
Bab 40 TCSM
Keesokan harinya, pesta pernikahan siap digelar. Andara terbangun di ruang kerja Sahid dengan wajah terkejut kala melihat wajah calon suaminya itu tengah berada di sampingnya.
"Lho, kok dia bisa di sini?" gumam Andara.
Gadis itu langsung duduk dan memperhatikan wajah Sahid yang masih terlelap pulas itu.
"Tampannya calon suamiku. I love you, Mister Khan." Andara memberikan kecupan di pipi Sahid.
Gadis itu hendak bangkit tetapi Sahid menarik tangannya dan membawa gadis itu kembali duduk.
"Kau bilang apa barusan?" tanya Sahid yang ternyata telah terjaga sedari tadi tetapi masih pura-pura terlelap.
"A-aku, aku bilang apa, ya? Rasanya aku tak bilang apa-apa." Andara mencoba berkelit.
"Katakan lagi atau kau tidak akan aku lepaskan!" seru Sahid.
"Bukankah kau memang tak ingin melepaskan aku?" Andara mengerling menggoda.
"Ayolah Dara... katakan lagi kau mencintaiku!" Sahid terus merengek.
Terdengar Nyonya Anjani berteriak memanggil nama Andara dan Sahid. Gadis itu langsung berdiri menepis tangan Sahid dan melangkah keluar ruang kerja pria itu seraya tertawa.
"Awas kau nanti malam, ya! Tak akan aku beri ampun!" tukas Sahid.
Lukisan senyum kebahagiaan jelas terpancar di wajahnya. Senyum manis menghiasi wajah Andara seketika saat sempat mendengar ucapan Sahid. Dia melangkah riang saat menuju ruang ganti dan mendapat riasan pengantin.
Tak lama kemudian, saat Andara telah selesai dirias, Nyonya Anjani menatap wajah cantik gadis itu dengan takjub. Riasan wajah gadis itu sangat cantik dengan tubuh semampai dibalut kain sari mewah yang dibuat dengan benang emas.
Sari adalah pakaian umum yang digunakan perempuan India. Sari terdiri dari sepotong kain yang tidak dijahit dan hanya dililitkan pada badan. Salah satu ujung dari kain sari di tubuh gadis itu disampirkan di bahu.
__ADS_1
"Wah, cantik sekali kamu, Nak. Apa kamu tau kain ini?" tanya Nyonya Anjani.
"Tentu saja, Nyonya. Ini kain dari negara Nyonya, kan? Tentu saja aku tahu," sahut Andara dengan yakin.
"Jangan panggil aku Nyonya lagi, Nak. Aku kan sudah bilang mulai sekarang dan seterusnya panggil aku Nenek," pintanya.
"Baiklah, Nenekku sayang .…" Andara memeluk wanita paruh baya itu dari samping.
"Haha, apa kau tau Nak Dara kenapa kau memakai kain sari dari warna merah?" tanya Nyonya Anjani.
Andara menggelengkan kepalanya menjawab tak tahu. Wanita paruh baya itu lantas melanjutkan kembali penuturannya.
"Menurut kebudayaan India, warna merah dianggap sebagai warna yang paling kuat. Melambangkan kesuburan, cinta, dan keindahan. Warna yang tampak cantik di tubuhmu ini juga kerap dijadikan simbol kehidupan pribadi seseorang, misalnya wanita yang telah menikah akan memiliki tanda merah pada telapak tangan mereka yang disebut dengan sindoor."
"Oh, begitu rupanya."
Andara mengangguk-anggukan kepalanya seolah mengerti.
"Apa kau siap menikah dengan Sahid cucuku?" tanya Nyonya Anjani.
"Tentu saja, Nek, aku sangat siap," sahutnya.
"Terima kasih ya, Nak. Tolong jaga Sahid-ku segenap hatimu. Jaga dia dengan baik, ya," pintanya.
"Tentu saja, Nek."
Mereka lalu menuju ke area pernikahan bersama. Hari itu Sahid dan Andara akan melaksanakan ijab kabul dengan seorang penghulu dan dua orang saksi. Lalu, setelah pernikahan secara agama dianggap sah, mereka akan merayakan pernikahan dengan adat India.
Hari pertama pernikahan itu dikenal dengan sebutan nikaah atau di Indonesia biasa disebut akad. Ini adalah hari ketika dua insan dipersatukan oleh sucinya ikatan ijab-kabul.
Setelah prosesi ijab kabul penghulu dan Sahid berlangsung khidmat, rasa sukacita seusai akad dirayakan dengan pembagian kurma kepada para pengunjung. Hal itu dimaksudkan agar para tamu juga bisa merasakan manisnya momen bahagia ini.
__ADS_1
Andara dan Sahid menari penuh antusias bersama para tamu undangan. Perayaan pernikahan keduanya lalu diakhiri dengan santap malam bersama. Pesta akan dilanjutkan keesokan harinya dengan kemeriahan yang tak kalah seru.
...***...
Malam itu di kamar pengantin yang sudah dihiasi kemewahan pernikahan ala India, Andara menyusul Sahid naik ke atas ranjang pernikahan mereka.
"Duh, aku baru tahu kalau prosesi pernikahan ala keluargamu sangat melelahkan," keluh Andara.
Tak ada sahutan dari Sahid. Rupanya, sang suaminya ternyata sudah terbaring pulas di sampingnya. Dia bahkan mendengkur.
"Sahid! Huh, malam pertama macam apa ini kalau ditinggal tidur? Huuuuhhhh!"
Andara lantas melangkah kesal menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian tidur dan membersihkan bekas riasan di wajahnya.
Sementara itu, Nyonya Anjani sudah bersiap dengan rencananya. Ia harus berhasil membuat Sahid dan Andara tidur bersama dan menikmati malam pertama mereka semalaman suntuk.
Sahid terbangun kala Andara merebahkan diri di atas ranjang. Pria itu akhirnya bangkit menuju ke kamar mandi.
"Maaf, aku tak sengaja membangunkanmu," ucap Andara.
"Tak apa." Sahid masuk ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, pria yang sudah sah menjadi suaminya itu keluar dari kamar mandi dan hanya berbalut handuk putih yang melilit di pinggang.
"Dara, kau bisa keringkan rambutku seperti biasa?" tanya Sahid.
"Hah, memangnya tak bisa mengeringkan rambut sendiri apa?" sungut Andara.
"Kau bilang apa?" Sahid menatap tak percaya pada jawaban sang istri barusan.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...