
Bab 36 TCSM
Setelah menghabisi nyawa istrinya, Andre bergegas menuju bandara internasional karena ia harus kabur dari negara tersebut ke luar negeri. Akan tetapi, saat dalam perjalanannya menuju ke bandara, dua mobil sedan hitam menghadang.
"Sial! Siapa mereka itu berani menghadang jalanku?" keluh Andre.
Pria itu langsung meraih senjata api dari dalam dashboard mobilnya dan bersiap mengarahkan tembakan jika pengendara dalam dua mobil itu nantinya mengancam. Benar saja dugaan Andre, enam pria dengan senapan yang siap menembaknya turun dari mobil-mobil tersebut.
"Letakkan pistolmu, atau semua anak buahku akan menembakmu!" ancam Jhony seraya berseru pada Andre.
Pria yang tersudut itu akhirnya pasrah. Dia dikepung oleh enam orang bersenjata dan pasti akan mati karena kalah jumlah. Andre menghela napas dalam, embusan berat terdengar dari helaan napasnya.
"Sial! Baiklah, aku menyerah." Andre yang dalam todongan senjata api di kepala itu, terpaksa masuk ke dalam mobil Jhony.
...***...
Setelah Sahid menjelaskan semuanya pada Andara, sosok Sandara akhirnya pamit. Dia meminta Sahid untuk menjaga Andara. Tadinya, Sandara ingin mengikuti egonya agar bisa bersama Sahid. Namun, setelah tahu dia saudara kembar Andara, gadis itu dengan ikhlas mengalah. Lagipula alamnya dan alam Sahid sudah berbeda.
__ADS_1
Pagi itu, Sahid mengetuk pintu kamar Andara dengan penuh semangat. Gadis itu meminta Sahid untuk diantarkan ke makam keluarga Mahardika, keluarga kandungnya. Meskipun belum pernah bertemu dengan ayah, ibu, dan adiknya, saat di malam perpisahannya dengan Sandara, dia sempat diceritakan dan ditunjukkan foto keluarga Mahardika di halaman akun sosial media milik Sandara dan Sandrina.
Sahid memasuki kamar Andara yang berbeda dari sebelumnya. Kini, gadis itu tak lagi menempati kamar untuk asisten rumah tangga. Nyonya Anjani sudah diceritakan semua kebenaran tentang keluarga Mahardika. Untungnya, Nyonya Anjani mengerti. Dia kemudian memindahkan kamar Andara karena tak ingin gadis itu menempati kamar pembantu lagi.
"Hoaammm ... ada apa? Ini kan masih pagi buta?" tanya Andara seraya merentangkan tangannya ke atas di harapan Sahid.
"Pagi buta katamu?! Aku sengaja membiarkan Bibi Mina agar tak membangunkanmu tapi ini sudah jam sepuluh Nona Muda!" ucap Sahid dengan nada meninggi.
"Astaga! Jam sepuluh?! Aduh, jam wekerku pasti mati rupanya. Maaf ya Tuan Muda, maafkan saya. Beri saya waktu lima menit, setelah itu kita akan menuju ke makam," ucap Andara.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku Tuan Muda, panggil aku apa?" Sahid mendekatkan telinganya ke wajah Andara.
"Sa-sayangku," ucap Andara lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.
"Duh, lucunya! Huh, kenapa dia makin lama makin menggemaskan begitu, sih?" Sahid lantas merebahkan tubuhnya di atas ranjang Andara.
Dua puluh menit kemudian...
__ADS_1
Andara keluar dari dalam kamar mandi seraya bersenandung. Ia hanya memakai handuk menutupi tubuhnya. Padahal Sahid masih berada di kamarnya dan berbaring di atas ranjang gadis itu. Dia tak menyadari kalau ada sang kekasih masih terbaring di kamarnya.
Andara terlihat sangat ceria dan bahagia. Dia sampai menari-nari dan menyanyi saat menuju lemarinya tanpa tahu masih ada Sahid di dalam kamar tersebut. Setelah meraih kemeja biru dan celana kulot hitam serta pakaian dalam, gadis itu bersiap untuk berganti pakaian. Tiba-tiba, terdengar suara seorang pria menyapa.
"Hai!"
Suara Sahid terdengar menggema di kamar Andara dengan penuh menggoda. Apalagi ia memasang posisi tubuh berbaring miring dan tangan kanan memangku kepalanya di atas ranjang gadis itu.
"Hai!"
Andara malah membalas sapaan itu tanpa sadar. Hampir saja gadis itu membuka lilitan handuk di tubuhnya. Ia langsung buru-buru menutupinya ketika baru sadar kalau ada seorang pria menyapa di kamarnya.
"Ya Tuhan! Apa yang Tuan Muda lakukan di kamarku?" pekik Andara seraya memukul Sahid dengan guling.
...*****...
...To be continued ...
__ADS_1