Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 34. The Dog VS The Black Cat


__ADS_3

Bab 34 TCSM


"Kurang ajar kau Tanaka! Lepaskan gadisku! Dia milikku!" seru Sahid yang bergegas mengikuti Tanaka.


Sahid mengarahkan pistol di tangan dengan sangat hati-hati karena Tanaka terlihat mengancam Sandara dengan todongan pistol di kepala.


“Lepaskan dia!” seru Sahid lagi.


“Tak akan! Lagipula apa kau belum tau ya, kalau sebenarnya gadis ini datang ke rumahmu untuk menghabisimu?” tanya Tanaka.


“Aku sudah tau itu. Aku juga tau kalau aku dan dia sebenarnya dijebak oleh pria yang bernama Andre Mahardika, iya kan?” tantang Sahid.


Kedua mata Sandara terbelalak. Ia tak menyangka kalau ternyata Sahid sudah tahu semua tentang kebusukan dari Paman Andre.


“Oh, begitu rupanya. Apa kau sangat menginginkan gadis ini?” Tanaka mencoba meledek Sahid menggunakan Sandara.


“Aku sangat menginginkannya, lepaskan dia!” seru Sahid masih mengarahkan senjata tajamnya pada Tanaka.


“Hmmm … sepertinya kau sangat menyukai gadis ini. Kalau begitu akan lebih menyenangkan jika kubunuh dia di hadapanmu.” Tanaka tersenyum menyeringai penuh ancaman.


Tiba-tiba, Sahid melihat pergerakan Sandara yang aneh. Gadis itu memberi kode dengan kedipan mata. Dia meminta Sahid untuk menembak Tanaka saat Sandara mencoba menolehkan kepalanya nanti. Sahid mulai tahu kode dari gadis itu.


Namun, tanpa menunggu kesiapan Sandara, tiba-tiba suara letusan senjata api terdengar memekakkan indera pendengaran Sandara.


Dor! Dor!


“Awww! Kupikir kau penembak yang handal, Tuan Muda!” Sandara menyentuh bagian bahunya yang tak sengaja terkena goresan peluru yang melayang ke arah leher Tanaka.


Ketua gangster The Dog itu tewas seketika setelah dua tembakan nekat dari Sahid mengenai leher pria itu.


“Maafkan aku, tadi kan kupikir setelah kau memberi aba-aba dengan kedipan matamu itu kau langsung menunduk. Ternyata aku terlalu cepat menarik pelatuk ini,” ucap Sahid menghampiri Sandara dan mengamati luka di bahu gadis itu.


“Kalian tak apa-apa?” tanya Jhony yang baru saja selesai membereskan para musuh di dalam.


“Pak Jhony, memangnya tak lihat ini bahuku terluka!” sahut Sandara menunjukkan luka di bahunya.

__ADS_1


“Apa itu serius, Nona?” Jhony mencoba melihat luka gadis itu dengan menyentuhnya, tetapi tangan Sahid sudah sigap menepis tangan pria itu.


“Jangan coba-coba!” seru Sahid.


“Wow, jadi karena gadis ini kau membawa kami menyerang The Dog selarut ini? Wah, wah, wah, wah! Tuan Muda ku ini tengah jatuh cinta rupanya!"


Prok prok prok!


Jhony bertepuk tangan seraya tersenyum lebar melihat Sandara dan Sahid.


“Sudah sana, urus para polisi yang mulai berdatangan itu!” perintah Sahid.


“Baiklah, Bos Tuan Muda ku! Wah, pokoknya selamat menikmati kencan kalian!" seru Jhony.


Pria besar itu melangkah menuju ke para polisi yang berdatangan. Pastinya untuk kejadian heboh malam itu, ia harus mengeluarkan uang perusahaan lebih besar kepada para polisi agar selalu menjaga The Black Cat aman dari jeratan hukum.


“Ayo, kita ke rumah sakit!” Sahid membopong tubuh gadis itu menuju ke dalam mobil.


“Duh … yang sakit kan bahuku bukan kakiku, aku bisa jalan sendiri tau. Turunkan aku!” pekik Sandara.


Sandara sangat bahagia, tetapi ia sadar kalau kemungkinan waktunya di dunia ini tak akan lama lagi. Sandara ingin egois memiliki Sahid dengan tetap berada di tubuh Andara, tetapi rasanya tak mungkin.


...***...


Sesampainya Sahid dan Sandara di rumah sakit, gadis itu segera di tangani oleh dokter jaga yang sedang bertugas. Untung saja gadis itu hanya mengalami luka gores dari peluru sehingga ia bisa pulang malam itu.


“Aku lapar, boleh minta makan?” Sandara tiba-tiba merengek manja pada Sahid saat menuju parkiran mobil.


“Katakan lagi kau mencintaiku,” pinta Sahid.


“Hmmm, memangnya tadi aku bilanv begitu?" Sandara mengernyit.


Wajah Sahid langsung merah padam menahan kesal.


"Okay, baiklah baiklah. Bawa aku menemui Nyonya Anjani lalu aku akan minta makan saja pada Bibi Mina saat pulang ke rumah nanti.” Sandara menggoda Sahid dan menoleh ke arah lain.

__ADS_1


Tiba-tiba Sahid menarik lengan Sandara dan membawanya ke dalam pelukan. Pelukan yang sangat dalam dan erat. Kehangatan cinta begitu terasa.


“Aku mencintamu,” ucap Sahid yang tak bisa menahan dirinya memeluk gadisnya.


Kebahagiaan terpancar di wajah Sandara apalagi detak jantung pria itu terdengar begitu cepat sampai membuatnya tersenyum kegirangan.


“Hei, aku kan bilang mencintaimu! Kenapa kau tak menjawabnya?” Sahid melepas pelukannya dan mencengkeram kedua bahu Sandara.


“Aww, sakit!” keluh Sandara.


“Maaf, maafkan aku.” Sahid melepas sentuhannya.


“Kau itu, ternyata menggemaskan, ya.” Sandara mengerling lalu gadis itu membuat gerakan secara tiba-tiba.


Cup.


Kecupan lembut mendarat di pipi kanan Sahid dari bibir mungil Sandara, sampai membuat pria itu terdiam. Tuan Gangster itu menyentuh pipi kanannya dengan senyuman bahagia.


“Kita pergi makan dulu, ya?” pinta Sandara menarik lengan Sahid menuju ke arah mobil.


Rasanya dia harus mengatakan semua kebenaran yang selama ini ia sembunyikan dari Sahid. Meskipun semua akan terasa menyakitkan dan menyedihkan.


“Wah, gadis ini benar-benar membuatku terdiam." Sahid masih mengusap pipi kanannya.


"Tuan Sahid Aryan Khan! Ayo, kita makan! Aku lapar nih!" Sandara memberikan satu kedipan mata genit yang menggoda.


"Oke, oke. Mulai sekarang jangan panggil aku Tuan. Kau harus panggil aku kekasih tampan ku," pinta Sahid.


"Cih, panggilan macam apa itu?" Sandara mengernyit.


"Ummm, kalau begitu panggil aku … sayangku yang tampan."


"Hadeh!" Sandara menepuk dahinya sendiri.


...*****...

__ADS_1


...To be continued ...


__ADS_2