
Beberapa hari setelah Mas Zayn mengantarkanku pulang dan malah membuat kami harus kena introgasi papa, hari ini Mas Zayn menjemput kami ke rumah.
Masalah selesai saat mas Zayn bersedia mempertemukan papa dengan orang tua dari mendiang istrinya. Aku belum tahu apa tujuan mama dan papa. Mas Zayn juga mengaku tidak mengetahui apa tujuan mereka.
Apa mungkin kami adalah saudara kembar yang terpisah? Jika iya, maka dunia begitu tidak adil karena kembaranku itu kini telah tiada dan aku belum sempat melihat wajahnya.
Aku hendak masuk ke kamar mama dan papa, tapi saat baru membuka pintu itu, aku melihat papa dan mama saling berpelukan sambil menangis. Mama juga tampak memasukkan berkas ke dalam tasnya. Aku penasaran, berkas apa itu? Apakah itu bukti mengenai kembaranku yang hilang?
Aku kembali menutup pintu itu dan berjalan lesu ke arah teras. Aku semakin yakin kalau aku memang punya kembaran yang terpisah setelah melihat mama dan papa menangis. Aku benci hal ini, kenapa mama papa menyembunyikan hal sebesar ini dariku selama 25 tahun?
"Tante Ziaaaaaaa!" teriakan Zilla menggema di seluruh ruang tamu rumah kami. Ia sudah tampak sehat dan ceria. Aku memang yakin dia akan segera sembuh karena hasil tes lab tidak menunjukkan adanya penyakit serius.
"Sayaaang!" Aku membungkuk untuk memeluknya. Aku merindukannya karena kami belum berjumpa sejak dua hari terakhir. Hahaha! Berlebihan, bukan?
"Kata papa, kita mau ke rumah nenek di kampung! Dan kata papa, tante sama opa dan oma juga ikut," serunya senang sambil terus menggoyangkan kedua tanganku yang ia gandeng.
Zilla memang sudah pernah bertemu mama dan papa saat di rumah sakit. Aku membukatikan pada mereka kalau aku tidak berbohong mengenai Zilla yang sedang sakit.
"Zilla suka?" tanyaku dan dia mengangguk beberapa kali sambil tersenyum.
"Ayo kita berangkat!" Ku bawa ia keluar dari dalam rumah. Ia yang menungguku di depan pintu, segera berlari saat melihatku tadi.
"Opa sama oma dimana, Tante? Kok belum kelihatan?" tanyanya sambil terus menoleh ke belakang mencari keberadaan mama dan papa.
Aku terus membawanya keluar karena Mas Zayn menunggu di teras rumah. Aku kasihan pada papanya yang nganggur sendirian. Kan sayang, pria tampan begitu ditelantarkan.
"Opa sama oma masih bersiap, Sayang!" Aku duduk di samping Mas Zayn. Ku pangku gadis kecil berambut panjang ini.
"Zilla, jangan berlebihan, Sayang! Zilla kan sudah janji sama papa kalau Zilla gak akan berisik, gak akan nakal, dan gak akan merepotkan tante Zia," ucap Mas Zayn pada putrinya yang mengangguk.
"Sorry, Zi. Dia terlalu senang karena akan ke kampung bersama keluarga kamu," ucap Mas Zayn sambil tertawa. "Dia fikir kita mau liburan."
__ADS_1
"Ku fikir juga begitu, Mas," balasku sambil tertawa. Aku dan Mas Zayn sama-sama masih merasa bingung mengenai permintaan papa. Namun, satu hal yang pasti adalah mereka punya satu urusan penting dengan mertua Mas Zayn.
Setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam, akhirnya kami tiba di sebuah rumah sederhana dengan teras besar dan beratapkan genting tanah liat. Suasana disini juga sangat asri, pantas saja Zilla begitu antusias saat tahu akan berkunjung ke sini.
"Assalamuallaikum, Pak, Buk!" Mas Zayn berteriak di depan pintu. Zilla dengan semangat menggandeng tangan papanya, sementara aku dan kedua orang tuaku berdiri di belakang mereka.
Mama dan papa tampak melihat sekitar, tatapan mereka begitu teduh namun kening itu berkerut seperti memikirkan sesuatu. Apa mereka memikirkan bagaimana kembaranku hidup di rumah yang sangat sederhana ini?
"Neneeek, kakeeek!" teriak Zilla dengan suaranya yang melengking memanggil penghuni rumah yang belum juga membukakan pintu.
"Sudah siang, harusnya kakek dan nenek sudah pulang dari sawah," ucap Mas Zayn pada Zilla.
"Cari siapa?" Suara pria membuat kami menoleh kebelakang.
Tampak sepasang suami istri berjalan kaki dengan pakaian yang terkena percikan lumpur. Pria bertopi capil itu membawa cangkul di pundaknya dan wanita berjilbab lusuh itu membawa tas dari anyaman.
"Kakeek, neneeek!" Zilla berlari membuat seketika senyum mereka merekah. Cangkul itu seketika diturunkan dan Zilla mencium punggung tangan keduanya.
Kakek dan nenek Zilla membulatkan mata saat melihat papa dan mama. Mereka berempat saling tatap. Kakeknya Zilla tampak menelan ludah dan terlihat jelas kalau pria itu sedang merasa ketakutan. Sementara itu, wanita disebelahnya seketika menunduk.
"Bik Tuti, Pak Tono!" Papa menyebut nama yang ku yakin benar. Kedua orang tuaku dan mereka sepertinya memang saling mengenal di masa lalu.
Mas Zayn tak terkejut lagi. Pria itu memang sudah menebak dari awal kalau mereka saling mengenal. Tapi, entah apa masalahnya hingga papa memintanya untuk mempertemukan mereka.
"P-pak Faisal," gumam pria bernama Tono itu. Pak Tono melihat Mas Zayn dan papa bergantian lalu menatapku dengan mata berkaca-kaca. Itu pasti karena wajahku mirip dengan putrinya.
"Apa Nia kami yang kalian nikahkan dengan Zayn?" tanya papa membuatku terkejut. Nia? Tania? Bukan kak Nia yang selingkuh dengan Reza, kan?
"Nia yang kalian ambil dariku!" Mama tersulut emosi. Mama memegang kedua lengan Buk Tuti dan mengguncangnya.
Apa Kania itu kembaranku? Batinku berdebar-debar.
__ADS_1
"Kaniaku! Kalian tega! Kami menolong kalian, tapi kalian tega mengambil harta kami yang paling berharga!" Pekik mama tak bisa mengontrol emosinya.
"Selama ini kalian bersembunyi dimana, hah! Kalian begitu tega memisahkan ibu dengan anaknya!"
Papa memeluk tubuh mama agar mama tidak menyakiti Bu Tuti. Aku juga berusaha menenangkan mama dengan memeluknya erat.
"Mama tenang, ya. Mama jangan seperti ini, Ma," bisikku di telinga mama yang sedang tergugu.
"Mereka!" tunjukk mama pada keduanya. "Mereka telah mengambil kakak kamu, Zia! Padahal saat itu, Kania baru dua hari mama lahirkan?"
Duaaar!
Bak di sambar petir, ternyata aku bukan anak pertama yang lahir dari rahim mama. Selama ini mereka menyembunyikannya dariku. Apa karena itu juga, mama mengadopsi kak Nia. Karena nama mereka hampir sama? Kania dan Tania.
"Mereka mengambil buah hati mama, sayang!" Mama membalas pelukanku erat-erat. Hatiku begitu terluka saat mengetahui kebenaran ini.
"Ma-maafkan kami, Bu. Kami sebenarnya tidak berniat ...!"
"Tidak berniat? Lalu kenapa kalian tidak pernah mengembalikan anak kami?" tanya papa geram. Papa sampai memotong perkataan Pak Tono.
"Kalian harusnya tahu kalau Nia adalah kebahagiaan kami. Hanya karena belum punya anak, kalian tega mengambil kebahagiaan orang lain," ucap papa lagi.
Tiap ucapan yang keluar dari mulut mereka berhasil membuatku terkejut. Fakta-fakta baru yang baru ku ketahui sekarang, dan bagian yang tidak ku sukai adalah fakta itu begitu menyesakkan dada.
Kata seandainya muncul di kepalaku. Seandainya kak Kania tidak hilang, maka tidak akan ada kak Tania yang menikah dengan Reza karena mama dan papa tidak mungkin mengadopsinya. Kalau seandainya kak Kania tidak hilang, apa mungkin akan terlahir malaikat kecil seperti Zilla, dan apa mungkin aku akan bertemu dengan Mas Zayn?
"Pak, kami minta maaf atas kesalahan kami dulu. Kami sungguh-sungguh minta maaf, Pak, Bu!" ucap Buk Tuti sambil menangis menyesali perbuatan mereka di masa lalu.
Bisa-bisanya mereka meminta maaf setelah keadaan jadi seperti ini. Kemana mereka selama lebih dari 25 tahun? Mengapa baru menyesal sekarang? Apa karena orang tuaku berhasil menemui mereka? Apakah kalau seandainya mereka tidak pernah bertemu orang tuaku, mereka tidak akan menyesalinya?
"Apa maaf kalian bisa mempertemukan kami dengan Kania?" tanyaku yang merasa geram dengan pasangan suami istri itu.
__ADS_1