
Bab 15 TCSM
Sore itu sepulang bekerja Jhony menemui Sahid di teras belakang rumahnya sedang duduk santai.
"Tuan Sahid, hari ini undangan dari Bos Harry. Kau harus datang demi nama baik The Black Cat," ujar Tuan Jhony.
"Hmmm... aku tetap tak bisa melewatinya, ya?" tanya Sahid.
"Karena akan ada pertemuan para pemegang wilayah di bawah naungan Anda. Kau harus ingat satu hal lagi, Bos Harry pasti akan menertawaimu karena gosip itu," tukas Jhony.
"Biarkan saja! Gosip murahan itu aku tak peduli!" Sahid menatap layar ponselnya.
"Tapi, Tuan–"
"Memangnya kau mau apa?!" Sahid mendelik ke arah Jhony.
"Jika kau mau mendengar saranku, setidaknya bawalah satu model wanita untuk kau ajak kencan malam ini," ujar Jhony.
Andara datang membawakan secangkir teh hijau dan cemilan untuk tuan mudanya. Dia meletakkan minuman untuk Sahid secara perlahan.
“Nanti malam, kau ikut denganku!” titah Sahid secara tiba-tiba pada Andara.
"Hah? Tuan Muda bicara dengan saya?" tanya Andara.
"Kau pikir aku sedang bicara dengan pohon?!" Sahid menatapnya tajam.
"Saya harus ikut ke mana?" tanya Andara.
Jhony juga sampai menoleh ke arah Andara yang langsung terperangah.
"Kau bisa tidak jangan cerewet dan banyak tanya, hah? Sudah ikut saja!"
Sandara hanya bisa menunduk dengan teriakan yang tertahan dalam hati kala dibentak oleh sang atasan.
"Apa kau yakin, Bos?" tanya Jhony penuh sanksi.
"Aku yakin, bawa dia saja! Tapi, benahi dulu tampilannya di salon ternama!" titah Sahid.
"Baik, Bos." Jhony tak akan bisa membantah perintah sang alasannya.
__ADS_1
...***...
Malam itu, seperti biasa Sandara memanfaatkan tubuh Andara. Padahal Andara sudah mati-matian menolaknya tetapi Sandara malah nekat.
Sahid memaksa gadis itu memakai gaun hitam dengan satu tali yang panjang gaunnya selutut. Lekuk tubuh gadis itu terlihat lebih menggoda para pria yang melihatnya. Tak lupa juga Sahid memaksa Sandara mengenakan sepatu high heels yang tampak cantik di kaki jenjangnya. Dan lagi-lagi, Sandara selalu mengeluh.
Sebenarnya gadis itu sangat membenci sepatu hak tinggi karena akan membuat kakinya sakit dan pegal. Akan tetapi, gadis itu tak dapat membantah titah pria tersebut.
Hati gadis itu sangat kesal ditambah lagi seharian ini ia sangat lelah menuruti perintah Sahid. Padahal pria itu punya sekretaris, tapi tetap saja Tuan Gangster itu terus memberi perintah padanya dan menjadikannya pesuruh yang selalu dikerjai.
Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka tiba di sebuah bar bernama Night Heaven. Di dalam bar tersebut sangat ramai karena Bos Harry sedang mengadakan pesta ulang tahunnya.
Pria bernama Harry yang bertubuh tinggi kekar seperti Sahid tetapi perutnya agak buncit itu sedang menari di atas panggung. Area yang terletak di bagian tengah itu sudah dipadati dengan beberapa wanita yang hanya mengenakan busana renang. Mereka menari dengan penuh menggoda mengerumuni Harry.
"Hai, Sahid! Welcome to my party! Let's join me!" Harry berseru ke arah Sahid lalu turun dari panggung dan saling berjabat tangan.
"No, thanks." Sahid tak tertarik dan memilih pergi tetapi Harry meneriakinya.
"Hei, kau memang benar-benar tak tertarik dengan wanita, ya? Hahaha, aku rasa The Black Cat salah menyerahkan gelar ketua padamu!" Harry terus mencibir.
Sahid menarik Sandara dalam dekapannya.
"Well, well, well, she is not bad," ucap Harry menghampiri.
Sahid yang memandang Harry ketus lalu mencari keberadaan Jhony. Setelah dapat, dia menepuk bahu Jhony kala pria itu terlihat asik memandang para wanita seksi di atas panggung.
“Maaf, Tuan, saya tak tau Anda sudah datang.” Jhony menunduk.
“Di mana ruangan pertemuannya?” tanya Sahid.
“Mari ikut saya!”
Sahid dan Harry lalu mengikuti langkah Jhony.
Sandara lupa mengikuti Sahid, ia malah tergoda dengan hentakan musik yang menggema ke seluruh ruangan. Gadis itu malah dengan beraninya meminta minuman tequila di meja bartender sampai membuatnya mabuk.
Sialnya, saat itu Sahid memerintahkan pada Jhony agar memanggil Sandara ke sebuah kamar. Pria itu telah selesai dengan rapat bulanan The Black Cat. Karena malas menghadiri pesta Harry, ia lebih memilih berada di kamar pribadi yang disediakan bagi pejabat gangster tersebut.
Sandara yang mabuk datang ke kamar Sahid seraya merutuki pria tersebut.
__ADS_1
“Wah, ada apa gerangan rupanya sampai pria gay ini memanggilku ke sini?” cibiran gadis itu sontak saja membuat Sahid naik pitam.
Ia mencekik leher gadis tersebut sampai menyudutkannya ke dinding. Sahid mencium aroma alkohol dari mulut Sandara.
“Kau mabuk, ya?” tuduh Sahid.
“Iya, aku mabuk, memangnya tak boleh jika aku mabuk? Aku bosan dan lelah seharian kau perintah, wahai Tuan Gangster.”
"Kau ... kau benar-benar membuatku kesal. Kau mau cari mati, ya?" Sahid menatap tajam ke arah Sandara.
Sahid menarik lengan Sandara dan membanting tubuhnya ke atas ranjang. Pria itu memilih pergi dari ruangan, akan tetapi gadis itu terus meneriakinya dengan cibiran penyuka sesama jenis.
"Dasar gay! Hahaha, kau hanyalah banci yang berkedok Tuan Gangster! Kah pembunuh!" seru Sandara mencibir Sahid tanpa sadar.
Pria itu menghentikan langkahnya lalu berbalik.
“Bisa-bisanya kau ambil kesimpulan aku seorang gay,” ucap Sahid.
“Lalu, kenapa seorang pria hebat, macho dan berkuasa sepertimu tak pernah bersama perempuan? Kau itu selalu saja bersama Pak Jhony, atau jangan-jangan kau dan Pak Jhony itu—“
Sahid menghentikan semua ocehan Sandara dengan menyesapkan bibir gadis itu. Dia menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya. Meskipun Sandara mencoba mendorong tubuh lelaki tersebut, tapi tenaga pria itu lebih kuat. Bahkan pria bertubuh tegap itu mencengkeram kedua tangan mungil sang gadis dan menahannya di atas ranjang. Ia mendaratkan beberapa tanda kepemilikan di leher mulus sang gadis. Tanpa sadar pria itu mulai menikmati aroma tubuh Sandara.
Sadar perlakuannya mulai kebablasan, Sahid menghentikan kegiatan tersebut. Pria itu lalu pergi meninggalkan Sandara yang masih saja memaki merutuki dirinya. Bahkan gadis itu melempar lampu hiasan di kamar itu sampai membentur dinding. Gadis mabuk itu masih saja berteriak menyerukan nama Sahid.
“Dasar Tuan Sialan! Sahid sialan! Lihat saja, aku akan membunuhmu!”
Sahid hanya tersenyum seraya menyentuh bibirnya saat mendengar caci maki Sandara. Dia pikir Sandara hanya marah karena baru saja dia kerjai. Padahal yang sebenarnya terjadi, gadis itu sungguh-sungguh ingin membunuh pria itu. Namun, dia hanya menyangka sang gadis sedang terpengaruh alkohol sampai meracau. Sahid lantas pergi meninggalkan Sandara yang mencoba bangkit menuju pintu kamar tetapi malah terjatuh dan akhirnya tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol. Sandara lantas terlepas dari tubuh Andara.
"Haissh, sial! Bisa-bisanya dia melakukan itu ke padaku." Sandara lantas tergeletak di samping Andara.
"Ada gitu hantu mabok," ucap Kunkun yang tak sengaja melihat Sandara.
Ongki pun tertawa dibuatnya.
"Yuk, cari korban yang mau kita kerjain lagi di club ini!" ajak Ongki.
Kunkun lantas mengangguk.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...