Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 6. Rambut Duri


__ADS_3

Bab 6 TCSM


"Sial! Kenapa Sahid bisa lihat aku, sih?" Sandara berjalan mondar-mandir di kamar Andara.


Akhirnya gadis itu mencoba memasuki tubuh Andara. Menggerakkan tubuh gadis itu untuk berjalan ke luar kamar. Bahkan berlari menuju taman di pukul satu dini hari. Sandara menghampiri Pocong Ongki dan Kunkun.


"Wah, kau cukup lama juga berada di tubuh gadis itu," ucap Kunkun.


"Iya, aku sedang mencobanya. Kalau nanti bisa lumayan lama ada di tubuh Andara, aku akan gunakan untuk menghabisi Sahid," sahut Sandara.


"Tapi, Sandara, apa kau yakin kalau Sahid itu jahat dan membunuh keluargamu?" tanya Ongki.


"Sudah jelas dia ketua gangster dan baku hantam siang tadi kan antar gangster. Dia pasti jahat dan dia pasti dalang dari pembunuh orang tua ku. Bantu aku menyelidikinya, ya?" pinta Sandara pada Ongki dan Kunkun.


"Tentu saja," sahut Kunkun.


"Oh iya, tadi Sahid bisa melihatku saat aku hendak mencekiknya. Itu kenapa, ya?" tanya Sandara.


"Kadang manusia bisa melihat kita kalau sedang berada dalam satu frekuensi. Dulu juga Ratu Uwo bilang kalau ada manusia bisa lihat kita, namanya kita lagi sial," ucap Kunkun.


"Ratu Uwo?" Sandara mengernyit.


"Iya, pemimpin hantu di daerah ini. Nanti kamu harus laporan juga ke dia," ucap Kunkun.


"Bener, tuh." Ongki mengangguk.


"Ya udah kalau gitu, aku akan kembali ke kamar dulu. Rasanya sudah mulai lemas mungkin Andara capek," ucap Sandara lalu pamit pada kedua teman hantunya.


Sandara berlari lagi menuju rumah besar keluarga Khan. Sementara itu, Sahid yang terbangun dan selesai dari kamar mandi, sempat melihat Sandara yang memasuki Andara berada di taman. Kali ini, dia tidak bisa melihat para hantu.


"Apa yang gadis bodoh itu lakukan? Apa kebiasaan orang desa begitu, ya. Haruskah dia olahraga sepagi buta ini?" Sahid berdecak mencibir lalu kembali menuju pembaringannya.


...***...


Keesokan harinya, Bibi Mina memberikan Andara buku catatan yang harus ia pelajari mengenai kebiasaan Tuan Sahid. Apalagi ternyata pria itu memiliki lima ekor kucing hitam yang tinggal di kamar khusus dan pastinya harus ia rawat sebaik mungkin. Hari itu, ia langsung ditugaskan menyiapkan keperluan Tuan Sahid untuk pergi bekerja.

__ADS_1


“Pergi bekerja? Bukankah dia hanya seorang gangster yang kerjanya hanya meminta upeti dari orang kaya dan pengusaha? Kenapa juga dia harus berpakaian rapi seperti seorang CEO macam ini, sih?" gumam Sandara saat mendengar penuturan Bibi Mina.


Sementara itu, Andara terlihat antusias saat menyiapkan pakaian untuk Sahid di kamar pria tersebut. Tiba-tiba, Sahid keluar dari dalam kamar mandi. Lelaki tampan itu hanya mengenakan handuk terlilit di pinggangnya. Tubuh telanjang dada dengan perut kotak-kota terbentuk sempurna mengotori kedua mata Sandara dan Andara, yang belum pernah sama sekali melihat penampakan seorang pria seperti itu. Andara sempat berteriak sebelum dia menunduk tak berani menatap ke tubuh Sahid.


“Keringkan rambutku!” titah Sahid.


“Apa?!" pekik Andara.


“Apa kau tuli? Aku tak suka mengulang ucapan dua kali. Jadi jika kau merasa keberatan kau bisa keluar dari pekerjaanmu sekarang!”


“Bu-bukan begitu, hanya saja mengeringkan rambut Anda—“


"Cepat!" bentak Sahid.


"Baiklah!" Andara terlihat antusias.


Tak ada bantahan lagi dari bibir gadis itu. Ia akan pastikan kalau dia bisa bersabar menuruti segala perintah pria itu. Timbul keinginan usil Sandara. Dia memasuki tubuh Andara.


"Kenapa kau lepas kacamata mu itu?" tanya Sahid.


Dia maju perlahan untuk mengeringkan rambut Sahid. Dia meraih handuk kecil yang berada di leher pria itu. Kemudian, ia meraih hair dryer untuk mengeringkan rambut pria itu. Sesekali dia menjambaknya dengan kencang.


"Heh, dasar gadis bodoh! Bisa bekerja tidak, sih?!" pekik Sahid.


“Bisa, bisa, tentu saja bisa. Nah, apa sekarang sudah kering?” tanya Sandara setelah lelah berdiri.


Rasanya dia ingin melilitkan kabel alat pengering itu di leher Sahid lalu mencekiknya. Namun, pria itu malah menarik kabelnya sampai terlepas dari stop kontak.


“Menurutmu kalau kabel ini terikat kencang di leher mu, apa kau masih bisa menarik rambutku seperti tadi?" tanya Sahid seraya menatap tajam wajah gadis itu.


Sandara terhenyak, dia tak menyangka kenapa Sahid seolah tahu apa yang sedang dia bayangkan tadi.


“Maafkan aku, ya. Tapi aku rasa rambut Tuan belum kering. Aku akan melanjutkan lagi." Sandara mencoba menenangkan Sahid meskipun ia terlihat bersungut-sungut.


Akan tetapi, Sahid melempar alat pengering rambut yang ada di tangan itu sampai membentur tangannya lalu jatuh ke lantai. Hal itu sampai membuat gadis itu tersentak.

__ADS_1


“Awww! Ini sakit tau! Dasar kau pria bajing–” pekik Sandara tetapi segera dia hentikan ucapannya.


"Kau mau bilang apa?!" tantang Sahid.


"Bu-bukan, bukan apa-apa." Gadis itu hanya bisa menunduk.


Dia tak mengerti kenapa tatapan tajam itu sukses membuatnya luluh lantak dan tak berani menatap Sahid. Pria itu hanya menoleh sekilas pada gadis yang sedang cemberut itu. Pria itu dengan cueknya hendak membuka lilitan handuk di pinggangnya.


“Astaga!” pekik Sandara seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


“Lalu, sedang apa kau masih di situ?! Apa kau sengaja ya mau melihat seluruh tubuhku?” tanya Sahid dengan ketusnya.


“Huh, percaya diri sekali orang ini!” Sandara langsung bergegas menuju ke luar.


Ia tutup pintu kamar lelaki tersebut dan berdiri di depan pintu tersebut. Gadis itu menghentak-hentakkan kedua kakinya meluapkan kekesalan.


Namun, keadaan di dalam kamar tuan muda itu berbeda. Senyum tipis tersungging di sudut bibir Sahid kala melihat Sandara yang sedang berada di dalam tubuh Andara itu tampak panik.


“Menyebalkan sekali orang itu,” keluh Sandara.


Dia mencoba meredam amarah yang ingin meluap itu. Ikatan kepang dua milik Andara ia buka, lalu ia gerai rambut hitam sepunggung yang lurus dan halus itu.


Gadis itu masih berusaha untuk tetap berada dalam tubuh Andara. Dia juga meninju telapak tangannya sendiri dengan geram seraya mondar-mandir.


Sahid yang sudah membuka pintu itu sampai tak disadari keberadaanya oleh Sandara yang masih menggerutu. Pria itu tepat berdiri di belakang tubuh gadis itu. Dia mengamati sosok Andara yang berubah menjadi Sandara. Andara yang tampak cupu khas gadis desa yang sederhana, tampak lebih modern kala rambut itu tergerai. Sahid harus mengakui kalau gadis itu tampak cantik.


"Huh, menyebalkan sekali pria itu. Awas kau ya si rambut duri, lihat saja nanti. Aku akan akan pastikan membalas semuanya. Aku akan membuat rambut duri itu keriting bahkan terbakar, lihat saja nanti!" Sandara bermonolog dengan dirinya sendiri sambil mondar-mandir.


“Rambut duri? Siapa yang kau bilang rambut duri?”


Sahid buka suara dengan nada membentak. Dia mengejutkan gadis itu sampai langkahnya terhenti.


...*****...


...To be continued. ...

__ADS_1


__ADS_2