
Bab 28 TCSM
Andre, pria berusia lima puluh tahun itu akhirnya menceritakan rencana busuknya dengan Sandara di hadapan Sahid. Ia menertawakan betapa bodohnya seorang ketua gangster The Black Cat yang mampu dibodohi oleh seorang gadis muda itu. Pemimpin gangster itu akhirnya tahu kalau tujuan Sandara mendekatinya selama ini yaitu ingin membunuhnya.
"Apa kalian benar-benar akan melakukan ini?" tanya Ari.
"Kau diam saja di sini. Biar ayah dan Sandara yang urus!" tukas Andre.
Paman Andre dan Sandara membawa Sahid yang tangannya terikat ke belakang dengan tali itu ke sebuah tebing. Bunyi suara ombak terdengar marah dan menderu menghantam ke dinding tebing.
“Lakukan tugasmu, Sandara, demi keluargamu!” perintah Paman Andre pada Sandara lalu pergi meninggalkan keduanya.
“Kenapa kau lakukan ini? Berapa uang yang kau terima dari The Dog?” hardik Sahid dengan geram. Dia tak menyangka gadis yang dicintainya akan melakukan hal tega seperti itu.
“Aku tak ada hubungannya dengan The Dog! Aku melakukan ini demi keluargaku. Mereka yang sudah kau bunuh!" pekik Sandara.
"Aku membunuh keluargamu?" Sahid mengernyit tak mengerti.
"Ya, karena ayahku tak mau bekerja sama dengan The Black Cat maka kau perintahkan anak buahmu untuk membunuh kami dalam sebuah kecelakaan mobil. Sayangnya, aku berhasil selamat sehingga aku bisa membalas dendam padamu,” sahut Sandara seraya mengacungkan revolver di tangannya ke wajah Sahid.
“Aku tak mengerti maksudmu, aku tak pernah memerintahkan siapapun untuk membunuh satu keluarga. Dengarkan aku, Dara Sayang!" Sahid berusaha membela diri.
“Diam, cukup hentikan! Aku bukan Andara! Aku Sandara! Aku bukan kekasihmu yang lugu itu!" seru Sandara.
__ADS_1
“Baiklah, Sandara dengarkan aku! Ayo, tatap mataku! Adakah kebohongan di mata ini?!” seru Sahid.
Ada keraguan saat gadis itu menodongkan pistol revolver itu ke arah Sahid. Dia merasa pria itu tak berbohong. Atau mungkin juga karena gadis itu mulai merasa jatuh cinta pada pria itu. Kedua tangan gadis itu gemetar.
“Perlukah aku membuktikan cintaku padamu?” lirih Sahid.
“Hentikan ocehan tentang cinta!” teriak Sandara seraya menangis.
“Baiklah, aku akan membuktikannya kepadamu kalau aku tak pernah berbohong tentang semua perkataanku tadi."
Sahid menghentikan ucapannya sejenak lalu tersenyum tulus pada Sandara.
“Entah kau Sandara atau Andara sekali pun, aku mencintaimu.”
“SAHID!!!”
Sandara meneriaki pria itu dari atas tebing. Ia berusaha memindai dan mencari keberadaan Sahid dalam lautan luas. Ia tak menyangka kalau Tuan Gangster itu akan nekat mengakhiri hidupnya sendiri.
Sandara menangis, meratapi kepergian Sahid. Namun, hati kecilnya menguatkan dia untuk bangkit karena itulah tujuan yang dia inginkan. Kedua kaki ramping gadis cantik itu seolah tak bisa menahan tubuh ramping miliknya untuk berdiri. Sandara sampai kembali terjatuh dan berlutut tak dapat membendung bulir bening kesedihannya.
Hati kecilnya terasa sakit. Apalagi kala mengingat sosok Sahid yang terlihat lugu meskipun menjadi ketua gangster. Pria itu juga mulai baik dan tulus mencintainya. Akan tetapi, lagi-lagi dia ditampar oleh kenyataan dan dipaksa mengingat tujuan awalnya. Karena memang inilah maksud dia saat mendekati seorang ketua gangster The Black Cat. Dia harus memenuhi hasrat balas dendam karena ingin melihat Sahid mati.
Sandara kembali ke villa dengan perasaan hancur. Seharusnya ia merasa senang karena misi yang ia jalankan berhasil, tetapi tidak saat itu. Dia tak bisa membohongi diri kalau ada serpihan hatinya yang hancur kala mengingat senyuman terakhir seorang Sahid Aryan Khan sebelum laki-laki itu terjun ke laut lepas.
__ADS_1
“Mungkinkah aku telah jatuh cinta padanya?” gumam Sandara sambil melangkah gontai.
Gadis itu mengingat kembali kecupan yang masih terasa manis di bibirnya. Harusnya dia dengarkan dulu penjelasan dari Sahid dan mencari tahu lebih dalam lagi kejelasan tersebut. Sandara menarik kasar bahkan mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gemas dan kesal.
Tiba-tiba, langkah gadis itu terhenti, Ari menarik tangan Sandara. Dia meminta gadis itu untuk bersembunyi. Mereka lalu mencuri dengar suara percakapan Andre dengan seorang pria yang tak dia kenal. Ari membawa Sandara untuk bersembunyi di samping bak sampah, menahan aroma busuk.
"Sssttt, diam di sini! Jangan bersuara, San!" titah Ari.
"Memangnya kenapa?" bisik Sandara.
"Nanti kau juga tahu," bisik Ari.
“Jadi, kamu berhasil mempengaruhi gadis itu untuk membunuh Sahid?” tanya si pria bermata sipit dengan perut agak buncit itu. Di tangannya tergenggam cerutu yang sedang ia hisap.
“Tentu saja rencana ku ini akan berhasil, Bos. Kalau aku pikir-pikir, aku tak menyangka jika anaknya Sandi akan mudah untuk dibodohi,” sahut Paman Andre.
“Ya, kau hebat dan benar sekali ucapanmu itu. Seperti yang kita rencanakan sebelumnya, toh jika gadis itu tak berhasil maka bisa jadi dia mati dibunuh kelompok The Black Cat. Tapi, kalau aku pikir-pikir, hebat juga gadis itu karena ternyata dia malah berhasil membunuh ketua The Black Cat.” Tanaka tertawa.
“Bukan hanya itu, dia berhasil mempengaruhi dan membuat Sahid jatuh cinta, bukan kah itu lucu?"
Kedua pria itu terbahak-bahak dengan penuh kepuasan.
...*****...
__ADS_1
...To be continued...