
Cahaya jingga matahari yang akan tenggelam mulai mengintip dari balik celah dedaunan yang rimbun. Aku menunggu pria yang sedang membeli minuman di seberang jalan.
Aku duduk di sebuah bangku taman, setelah pulang dari pemakaman. Kami memutuskan untuk pulang setelah ku katakan padanya, akan memberi jawabannya suatu saat nanti.
Aku bukan ingin menggantungkannya, tapi aku merasa bukan saat yang tepat memberikan jawaban atas permintaannya di depan makam seperti tadi.
Ku lihat Mas Zayn menyeberang jalan dan ia semakin mendekat. Ia duduk di sampingku dan meletakkan plastik berisi dua botol air minum dan beberapa bungkus cemilan di atas pangkuanku.
"Aku beli yang itu," ucapnya menunjuk kantung plastik berwarna putih itu.
Aku mengangguk karena ia membeli dua botol air mineral, bukan minuman dengan rasa.
"Yang penting bisa ku minum, Mas."
Kami saling diam cukup lama. Aku sesekali melihat wajahnya yang sedang menatap lurus ke depan, dimana banyak kendaraan berlalu lalang.
"Apa yang membuat kamu ragu padaku, Zi? Kenapa kamu terus menunda untuk menerimaku?" tanyanya tanpa menatapku.
"Katakan saja, agar aku bisa memperbaiki apa yang salah dariku," lanjutnya.
Kini wajahnya berpaling dari sibuknya jalanan dan menatap ke arahku. Dia terlihat sedih, mungkin karena pertanyaannya tadi.
Aku menghela nafas. "Apa aku bisa hidup bahagia dengan pria yang sangat mencintai almarhumah istrinya, Mas?"
"Rumah tangga seperti apa yang akan kita jalani kalau aku sendiri gak tau, kamu sedang memandangku sebagai Zia, atau membayangkan aku adalah istri kamu yang telah tiada."
Kini, dia yang menghela nafas. "Sudah ku katakan sejak awal, Sylaku gak akan ku temui di tubuh wanita manapun," jawabnya. Ya, ia memang pernah mengatakan hal itu saat ku tahu dia sudah menikah dan istrinya sudah tiada.
"Lalu, apa karena Zilla?"
Dia menggeleng. Ia meraih tanganku dan menggenggamnya. "Karena aku tahu, aku akan hidup bahagia jika bersamamu."
"Soal Zilla, awalnya memang benar, semua karena dia yang meminta. Lambat laun, setelah aku melihat kamu begitu tulus menyayanginya, dan dia juga sangat menyayangi kamu, aku merasa jatuh cinta padamu."
"Saat kamu sedang sakit, aku merasa ada yang hilang dari diriku."
"Saat Reza terus mengejar kamu, aku merasa takut dan aku merasa telah melewatkan kesempatan untuk bisa memiliki kamu."
"Akhirnya aku sadar, bukan hanya Zilla yang menginginkan kamu, tapi aku juga."
Aku tersenyum tipis. "Semoga kamu mengatakannya tulus dari lubuk hati kamu, Mas."
__ADS_1
"Kamu gak percaya sama aku, Zi?" tanyanya sambil menatap mataku.
"Apa aku masih boleh percaya pada seorang pria setelah penghianatan Reza dan kak Nia lakukan, Mas?"
"Apa salah kalau diriku berusaha menjaga hati yang rapuh ini agar enggak kembali patah karena seorang pria?"
Dia tidak bisa menjawab pertanyaanku. Aku ingin dia faham kalau aku hanya merasa trauma. Rasa sakitnya bisa saja hilang dengan cepat, tapi rasa takut akan terulang kembali, itu yang lebih dominan.
"Lalu, aku harus menunggu sampai kapan?" tanyanya.
"Sampai saat aku benar-benar siap, Mas. Biarkan waktu meyakinkanku kalau kamu adalah orang yang tepat."
"Kamu tidak sedang buru-buru untuk menikah lagi, kan?" tanyaku dan ia menggeleng.
"Bersabarlah, Mas."
Beberapa hari berlalu, malam ini Mas Zayn mengajakku makan malam di sebuah pusat perbelanjaan. Sebenanrnya hal ini tidak kami rencanakan, karena dia mendadak mengajakku saat aku sedang di toko.
"Zilla gak nungguin kamu, Mas?" tanyaku karena sudah hampir jam 9 malam dan kami masih di dalam mall.
Dia menggeleng. Dia menunjukkan sebuah pesan chat di ponselnya.
Aku membulatkan mataku saat membacanya. Papa dan anak itu begitu kompak.
Papa mau pacaran dulu sama tante Zi. Doain lancar ya, Sayang.
"Dia suporterku, Zi," ucap Mas Zayn bangga karena mendapat dukungan dari putrinya.
Aku meletakkan ponsel Mas Zayn di atas meja. Ada perasaaan hangat saat membaca pesan chat mereka berdua. Aku merasa seperti mendapat restu dari orang yang paling Mas Zayn sayangi. Padahal, kan memang Zilla sudah setuju sejak awal.
"Zia ....." Sapa seseorang yang membuatku seketika menoleh ke arahnya.
Ku lihat wanita cantik yang sangat ku kenal berdiri menenteng beberapa papaerbag sambil tersenyum lebar.
"Tante Rani," sapaku. Dia adalah mamanya Reza.
"Kamu sama siapa?" tanyanya ramah tapi sepertinya dia mengingat siapa pria yang sedang bersamaku ini.
"Ah, dia yang datang sama kamu saat pesta pernikahan Reza, kan?" tanyanya.
Aku mengangguk dan melirik Mas Zayn yang sedang melahap es krim dari gelasnya sebagai makanan penutup.
__ADS_1
"Kalian memang pacaran?" tanyanya.
Aku tersenyum kecil, tanpa mengangguk atau menggeleng.
Tante Rani malah duduk di sampingku dan mengabaikan Mas Zayn. Ia memegang tanganku dan mengubah ekspresi wajahnya menjadi sedih.
"Reza sudah menduda sekarang," ucapnya dengan penuh sesal.
"Nanti, kamu balikan lagi sama dia, ya. Dia akan mengurus surat cerainya."
"Kakak kamu sengaja menjebaknya, Zi. Sekarang wanita kabur dari rumah karena takut kami melakukan tes DNA pada janin dalan perutnya," ucap tante Rani dengan suara tercekat.
"Bukankah itu artinya, janin itu bukan darah daging Reza?"
Ya Tuhan, fitnah apa lagi ini? Kenapa tante Rani memfitnah Kak Nia yang pergi karena tidak kuat atas perlakuan mereka terhadapnya?
Aku mengerutkan keningku. Aku mengira dia benar-benar baik sehingga aku sempat menyayangkan dia tidak batal menjadi mertuaku dan aku merasa Kak Nia begitu beruntung.
Ternyata aku salah. Dia bahkan tega menyiksa dan mengambil harta benda milik Kak Nia. Dia rela membiarkan putranya ingin merebut toko kue ku.
"Kamu tahu, Zi, Nia mau memfitnah Reza. Dia ingin merebut toko kue kamu dan menuduh Reza yang telah melakukannya. Tante kasih tahu kamu, sebelum dia berhasil melakukannya."
Aku memejamkam mataku sejenak. Aku tengah menimbang mana yang benar dan mana yang salah. Siapa yang telah memfitnah siapa disini? Kenapa pihak Reza dan Kak Nia mengatakan hal yang bertolak belakang?
Mas Zayn menatapku dengan perasaan iba. Ia mungkin merasa kasihan karena deritaku yang disebabkan oleh Reza dan Kak Nia nyatanya belum juga berakhir.
"Kamu gak terkejut, Zi?" tanya Tante Rani karena aku hanya diam.
"Kakak kamu entah pergi kemana sekarang, kami berusaha mencarinya."
"Apa dia mencuri sesuatu yang berharga dari rumah tante?" tanyaku padanya.
Seketika senyum sumringah ia tunjukkan. "Benar. Dia mencuri perhiasan tante."
Aku tersenyum miring. Dia memang sedang memfitnah kak Nia. Dia menuduh wanita malang itu.
"Aku seperti mengenali cincin yang tante pakai," ucapku sambil melirik cincin itu.
Tante Rani seketika menyembunyikan cincin itu dibalik paperbagnya.
"Cincin seperti ini banyak dijual di toko emas, Zi," ucap tante Rani kemudian.
__ADS_1
Cincin itu milik Kak Nia yang sama seperti cincin yang sedang ku pakai. Cincin itu pemberian mama sejak lama.
Sekarang aku tahu, siapa yang mencuri perhiasannya siapa.