandara.


Andara menahan tawanya.


...*****...


...To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2