Terjebak Cinta Sang Musuh

Terjebak Cinta Sang Musuh
Bab 7. Berada di Kantor Sahid


__ADS_3

Bab 7 TCSM


“Heh, apa yang kau lakukan di belakangku?! Eh, maaf aku lupa kau Tuan Muda di sini,” ucap Sandara yang tadinya membentak jadi melunak nada suaranya.


“Siapa yang kau bilang rambut duri?” tanya Sahid lagi seraya berkacak pinggang.


Sandara mengamati pria di hadapannya dengan saksama. Tubuh tinggi tegap dibalut dengan stelan jas biru navy bermotif garis vertikal warna putih dan senada dengan warna celana kulot yang dikenakan, membuat pria itu terlihat sangat tampan. Pria itu benar-benar menggemaskan untuk dilihat. Dipandangnya sosok Sahid dari bawah sampai atas rambut sambil berdecak kagum.


“Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku tampan, ya? Lalu kau naksir padaku?" Sahid mendorong dahi gadis di hadapannya dengan jari telunjuknya.


Gadis itu tersentak dari lamunannya dan malah berkata, “iya.”


“Hahaha, dasar gadis mesum! Kau itu masih terlalu kecil untuk membayangkan tubuhku,” cibir Sahid.


“Ba-ba-bagaimana mungkin aku berani membayangkanmu, huh? Kau itu menjijik—”


“Siapkan sarapanku, sekarang!” potong Sahid.


Pria itu bergegas melangkah menuruni anak tangga menuju ruang makan diikuti Sandara di belakangnya. Dia merutuki Sahid dan seolah hendak meninju kepala belakang pria itu dengan tangannya yang mengepal.


“Menyesalnya aku sampai bilang dia tampan. Duh, menyebalkan sekali,” gerutu gadis itu sambil bersungut-sungut.


Sayangnya, tubuh Andara yang tengah dirasuki itu goyah. Gadis itu tergeletak tak sadarkan diri kemudian.


"Heh, kau kenapa tidur di situ?!" pekik Sahid.


"Haduh, kenapa tubuh ini lemah begini, sih? Aku kan jadi keluar sekarang," gumam Sandara yang memperhatikan tubuh Andara yang sedang tak sadar.


Sahid bergegas naik dan menyentuh tangan Andara. Masih ada denyut nadi terasa di sana.


"Apa gadis ini darah rendah, ya?" gumam Sahid.


Hampir saja ia meminta tolong pada para asisten rumah tangga di rumahnya, sosok Andara telah terjaga. Kepalanya berdenyut hebat.


"A-apa, apa yang terjadi?" tanya Andara tak mengerti.


"Huh! Kalau sedang sakit sebaiknya kau istirahat saja! Ini pasti karena kah berolahraga jam dua pagi," ucap Sahid lalu pergi meninggalkan Andara yang tengah kebingungan.


"Olahraga jam dua pagi? Apa sih yang dia katakan itu, aku kok tidak paham," ucap Andara.


Gadis itu bangkit lalu menyusul Sahid ke ruang makan. Setibanya gadis itu di ruang makan, dia melihat begitu banyak makanan hanya untuk sarapan. Ada semangkuk besar nasi goreng yang bersanding dengan ayam goreng dan telur mata sapi lengkap dengan sayuran salada dan mentimun serta tomat. Ada pula roti yang sudah di panggang lengkap dengan telur dan selada khas sandwich. Di samping piring roti itu juga ada berbagai macam selai buah. Lalu, ada juga secangkir teh manis dan juga kopi yang tertata rapi di atas meja.

__ADS_1


Aandara melihat Nyonya Anjani yang sudah dengan lahap menyantap nasi goreng. Oleh karena itu ia bergegas meraih piring dan mengambilkan nasi goreng untuk Sahid. Tiba-tiba, pria itu menyentuh tangan Sandara dan mencengkeramnya dengan kuat.


“Apa Jhony tidak memberimu catatan?” tanya Sahid.


Sandara menoleh pada Tuan Jhony, di sampingnya ada Bibi Mina yang langsung terlihat cemas.


“Apa aku melakukan kesalahan, ya?” batin Andara.


“Saya sudah memberikan dia catatan, Tuan,” jawab Jhony.


“Saya bertanya pada gadis ini bukan pada Anda, Mr. Jhony!” ketus Sahid dengan tatapan tajam.


“Maaf, Tuan, kalau memang aku salah. Tolong jangan bentak orang lain,” pinta Andara memelas.


“Kalau Jhony sudah memberikan buku catatan tentang kegiatan dan kebiasaanku, harusnya kau tahu ini hari apa dan aku mau makan apa!" bentak Sahid.


“Ini hari kamis, memangnya … astaga aku kan belum menghapal semuanya. Maafkan aku, Tuan,” ucap Andara.


Sahid mendorong tangan yang ia cengkeram itu saat melepaskannya dengan kesal. Bibi Mina menghampiri Andara.


"Maafkan keponakan saya, Tuan Muda," ucap Bibi Mina lalu berbisik pada Andara, "Hari ini Tuan Muda sarapan roti sandwich, jangan lupa beri dua telur setengah matang itu. Lalu, berikan dia kopi susu."


“Makan saja pakai dijadwal, harusnya bersyukur dengan makanan yang banyak dan ada di atas meja seperti ini. Harusnya dia makan saja apa yang ada,” sahut Andara seraya berbisik juga tetapi terdengar oleh Sahid.


“Sahid, hentikan! Baru semalam dia tinggal di sini. Jadi wajar saja kalau dia belum hapal kebiasaanmu, jangan pecat dia!” Nyonya Anjani langsung buka suara setelah dari tadi menyimak.


“Pagi, Tuan Jhony dan yang lainnya, mari kita sarapan!” Nyonya Anjani lalu mempersilakan pria itu untuk duduk.


“Terima kasih, Nyonya. Saya sudah sarapan."


...***...


Satu minggu berlalu, Sandara mulai hapal tabiat dari Sahid. Pagi itu, dia kembali memasuki tubuh Andara. Semoga hari ini bisa bertahan dalam tubuh itu lebih lama dari sebelumnya. Setelah segala keperluan Tuan Sahid sudah terpenuhi, Sandara masih mengamati Sahid di kamar pria itu.


"Kau sudah membersihkan dan memberi makan kucing-kucingku?" tanya Sahid.


"Sudah!"


"Ganti pakaianmu itu lalu ikut aku ke kantor!" seru Sahid.


"Saya? Untuk apa?" tanya Sandara.

__ADS_1


"Kau asistenku, jadi aku butuh kamu untuk mengurus semua urusanku."


"Tapi kan ada sekretaris Anda, kenapa harus aku?" Sandara berusaha membantah.


Sahid bangkit dan mengamati gadus itu dengan saksama.


"Bukankah kemarin kau yang minta ingin ikut ke manapun aku pergi?" tanyanya.


"Aku?" Sandara terdiam dan akhirnya mengerti.


Hal itu pasti permintaan Andara yang mulai menyukai Sahid dan menuruti apa pun yang Sahid mau. Namun, timbul kesempatan baginya. Siapa tahu dia bisa menemukan gangster The Black Cat dan mengetahui seluk beluk gangster itu. Lalu, dia akan beritahu semua pada pamannya.


"Oke, aku ikut!" sahut Sandara.


"Dasar gadis aneh!" cibir Sahid.


Sahid lalu mengikuti langkah cepat tuannya menuju ke dalam mobil. Kemudian, mereka melaju menuju ke sebuah gedung berlantai sepuluh yang dindingnya dilapisi kaca.


Ternyata Sahid memiliki perusahaan yang bergerak di bidang otomotif hasil keringatnya sendiri bernama Khan Otomotif. The Black Cat adalah kelompok gangster milik almarhum kakeknya yang meninggal satu tahun lalu karena serangan jantung.


Sebenarnya pria itu tak ingin melanjutkan kelompok gangster tersebut sama seperti ayahnya dulu, akan tetapi dia sudah berjanji pada sang kakek untuk menggantikan posisi sebagai ketua The Black Cat demi kehormatan keluarga Khan.


“Bos, Tuan Tanaka berulah lagi,” ucap anak buah Sahid yang memiliki postur tubuh besar dan berkumis tebal menyeramkan itu.


“Apa yang dia lakukan kali ini, Tuan Jhony?" Sahid melirik ke arah Jhony dengan geram.


"Maafkan saya karena lengah akan hal ini," jawab Jhony seraya menundukkan kepalanya.


Tangan kanan Sahid menunjuk ke arah lemari pendingin. Lelaki itu ingin Sandara yang mengambilkan sekaleng soda untuknya. Tahu dirinya diberi perintah, Sandara segera bergegas mengambilkan minuman untuk pria itu.


“Tanaka menjual gaanja dan menjebak anak buah kita,” ucap pria besar tadi.


“Kau yakin tidak ikut-ikutan dalam penjualan itu?” tanya Sahid seraya meraih kaleng soda dari tangan Sandara.


“Tidak, Bos, sumpah saya tidak ikut-ikutan! Bukankah Bos sendiri yang bilang untuk menghentikan perdagangan obat-obatan terlarang, jadi saya menurut.”


“Bagus, kalau begitu kau urus pembebasan anak buah kita. Dan jika anak buah Tanaka berulah lagi, musnahkan mereka!” titah Sahid.


“Baik, Bos.” Pria besar itu lalu pergi.


...*****...

__ADS_1


...To be continued ...


__ADS_2