
Perasaanku mendadak menjadi kacau. Sebenarnya bukan masalah besar, tapi aku tetap butuh penjelasan darinya.
Aku mencari kesempatan untuk bisa bicara hanya berdua dengannya. Untung saja, papa mengajak Zilla membeli es krim ke minimarket. Jadi, aku punya waktu untuk bicara hanya berdua dengan Mas Zayn.
Aku membawanya ke balkon kamarku. Dia duduk di sofa dan aku berdiri di pagar pembatas sambil melipat tangan.
Terlihat jelas ekspresi wajahnya yang gelisah. Mungkin dia tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi nada bicaraku yang cenderung datar saat aku mengajaknya bicara berdua.
"Kamu mau bicara sesuatu?" tanyanya dengan sedikit ragu.
Aku mengangguk. "Benar, Mas."
Aku menunjukkan pesan yang ku terima beberapa bulan lalu, saat seseorang memberitahuku mengenai pernikahan Reza dan Kak Nia.
"Kenapa kamu gak pernah cerita kalau kamu adalah orang yang mengirimkan pesan ini, Mas?"
Ku tatap wajahnya. Ia terlihat menghela nafas. Dia tidak terlihat gugup sama sekali, malah cenderung lega. Mungkin karena bukan masalah besar yang sempat ia khawatirkan.
"Ku fikir kamu mau membatalkan pernikahan kita, Zi," ucapnya kemudian.
Nah, kan! Dia pasti mikirnya terlalu jauh.
"Begini ...." Ia menggeser posisi duduknya dan menepuk ruang kosong disebelahnya. Ia memintaku untuk duduk.
Aku bergerak mendekat dan duduk di sampingnya. Kami saling berhadapan. Lutut kami bahkan saling bersentuhan.
"Memang benar aku yang melakukannya," katanya mengakui hal tersebut.
Ia memegang tanganku. "Kenapa aku melakukannya? Bagaimana bisa aku mengetahui pernikahan mereka? Pasti pertanyaan itu yang ada dalam benak kamu, kan?"
Aku mengangguk. Benar sekali. Padahal kala itu dia hanya sekedar pelangganku. Kami belum terlalu akrab.
Dia tersenyum tipis. "Karena aku merasa semua yang terjadi, sangat tidak adil bagimu."
"Aku beberapa kali melihat Reza datang ke toko sehingga aku tahu kalau dia pacar kamu."
"Riri juga sering menggoda kamu saat Reza datang, kan?"
Aku mengangguk. Ternyata dia selama ini sudah memperhatikanku. Tentu karena wajahku mirip mendiang istrinya. Wajar saja kalau segala sesuatu tentangku berusaha ia cari tahu.
"Aku juga beberapa kali melihat Nia. Dan beberapa kali pula aku melihat mereka sedang jalan berdua."
"Entah itu saat pulang kerja atau jam makan siang," imbuhnya.
__ADS_1
"Awalnya aku gak perduli, tapi saat melihat mereka keluar dari salon dengan pakaian pengantin, dan aku mengikuti mereka yang ternyata akan melangsungkan pernikahan, aku cepat-cepat mengirim pesan padamu."
"Kamu tahu nomorku dari mana, Mas?"
"Sesimple membayar seratus ribu pada Jojo."
Astaga! Jojo!
"Jangan marah padanya. Aku meminta nomor ponsel kamu bukan saat aku mau memberitahukan masalah itu, tapi jauh sebelumnya," ungkapnya lagi.
"Hanya saja aku belum berani untuk mendekatimu," ucapnya malu-malu.
Aku tersenyum simpul. "Pipi kamu merah, Mas. Cie ... malu-malu kucing!" ejekku untuk mencairkan suasana.
Dia menyentuh pipinya. "Masa sih?" Dia melihat ke arah kaca jendela. Pantulan dirinya memang tidak terlalu jelas, tapi cukup untuk sekedar melihat pipinya bersemu merah atau tidak.
"Enggak ah!" bantahnya. "Kamu ngerjain aku ya?"
Aku terbahak. "Kamu terlalu serius, Mas. Dan aku suka pengakuan kamu barusan."
Dia tersenyum tipis. "Ketahuan ya, kalau aku sudah tertarik sejak awal?"
Aku menggeleng. "Bukan."
"Zia, please! Ini bukan salahnya." Mas Zayn takut aku melakukan sesuatu pada Jojo, juru masakku.
"Enggaklah, Mas! Dia karyawanku yang baik. Gak neko-neko dan aku senang bisa memperkerjakan dia. Aku senang bisa menjadi perantara untuk membantu perekonomian keluarganya." Ya, Jojo adalah salah satu dari karyawanku yang sering ku beri bonus. Dia tidak pernah keberatan untuk lembur bahkan di hari libur.
"Masalahnya sudah selesai kan?" tanyanya.
"Sudah. Dan terima kasih sudah menjadi orang baik yang membuat mataku terbuka lebar, mengenai siapa Reza sebenarnya," ujarku.
Sejak awal aku memang sudah berterima kasih pada sosok yang tak ingin memberitahu identitasnya itu. Aku juga tidak pernah berusaha mencari tahu lagi karena informasi yang ia berikan adalah sebuah fakta, bukan fitnah.
"Suatu saat nanti, kalau ada sesuatu yang salah dariku, kalau ada sesuatu yang kamu ragukan dariku, tanya dan tegur aku," ucapnya sambil memegang tanganku.
"Karena ini adalah pernikahan keduaku. Aku tentu menginginkan agar hubungan ini jauh lebih baik dibanding dengan pernikahanku sebelumnya."
Aku melihat sorot matanya yang memancarkan kesedihan. Mungkin ia menyesali beberapa hal dari pernikahan pertamanya dulu.
"Kalau ada sesuatu yang kamu rasakan, entah itu sakit, tidak nyaman, atau kamu tidak betah tinggal bersamaku, tolong beritahu aku, Zi."
Aku memeluknya. Air mataku tak terasa jatuh di pipi. Apa dia jawaban atas doaku yang meminta pada Tuhan untuk memberikan pengganti Reza yang jauh lebih baik.
__ADS_1
Ya Tuhan, dia terlalu baik. Dia sangat lebih dari yang ku minta.
"Bimbing aku menjadi istri yang baik, Mas. Aku adalah tipe wanita yang tidak terlalu perhatian dengan pasangan. Aku bukan tipe wanita yang peka, jadi, jika ingin apapun, katakan saja!" ucapku diiringi isak tangis.
Dia melepaskan pelukanku. "Kamu akan menjadi peka saat sudah menjadi istriku, nanti."
Aku mengerutkan kening. Apa aku bisa? Kenapa dia begitu yakin?
"Aku akan memberitahumu sebuah kode rahasia saat aku ingin ...."
"Sia**l!" gumamku sambil menutup mulutnya karena Zilla sudah berada dibelakangnya dengan sebuah kantung plastik di tangannya. Bisa-bisanya kami tidak tahu kalau dia masuk ke kamarku. Pasti dia melihat kami dari gerbang rumah.
Mas Zayn membulatkan mata. Aku melepaskan tanganku dari bibirnya dan memberi kode untuk melihat kebelakang.
"Kenapa mulut papa ditutup, Tante?" tanya Zilla yang sedang berusaha membuka bungkus es krim ditangannya.
"Karena di kumis papa ada nyamuk yang menempel," jawabku gugup.
"Memangnya panas-panas begini ada nyamuk, Tante?" tanyanya lagi
"Tentu. Kitakan sedang diluar rumah, apalagi tadi pagi hujan turun, nyamuk-nyamuk pasti sedang keluar mencari tempat untuk bertelur." Entah penjelasanku ini benar atau tidak. Aku cuma asal menebak saja.
Aku mengulurkan tanganku dan dia duduk di pangkuanku. Ia sudah melahap sebuah es krim stick.
"Nyamuk bertelurnya pada siang hari ya, Tante?"
Aku melirik Mas Zayn yang menahan tawanya. Aku mendelik dan melirik Zilla satu kali. Aku butuh bantuannya.
"Terserah nyamuknya dong, mau bertelur kapan," kata Mas Zayn.
"Papa boleh minta es kirimnya?" Pintar sekali pawang bocil ini mengalihkan pembicaraan.
"Boleh dong!" Zilla membuka lebar kantung plastik itu.
"Pilih saja, mau yang mana, Pa. Kakek beli banyak untuk kita," ucap Zilla lagi.
"Tante mau juga?"
Aku mengambil satu bungkus es krim rasa coklat saat ia menyodorkan kantung plastik itu dihadapanku.
"Sering-sering belajar! Dia terkadang memang banyak bertanya," ujarnya sambil tertawa. Mas Zayn mengusap rambutku sebelum membuka bungkus es krimnya.
Dia benar, aku sepertinya harus banyak belajar untuk menghadapi Zilla yang sebentar lagi akan menjadi putriku dan bersamaku.
__ADS_1