
Bab 16 TCSM
Keesokan harinya, Andara sudah terbangun di kamarnya. Kepalanya berdenyut dan sangat pusing.
"Duh, kepala aku pusing banget. Si Sandara apain badan aku, sih?" Andara meregangkan tubuhnya sebelum menuju ke kamar mandi.
Tak dia temukan sosok hantu Sandara di sana. Ketukan di kamarnya lalu membuat gadis itu bangkit. Dengan langkah lunglai, dia meraih gagang pintu dan membukanya.
"Andara, Tuan Muda cari kamu dari tadi," ucap Bibi Mina.
"Okay, baik Bi. Aku mandi dulu."
"Dara sebentar, kau baik-baik saja, kan?" Bibi Mina menahan tangan Sandara dan mengamatinya dengan saksama. Ada raut khawatir yang ia siratkan dari tatapan teduh wanita itu.
"Ada apa, Bi?" tanya Andara tak mengerti.
"Andara kau harus ingat siapa dirimu dan siapa Tuan Muda. Tolong jangan persulit hidup kita," ucapnya.
"Maksud Bibi apa, sih?" Andara mengernyit.
"Sudah sana lekas mandi, nanti Tuan Muda marah!"
"Iya, Bibi ku yang cantik." Andara lalu menuju kamar mandi untuk para asisten rumah tangga. Dia masih menggaruk kepala karena tak paham dengan yang dibicarakan Bibi Mina.
Setelah dia berganti pakaian, Andara menuju ke kamar Sahid. Dia bertemu Jhony yang sedang duduk membaca koran di sofa depan kamar Sahid.
"Pagi, Pak Jhony!" sapa Andara.
"Pagi, Dara. Bangunkan Tuan Muda sekarang!" titahnya.
"Loh, katanya dia cari aku, kenapa malah belum bangun?" Andara mengernyit.
__ADS_1
"Saya yang cari kamu buat bangunin Tuan Muda. Katakan padanya agar bergegas menemui Bos Harry. Saya tak berani,"bisik Jhony.
"Huh!"
Setelah mengerucutkan bibirnya, gadis itu untuk masuk ke kamar Sahid. Pria itu terbangun karena pancaran sinar mentari sampai ke pelupuk mata setelah gadis itu membuka tirai tersebut.
“Selamat pagi, Tuan Muda. Ayo, bangun dulu sambut mentari pagi yang cerah ini dengan senyum paling menawan! Kau harus bekerja. Menurut Pak Jhony, hari ini akan ada pertemuan dengan Bos Harry,” ucap Andara seraya menyingkap selimut tebal yang menutupi pria itu.
"Astaga!"
Pekik gadis itu saat melihat tubuh Sahid hanya memakai celana boxer hitam saja. Tubuh seksi dengan perut kotak-kotak sempurna itu terpampang nyata di hadapannya. Gadis itu segera mengembalikan lagi selimut tersebut ke posisi awal tadi. Jantungnya berdetak lebih cepat bahkan sampai gadis itu berbalik arah tak mau melihat lagi.
“Hai, Dara! Selamat pagi!" Suara berat Sahid yang parau malah terdengar seksi mengalun di indera pendengaran gadis itu.
Andara menoleh dan memastikan kalau suara lembut barusan memang berasal dari Sahid. Dia sangat menggemaskan. Namun, hilang sudah rasa gemas berganti rasa takut ketika gadis itu melihat senyum menyeringai di wajah tampan pria itu. Pertanda tak baik sepertinya akan terjadi.
"Oh iya, apa kau tak ingat dengan apa yang terjadi semalam?” tanya Sahid menyingkap selimut lalu bangkit berdiri berhadapan dengan Andara. Dia sudah dalam posisi mengambil jas handuk miliknya.
Andara memang tak ingat apa pun yang terjadi semalam. Pasalnya tubuhnya sedang dikendalikan oleh Sandara. Gadis itu akhirnya mengangkat kedua bahu dan mengernyitkan dahi.
"Heh, kau tak ingat yang terjadi semalam, ya?" Sahid menjentikkan jari menyentak raga Andara yang tengah membatin.
"Aku benar-benar tak tahu." Andara menggeleng.
"Kau tak ingat bagaimana kau bisa pulang?" tanya Sahid.
"Bagaimana aku bisa pulang? Pasti pulang sendiri, kan, seperti biasa?" tanya gadis itu.
"Karena aku yang membawamu pulang. Dasar gadis bodoh!" ucap pria itu seraya menoyor dahi gadis di hadapannya.
Semalam itu, Sahid kembali ke rumah sambil membopong tubuh Andara yang mabuk. Ia letakkan sendiri tubuh gadis itu di kamar pembantu sampai membuat Bibi Mina terkejut dan heran.
__ADS_1
“Lalu, kau tak ingat kalau kita berada dalam satu kamar?" tanya sahid lagi.
"A-aku, aku tak ingat. Hah? Kita satu kamar?!" pekik Andara tak menyangka.
"Nah, kau pikir kau bermimpi saat berada satu kamar denganku?” tanya Sahid sambil bersedekap.
“Hah, maksud Anda? Mana berani aku memimpikan, Tuan Muda? Ya, meski kadang pernah mimpi juga. Eh, apa maksud ini semua, sih?" tanya Andara.
Sahid mendekat ke arah Andara dan menunjuk ke arah leher gadis itu. Bekas tanda kepemilikan di leher mulus itu masih terlihat jelas di sana.
Andara masih tak mengerti dengan maksud tujuan pria di hadapannya itu sampai Sahid membawanya menuju ke hadapan cermin.
“Ini, lihat ini!" tunjuk Sahid.
"Hah? Apa ini?!" pekik Andara.
"Semua ini aku yang ciptakan,” ucap Sahid dengan nada bangga karena baru pertama kalinya ia melakukan hal tersebut pada seorang wanita.
Mulut gadis itu langsung menganga dengan kedua mata terbelalak tak percaya.
“Jadi, aku sudah membuktikan ke padamu kalau aku bukan seorang gay,” bisik Sahid seraya memberi kecupan di ranbut gadis itu lalu meninggalkan Andara yang masih menganga.
Pria itu melangkah menuju ke dalam kamar mandi dengan bersenandung. Ia merasa puas telah berhasil membuat gadis itu terkejut.
“Ba-ba-bagaimana bisa? Apa Sandara dan Tuan Muda telah melakukannya? Menggunakan tubuhku? Meskipun aku menyukai Tuan Muda tapi itu bukan aku, itu Sandara. Kenapa dia tega seperti ini?"
Gadis itu merutuki nasibnya seraya menghentak-hentakkan kedua kakinya.
"Aku akan membunuhmu, Sandara!" Gadis itu lantas melangkah kesal menuju ke kamarnya.
"Sandara! Kamu di mana?! Ayo, keluarlah!" seru Andara di dalam kamarnya.
__ADS_1
...*****...
...To be continued. ...