
Bab 17 TCSM
"Kenapa? Kau rindu denganku?" Sandara muncul di atas ranjang Andara.
"Lihat ini! Apa yang kau lakukan bersama Tuan Muda sampai membuatku begini, hah?!" pekik Andara seraya menunjuk ke arah lehernya.
"Aku mau membunuhnya. Tapi malah aku mabuk, hehehe." Gadis itu terkekeh tanpa rasa bersalah.
"Apa?! Kau mabuk? Lalu, kau bersama Tuan Muda–"
"Tidak ada hal-hal yang kau inginkan terjadi. Dia meninggalkanmu setelah meninggalkan jejak itu. Jangan terlalu ge er!" cibir Sandara.
"Awas kau, ya, kalau sampai hal ini terjadi lagi harusnya kau pergi dari tubuhku. Kau tau kan aku menyukai Tuan Muda?"
"Aku tahu, dan aku tak peduli!" Sandara lantas tertawa terbahak-bahak lalu menghilang.
...***...
Sahid meminta Jhony mengantar Nyonya Anjani yang terkena sakit pinggang. Dia lalu memanggil Andara agar menjadi sopirnya dan menemaninya bertemu Harry. Andara panik karena tak bisa mengemudi. Akhirnya, Sandara kembali mengambil alih tubuh gadis itu. Sandara lalu mengikuti Sahid untuk bertemu Bos Harry di suatu tempat.
"Kita mau ke mana?" tanya Sandara.
Tak ada jawaban dari Sahid. Hanya sorot mata tajam yang sukses membungkam Sandara. Setelah satu jam perjalanan, mereka sampai di sebuah penangkaran hiu milik keluarga Khan.
"Wow, kau punya hiu rupanya!" seru Sandara dengan takjub.
"Norak!" cibir Sahid.
__ADS_1
Sahid dan Sandara melihat dua orang pria yang terlihat sudah berdebat dengan sengit. Mereka sedang berdebat tentang aturan Sahid yang tak memperbolehkan The Black Cat menjual obat-obatan terlarang lagi.
"Jangan masuk dulu, kita sembunyi di sini!" titah Sahid pada Sandara.
Gadis itu menurut. Sahid lantas menghubungi Jhony dari gawainya.
"Apa yang Harry lakukan di sana?" tanya Sahid pada Jhony melalui ponselnya.
"Sepertinya, Bos Harry tidak mematuhi perintah Anda, Tuan." Suara Jhony terdengar dari dalam ponsel pintar itu.
"Jadi, pria itu tetap melakukan transaksi tanpa sepengetahuan aku?!" Sahid mulai menegang.
"Sepertinya begitu, Tuan," sahut Jhony.
"Jika sudah selesai dengan nenek, lekas ke sini!" titah Sahid.
Sambungan ponsel itu lantas terputus.
"Kau tetap di sini," pintanya pada Sandara.
Sahid menemui Harry. Pria itu tampak gusar kala Sahid datang. Terjadi keributan antar kedua pria itu. Sahid mencoba menghentikan transaksi Harry. Sang penjual merasa tertipu karena si pemimpin The Black Cat tak menyetujui perdagangan tersebut.
Sandara yang sedari tadi mengamati dari dalam mobilnya itu terkejut dengan suara tembakan. Salah satu pria penyelundup itu mengarahkan senjata api berjenis colt ke arah paha Harry. Akhirnya demi menolong keselamatan kawannya tersebut, maka terjadilah baku hantam dan saling tembak antara Sahid dan para penyelundup obat terlarang tersebut.
Sandara memilih bersembunyi di dalam mobil dengan kepala menunduk demi menghindari pertikaian tersebut. Gadis itu sempat berpikir ingin kabur dan membiarkan pertikaian itu terjadi. Bahkan Sandara berharap kalau Sahid tewas tertembak. Dia bersiap-siap menyalakan mesin mobil agar bisa kabur dari tempat tersebut.
Namun, Sandara merasakan suasana hening tak lama kemudian. Gadis itu mencoba mengintip dengan menaikkan kepalanya perlahan-lahan. Tiba-tiba, Sahid masuk ke dalam mobil mengejutkannya.
__ADS_1
"CEPAT PERGI!” perintah Sahid.
Gadis itu masih terdiam menatap Sahid yang pelipisnya terluka.
“CEPAT PERGI TUNGGU APA LAGI!” bentak Sahid.
Sandara melihat salah satu anak buah Sahid sedang memapah Bos Harry menuju mobil sedan putih dari kaca spion saat melajukan mobil milik Sahid. Dia paham ternyata perkelahian tadi pastinya dimenangkan oleh The Black Cat.
"DARA, AYO PERGI!"
"Okay!" sahut Sandara.
Sandara segera melajukan mobil itu ke luar dari penangkaran hiu. Akibat dari pertikaian senjata itu pasti ada orang luar yang akan menghubungi pihak berwajib. Oleh karena itu, Sahid meminta Sandara mempercepat laju kendaraan tersebut agar tidak tertangkap.
Namun, mereka tidak menuju ke rumah sakit atau klinik untuk diobati. Mereka malah menuju ke sebuah gudang persembunyian markas The Black Cat.
"Suruh tim medis kita ke sini!" titah Sahid pada salah satu anak buah yang membukakan pintu gerbang untuknya.
"Baik, Tuan!"
Sandara turun lalu mengikuti Sahid ke sebuah ruangan. Di dalam sana, Sahid memberikan kotak P3K dengan kasar ke tangan gadis itu.
"Obati lukaku!" perintah Sahid sambil menunjuk ke arah luka di pelipisnya.
"Kenapa bukan tim medis saja, sih?!" seru Sandara.
Sahid mengarahkan pistol dari celana belakangnya dan mengarahkan ke arah wajah Sandara penuh ancaman.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...