
Pagi-pagi sekali, Mas Zayn mengantarkanku pulang setelah Bik Mumun datang untuk menemani Zilla. Aku mampir ke toko untuk menyerahkan kunci pada Riri yang sudah datang dan menunggu di teras toko.
"Cie, pagi-pagi udah berduaan aja!" seru Riri menggodaku yang turun dari mobil Mas Zayn.
"Mau mampir sarapan dulu, Mas?" tawarku. Aku tahu, dia pasti lapar.
Mas Zayn melihat jam tangannya. "Ehm, enggak deh, Zi. Aku ada meeting pagi."
"Oh, kalau begitu aku turun di sini aja, gak apa-apa," ucapku tak enak hati karena dia sebenarnya mau mengantarkanku pulang.
"Enggak, kamu tetap ku antar," jawabnya tegas.
Aku memang mengatakan padanya kalau aku harus mandi lalu aku akan kembali ke toko agak siangan. Aku juga tidak mau membuat papa khawatir karena ponselku juga habis baterai sejak jam 3 pagi.
Kami tiba di rumah. Papa sudah menungguku di teras rumah dengan ekspresi yang sulit ku tebak. Papa melihat Mas Zayn dengan tatapan tajam sehingga membuatku sedikit cemas.
"Selamat pagi, Om," sapa Mas Zayn dan menjabat tangan Papa.
Papa membalas dengan tak ramah. Papa sepertinya marah karena aku pulang pagi dan bersama Mas Zayn pula.
"Dari mana kamu, Zi?" tanya Papa melihatku dari atas ke bawah. Mungkin papa memastikan aku dalam keadaan baik atau tidak.
"Ehm ... Zia dari rumah sakit, Pa," jawabku agak gugup. Papa memang tahu aku berada di rumah sakit tadi malam.
"Dengan Zayn?" tanya papa lagi. Matanya melirik ke arah Mas Zayn.
"Maaf, Om. Zia memang di rumah sakit, bersama saya."
"Siapa yang sakit? Keluarga kamu?" tanya papa lagi.
"Putri saya, Om."
Duaar!
Bak disambar petir, ekspresi papa benar-benar berubah drastis. Jika tadi hanya awan mendung yang menyelimutinya, kini malah sudah menjadi badai petir.
"Putri kamu? Kamu sudah menikah?" Papa bertanya dengan suara keras. Papa menarikku untuk berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Mas Zayn mengangguk. "Tapi, istri saya ..."
"Jauhi Zia! Dia baru saja terluka dan saya tidak mau melihatnya terluka lagi," sambar papa yang sepertinya tidak mau mendengarkan alasannya.
"Tapi, Om. Istri saya ...."
"Pulanglah Zayn!" perintah papa tegas menunjuk ke arah mobil pria itu.
"Papa, kenapa Nak Zaynnya malah diusir?" Mama baru datang dari dalam. Pasti karena mama mendengar suara papa yang agak keras tadi.
"Pa, dengar dulu penjelasan Mas Zayn, Pa," bujukku memegang bahu papa. "Dia memang sudah menikah, tapi ..."
"Apa? Zayn sudah menikah?" pekik mama dengan mata membulat.
Astaga! Bagaimana caranya menjelaskan pada mereka kalau baru bicara sedikit saja sudah dipotong begini?
"Mama ..." Aku merengek pada mama. "Please! Dengarkan Zi atau Mas Zayn dulu, Ma, Pa."
Akhirnya, papa mempersilahkan Mas Zayn masuk. Pria yang tadinya terburu-buru itu malah harus mendapatkan kendala seperti ini.
"Saya seorang duda, Om. Maaf saya tidak mengakui ini sejak awal," ucap Mas Zayn penuh sesal.
"Awalnya, saya dan Zia hanya berteman tapi setelah saya mempertemukannya dengan putri saya, keadaan mulai tidak baik, Om."
"Tidak baik, bagaimana?" tanya papa lagi.
"Putri saya menyukai Zia."
"Putri kamu? Bagaimana bisa?" tanya papa tertawa geli. "Apa mereka sering bertemu?"
Mas Zayn menggeleng. "Baru dua kali."
"Lelucon!" seru papa dengan nada sinis. "Jangan mengunakan anakmu sebagai alasan untuk memperdaya Zia, Zayn!" Papa tidak percaya kalau Zilla menyukaiku meski baru dua kali bertemu.
"Papa!" sentakku lepas kontrol.
Papa menatapku tajam dengan rahang mengeras dan tangan papa mengepal. Aku takut papa tidak bisa menahan emosinya.
__ADS_1
"Kamu membelanya, Zia?" tanya papa. "Apa kamu sudah menjadi budak seorang pria seperti kakakmu sehingga kamu berani membentak papamu?" Wajah papa merah padam. Dadanya naik turun. Ia marah karena takut kalau aku mengikuti jejak kak Nia.
"Sabar, Pa," bisik mama mencoba untuk menenangkan papa. "Papa harus dengarkan penjelasan mereka dulu, Pa. Kasus Reza dan Nia pasti menjadi pelajaran bagi Zia. Dia gak mungkin jatuh di lubang yang sama, Pa."
Keadaan hening. Papa mulai mengatur nafas dan emosinya. Sementara aku tertunduk lemah merasa bersalah karena membentak papa. Aku tidak bermaksud melukai hati papa, tapi aku merasa kalau papa sudah keterlaluan. Papa begitu tidak sabar mendengar penjelasan mas Zayn.
"Apa yang akan Om lakukan jika putri Om satu-satunya menangis karena merindukan mamanya yang sudah tiada?" tanya Mas Zayn membuat papa dan mama terkejut tapi enggan bicara.
Mas Zayn menunjukkan foto keluarga kecilnya yang ia simpan di galeri ponselnya. Istrinya yang sangat mirip denganku itu tengah memangku Zilla yang masih berusia sekitar 4 tahunan.
Papa dan mama makin terkejut. Mereka melihat foto itu dan wajahku secara bergantian. Mungkin mereka heran, bagaiamana bisa ada orang yang begitu mirip tapi bukan saudara.
Papa dan mama tidak mengatakan apapun. Mereka saling tatap dan menggeleng pelan. Sebenarnya ada apa ini?
"Apa yang Om lakukan jika ada wanita yang mirip dengan ibunya? Mempertemukan mereka atau membiarkan waktu berjalan begitu saja sampai Om menyadari kalau putri Om tidak bahagia?" tanya Mas Zayn lagi dan papa tidak bisa berkata-kata lagi.
"Dua bulan lalu, saya bertemu Zia untuk pertama kalinya. Saya ingin mengenalnya lebih dekat dengan menjadi pelanggan tetap di toko kuenya."
"Tapi, saya tidak tahu harus memulai dari mana. Dan Tuhan membuka jalan dengan menakdirkan saya untuk menemaninya ke resepsi pernikahan Reza dan Nia."
Dia yang bercerita, aku yang deg-degan. Ku fikir Mas Zayn akan membongkar masalah partner sewaan.
"Lalu, saya mempertemukannya dengan putri saya." Mata Mas Zayn mulai berkaca-kaca. Dia pasti selemah ini jika membahas mengenai Zilla.
"Saat itu hari ulang tahunnya. Ulang tahun ke dua kalinya tanpa sosok mama."
"Saya merasa egois saat bisa mengenal Zia tapi tidak memberitahunya."
"Memang dia tahu kalau Zia bukan mamanya, tapi ia bisa menerima kenyataan bahwa mamanya sudah tiada, Om. Dan kini dia berharap bisa terus dekat dengan Zia."
"Apa yang harus saya lakukan, Om? Membiarkan dia bahagia dengan tetap membiarkan dia dekat dengan Zia, atau mematahkan kebahagiaannya dengan memisahkan mereka?" tanya Mas Zayn pada papa.
Papa dan mama tampaknya tak ingin merespon semua pertanyaan Mas Zayn. Keduanya masih tampak begitu bingung, sama sepertiku saat baru pertama kali mengetahui fakta ini.
"Bisakah kamu pertemukan kami dengan ibu mertuamu atau keluarga dari mendiang istrimu?"
Deg!
__ADS_1
Permintaan papa terdengar nyeleneh dan keluar dari inti permasalahan yang sedang kami bicarakan. Apa yang papa inginkan dengan meminta dipertemukan dengan keluarga mendiang istri Mas Zayn?