Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 33 Kabar Baik


__ADS_3

Ia tertawa. "Super hero kalau makannya gak teratur juga bakalan sakit, Zi."


Aku mengangguk. "Jaga kesehatan, Mas. Kasihan Zilla, dia pasti khawatir sama kamu," ucapku prihatin sambil mengusap kepala Zilla.


"Siapa bilang," jawab Mas Zayn dengan mencebikkan bibir dan matanya melirik Zilla yang fokus pada layar ponsel.


"Tanya saja padanya. Dia senang atau sedih saat melihatku sakit," lanjut Mas Zayn dengan suara manja.


Zilla menatapku. "Kapan lagi, bisa begini, Tante. Weekend di kamar sama papa. Cuma berdua pula."


Aku tertawa tapi miris sekali mendengar ucapannya. Bukankah itu artinya dia rindu untuk menghabiskan waktu hanya berdua dengan papanya?


Pantas saja dia tidak memintaku untuk datang, ternyata ia menganggap sakitnya Mas Zayn sebagai quality time.


"Tante ganggu waktunya, dong?" tanyaku.


Dia menggeleng. "Enggak dong, tante kan keluarga kita. Kalau keluarga kan memang begitu kan, Pa? Selalu jenguk kalau ada salah satu keluaraganya yang sakit?"


Ku usap pipinya. Dia pintar sekali. Mungkin karena papanya yang mengajarkan hal itu. Meskipun aku merasa aneh saat dia menganggapku sebagai keluarga. Mungkin lebih tepat seperti saudara jauh. Apa dia sudah tidak menginginkan aku lagi untuk menjadi mamanya? Loh, aku kok sedih, ya?


Tiba-tiba pintu kamar kembali diketuk. "Non Zilla, ada Non Arin di bawah. Katanya ada tugas sekolah yang mau dikerjakan bareng?" Ku dengar suara Bik Mumun memberi tahu Zilla.


Zilla pamit untuk mengerjakan tugas sekolah. Ia perlahan turun dari ranjang setelah mengembalikan ponsel papanya.


"Nanti Zilla pinjam lagi, ya Pa," ucapnya dan Mas Zayn mengangguk.


"Selesaikan dulu PRnya. Nanti papa kasih."


Zilla keluar dari kamar dan kini hanya ada kami berdua. Mas Zayn meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Arin itu anak tetangga sebelah, kebetulan mereka satu kelas," ujarnya memberi tahuku.


Aku mengangguk. "Kamu sakit apa, Mas?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


Dia menatapku cukup lama. "Kelelahan," jawabnya singkat.


"Makanya jangan terla-," ucapku terpotong.


"Kelelahan menunggu kamu yang belum menerimaku sampai sekarang," sambarnya memotong ucapanku.


Aku speachless. Ku tatap wajahnya dengan kening berkerut. Dia merayuku, heh?

__ADS_1


Dia meraup wajahku dengan telapak tangannya yang besar sehingga membuatku terkejut. "Jangan dipikirkan. Nanti kamu cepat tua," ucapnya kemudian.


Aku menghela nafas. "Bukan dipikirkan, sih. Cuma aneh aja, Mas. Susah sekali untuk bilang ya."


"Nah, itu bisa!" godanya menunjuk wajahku.


Aku membulatkan mata menyadari apa maksudnya. "Bukan begitu, Mas." Ku pukul bahunya pelan. "Bukan asal bilang ya, tanpa dipertimbangkan matang-matang."


"Apa aku seburuk itu sampai kamu gak bisa menerima aku, Zi?" tanyanya. Tangannya mengenggam tanganku. Terasa hangat memang. Suhu tubuhnya memang lebih panas dari suhu normal.


"Kamu gak buruk, Mas. Cuma akunya aja yang belum siap."


Betul kan? Dia memang tidak buruk. Dia baik, tampan dan mapan seperti yang mama bilang.


"Apa yang harus ku lakukan agar kamu yakin?" tanyanya serius.


"Apa yang membuat kamu jatuh cinta pada mamanya Zilla?" Bukannya menjawab pertanyaannya. Pertanyaan itu malah lolos begitu saja dari mulutku.


Dia tersenyum simpul. "Kesederhanaannya."


"Sedalam apa kamu mencintainya, Mas?" tanyaku lagi.


"Sangat dalam sampai aku lupa dengan kebahagiaanku sendiri," jawabnya.


Benar, caranya salah. Dia menyerahkan tugasnya kepada Bik Mumun. Dia terlalu sibuk bekerja hingga lupa kalau Zilla begitu membutuhkan perhatiannya.


"Lalu sekarang, apa kamu menganggapku sebagai penggantinya?"


Mas Zayn menatapku tanpa berkedip. Jangan tanya seberapa deg-degannya aku. Aku menunduk karena tidak sanggup menatap matanya.


"Kamu bukan pengganti, Zi." Dia menyentuh daguku dengan telunjuknya. Secara tidak langusung, ia memintaku untuk melihat ka arahnya.


"Syla tetaplah Syla. Dan Zia tetaplah Zia."


"Kamu harus tahu kalau Syla adalah bagian dari perjalanan hidupku. Dia adalah ibu dari anakku. Dia adalah titipan yang sudah Tuhan ambil kembali. Kamu cemburu padanya?"


Aku menggeleng. Tentu tidak. Aku tidak mungkin cemburu pada wanita yang telah tiada itu. Wanita yang rela berjuang menemani Mas Zayn sejak dulu hingga mereka dikaruniai seorang putri.


"Bukan cemburu, tapi lebih tepatnya aku takut."


"Aku takut kalau kamu membayangkannya padahal aku yang ada di depan kamu."

__ADS_1


Dia malah tertawa. Ia tarik hidungnya sampai aku menggeleng meminta dilepas.


"Kamu sudah dewasa tapi masih berfikir seperti anak kecil," ucapnya setelah melepas hidungku dari jepitan ibu jari dan jari telunjuknya.


"Kamu dan Syla memang mirip. Tapi, dengan menatap manik mata kamu saja aku sudah sadar kalau kamu bukan Syla."


"Jangan membuat perasaanmu gelisah, Zi. Fikiran kamu akan selalu bertolak belakang dengan apa yang hatimu rasakan."


"Positif thinking sedikit saja, dan kamu akan merasakan betapa baiknya dan pantasnya aku menjadi suami kamu." Dia malah mencolek hidungku.


Aku memundurkan kepalaku untuk menghindar meskipun gagal. Dan ku lihat dia malah tertawa.


"Kapan kamu siap untuk ku bawa ke KUA?" tanyanya.


Aku menghela nafas panjang menyakinkan diriku kalau memang ini adalah jalan terbaik. Aku membuang fikiran negatif mengenai hal-hal yang belum tentu terjadi nanti. Khawatirku memang berlebihan sehingga aku meragukan perasaanku padanya.


Aku dan Mas Zayn keluar dari kamar betepatan dengan Zilla dan seorang gadis kecil bernama Arin sedang duduk di karpet bersama baby sitter mereka masing-masing.


"Belum selesai juga, Sayang?" tanya Mas Zayn pada putrinya yang hanya menoleh selama beberapa detik.


"Belum, Pa. Susah ternyata. Berasnya gak mau nempel, Pa," jawab Zilla yang sedang meratakan beras berwarna hijau di sebuah kertas putih yang sudah terdapat gambar pohon bunga matahari.


Dia ternyata sedang membuat gambar kolase dari beras yang sudah diberi pewarna. Bik Mumun dan baby sitter Arin juga tampak membantu keduanya.


Aku dan Mas Zayn duduk di halaman belakang membiarkan Zilla mengerjakan tugas sekolahnya.


"Dia anak yang cerdas," ujarku memuji Zilla.


"Kamu benar. Dia memang cerdas." Mas Zayn sependapat denganku.


"Dia bahkan begitu peka sampai dia tahu bagaimana perasaanku," lanjutnya.


Menurutku wajar saja, karena darahnya mengalir dalam tubuh Zilla. Bukankah sangat wajar jika ada ikatan batin antara ayah dan anak?


"Dia tahu saat aku sedih dan bahagia. Yang kami butuhkan ternyata hanya waktu untuk berdua."


Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Zilla bergabung dengan kami. Dia melihat wajahku dengan ekspresi serius.


Ku pangku tubuh mungilnya dan ku peluk erat. "Tante boleh tanya sesuatu?" ucapku di dekat telinganya.


Dia mengangguk dan menatapku. Aku mengusap kepalanya. Ku eratkan pelukanku dan aku berbisik, "Tante mau kok, jadi mamanya Zilla."

__ADS_1


Seketika senyuman kebahagiaan terlukis di wajahnya. Ia menatapku dan Mas Zayn bergantian. Lalu aku mengangguk agar dia yakin kalau apa yang ia dengar tidaklah salah.


__ADS_2