
Bab 22 TCSM
Saat berada di kamar perawatan Andara di VIP nomor 505, Sahid sempat memandang wajah cantik gadis yang masih terlelap seraya menyentuh pipi mulus nan halus itu dengan ujung jari telunjuknya.
“Dasar gadis bodoh, memangnya dia tak tau kalau ubur-ubur itu berbahaya? Gadis ini benar-benar sial sekali," gumam Sahid seraya membetulkan posisi bantal gadis itu dan menyelimutinya dengan benar.
Gadis itu tiba-tiba siuman dan bergumam lagi, “aku haus, tolong ambilkan air!"
Sahid segera menyerahkan sebotol air mineral dengan sedotan dan mengarahkannya pada bibir tipis gadis itu untuk minum.
“Terima kasih,” lirih Andara. Mengulas senyum tipis yang semanis madu untuk diteguk.
Sahid yang tersadar dengan perlakuan berlebihan yang manis itu langsung meletakkan botol tersebut kembali ke atas meja padahal gadis itu masih belum selesai minum. Lagi-lagi dia dibuat kikuk karena Andara sama seperti sebelumnya. Pria itu langsung mendaratkan bokongnya ke sofa.
“Aku kan belum selesai minum,” keluh Andara dengan nada kesal.
“Ambil saja sendiri, kamu masih mampu kan ambil sendiri?" ketus Sahid.
Pria tersebut langsung berpura-pura tertidur di atas sofa.
“Huh, menyebalkan sekali Tuan Muda ini. Aduh ... aku mau pipis lagi, bagaimana ini?" gumam gadis itu yang akhirnya menoleh ke arah Sahid.
"Tuan Muda, bisakah kau menolongku?” pinta Andara seraya mencoba untuk bangkit.
__ADS_1
Awalnya Sahid ingin menolongnya, tetapi saat menuju ke arah gadis itu, dia melihat tombol pemanggil suster dan segera menekan tombol tersebut.
"Kau bisa menekan tombol ini, fungsi tombol ini kan untuk meminta bantuan suster. Dasar gadis bodoh!" cibir Sahid.
"Huh, kupikir Tuan Muda yang akan menolongku. Padahal aku sudah senang sekali membayangkannya. Ternyata, langit memang tak pernah bisa mampir ke bumi," gumam Andara.
Dia menekan tombol pemanggil suster. Tak berapa lama kemudian, seorang suster masuk ke ruang perawatan tersebut. Sahid lalu memerintahkan suster tersebut untuk menolong Andara.
"Tolong gadis ini, Suster. Dia merepotkan sekali, huh!" Sahid menunjuk ke arah Andara.
Lirikan polos yang tak tahu menahu dari gadis itu mampu membuat pria itu menunduk dan berpura-pura kembali merebahkan diri dan tertidur di atas sofa. Padahal Andara berharap kalau Sahid akan benar-benar berubah dan dialah yang akan membantunya.
Sosok hantu Sandara bersedekap seraya berdiri di samping pintu kamar mandi.
"Jangan mulai, deh!" lirih Andara.
"Anda bicara dengan saya, Nona?" tanya suster itu.
"Oh, bukan bukan! Saya hanya sedang berbicara sendiri. Jangan hiraukan!" tutur Andara.
Sandara menatap Sahid yang terbaring di sofa dengan tatapan tajam. Dia bersumpah kalau rencana pembunuhan berikutnya tak akan gagal seperti ini.
Setelah kembali dari kamar mandi, Andara mengucap terima kasih pada sang suster lalu berbaring dan mencoba terlelap. Namun, dia sempat menoleh pada Sahid yang sudah terbaring di atas sofa. Pria itu bisa terlelap juga menemaninya di rumah sakit. Andara kembali turun dan mendekat ke arah pria tersebut.
__ADS_1
"Wah, dia sangat tampan, ya." Andara memuji seraya tersenyum.
Dia menusukkan ujung telunjuknya ke pipi Sahid seraya tersenyum. Gadis itu tak menyangka kalau Sahid akan terlihat sangat tampan saat tertidur pulas.
"Sudah kubilang jangan berharap lebih!" tutur Sandara.
"Hmmm, kau masih ingin membunuhnya?" tanya Andara.
"Tentu saja. Nyawa dibayar nyawa," sahut Sandara penuh keyakinan.
"Tapi, saat penembakan di markas The Cat, kau menyelamatkannya. Iya kan? Kau pikir aku tak tahu. Biarpun tubuh ini kau kuasai, tapi aku melihat kegiatan mu bersama Sahid bagai cuplikan sebuah mimpi," tukas Andara.
"Oh, begitu rupanya."
"Ayo, jelaskan padaku kenapa kau berubah pikiran untuk menyelamatkannya?" tanya Andara penuh selidik.
"Aku hanya ingin dia mati di tanganku sendiri, bukan tangan orang lain!" ketus Sandara.
"Ingat, Sandara, ini tanganku bukan tanganmu sendiri! Jangan kotori tanganku dengan perbuatan hinamu," ucap Andara seraya merebahkan diri di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Andara memiringkan tubuhnya ke arah lain, ia tak mau melihat ke arah Sandara. Sementara itu, setelah mendengar pernyataan Andara barusan, ada hati yang terasa terluka. Tubuh Sandara terasa gemetar. Andara bak menamparnya sangat perih malam itu.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...