Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 12 Permohonan Maaf


__ADS_3

Suasana semakin memanas tatkala tetangga Pak Tono dan Bu Tuti berdiri di depan rumah mereka untuk melihat ada apa gerangan di rumah ini.


Mas Zayn membawa kami semua masuk ke dalam rumah itu agar bisa membicarakan masalah ini baik-baik. Aku dan papa menuntun mama untuk duduk di sebuah kursi kayu yang tampak usang. Di dinding papan yang catnya mulai memudar itu tampak banyak sekali foto yang terpajang di dalam bingkai kaca.


Beberapa piagam penghargaan atas nama Arsyla Hartono, membuat perhatianku tercuri. Sepasang suami istri ini mengubah nama kakaku dan juga memberi nama belakang untuknya.


"Bapak sama Ibu disini saja, biar saya yang membuatkan minum." Ku lihat Mas Zayn berjalan ke arah belakang. Punggung tegap itu mulai menghilang dibalik gorden pintu.


"Saya minta maaf, Pak, Bu," ucap Pak Tono sambil menangis. "Maafkan kami yang sudah lancang melakukan kejahatan ini."


Mama masih menatap sepasang suami istri itu dengan ekspresi marah. Sulit memang untuk memaafkan kesalahan mereka. Namun, nasi sudah menjadi bubur dan sudah basi pula.


"Kalian membawa Kania kemana saja? Kami sampai tidak bisa menemukan kalian," tanya papa yang mulai bisa meredam amarahnya.


"Kami, kami menitipkannya ke rumah saudara, Pak, setelah saya berhasil membawanya ke luar kota," ungkap Pak Tono.


"Baru, setelahnya kalian mengundurkan diri, kan?" tanya Papa dan pria itu mengangguk. "Dengan alasan kalau istri kamu takut melihat istri saya yang selalu menjerit setiap kali ingat Kania?"


"Kami pergi menjauh juga karena takut sewaktu-waktu Bapak dan Ibu menyadari kalau pelakunya adalah kami berdua."


"Sekali lagi, maaf, Pak!"


"Kenapa harus Kania?" tanya mama lirih. "Bukankah ada bayi lain di klinik itu?"

__ADS_1


Pak Tono menunduk semakin dalam. "Karena istri saya menyukai Kania sejak pertama kali melihatnya, Bu. Akhirnya kami putuskan untuk membawanya saja."


"Saya tidak bisa berbuat apa-apa, Bu. Saat itu kami belum punya anak karena saya yang tidak bisa punya keturunan. Dari pada Tuti meninggalkan saya, lebih baik saya turuti keinginannya," ucap Pak Tono membuatku perlahan mulai mengerti seperti apa kejadian sebenarnya.


"Kalian licik!" Mama kembali tersulut emosi. Bicaranya memang pelan, tapi ku lihat mama mengeraskan rahang menahan geram.


"Ma, tahan emosi mama," bisikku lagi. Aku hanya tidak ingin emosi terus-terusan membuat tekanan darah mama naik dan mama jatuh sakit.


Mas Zayn datang membawa nampan berisi teh hangat dan Zilla berjalan di belakangnya dengan membawa sepiring makanan yang mereka bawa tadi.


Mas Zayn mempersilahkan kami untuk minum. Ku bantu mama agar mama juga merasa lebih tenang. Aku mungkin belum tahu bagaimana rasanya kehilangan buah hati disaat baru saja melahirkannya, tapi yang pasti rasanya sangat menyakitkan. Mama sampai mengingat tiap goresan luka yang mereka ciptakan.


Aku baru mengerti urutan ceritanya. Ternyata keduanya dulu bekerja pada mama dan papa, lalu mereka menculik kakakku yang masih berada di klinik dan menitipkannya ke rumah saudara. Lalu, mereka mengundurkan diri dengan alasan takut melihat mama menjerit-jerit karena stres? Ya Tuhan, padahal penyebabnya adalah mereka. Kenapa mereka tega, padahal mereka melihat sendiri mama sampai stres begitu.


"Maaf sebelumnya, Pak Faisal," ucap Mas Zayn.


"Arsyla memang menikah dengan saya saat usianya masih 20 tahun. Saat itu ia masih kuliah, dan ia bersedia menikah dengan saya dengan catatan saya bersedia membantu biaya kuliahnya karena tidak tega melihat Bapak dan Ibu sampai menjual sawah mereka demi bisa melihat Arsyla mengenyam pendidikan di bangku kuliah," ungkap Mas Zayn lagi.


Papa dan mama menatap mereka berdua yang masih tertunduk lemah. Aku percaya, mereka pasti memang menyayangi Kakakku seperti anak mereka sendiri. Tujuan mereka menculik adalah agar bisa merawatnya.


"Arsyla sangat menyayangi Bapak dan Ibu," lanjut Mas Zayn.


"Bapak bisa lihat beberapa foto Arsyla sejak masih kecil dan semoga hal ini bisa membuat kalian memaafkan mereka," ucap Mas Zayn yang berdiri dan berjalan mendekati lemari. Lalu, pria itu tampak mengambil sebuah album foto.

__ADS_1


Mas Zayn menyerahkannya pada mama. Aku ikut melihatnya saat mama membuka satu persatu lembar dalam album foto itu. Di lembar pertama, terdapat tulisan tangan dengan tinta warna hitam dan emas.


Arsyla Hartono, buah hati kami.


Membacanya saja berhasil membuatku merinding. Mama membuka lembar pertama. Disana ada empat foto bayi dengan keterangan di bawahnya mengenai usianya. Mulai dari satu bulan, tiga bulan bayi itu sudah tengkurap, enam bulan bayi itu mulai diberi makan, sembilan bulan bayi itu mulai merangkak dan satu tahun bayi itu sudah berdiri dengan cake di depannya. Itu acara ulang tahunnya yang pertama.


Mama mengusap satu persatu foto yang beberapa kali terkena tetesan air mata mama. Aku tahu, mama pasti sedih sekali karena hanya bisa melihat tumbuh kembang anak pertamanya dari foto.


Selanjutnya, ada foto saat pertama kali masuk sekolah, saat mereka pergi liburan dan banyak sekali sampai aku baru menyadari kalau wajahnya begitu mirip saat aku juga seusianya. Mungkin kalau kami hidup bersama dan tumbuh bersama, orang-orang akan mengira kami kembar saat tubuh kami hampir sama tingginya.


"Ceritakan kenapa Kania akhirnya meninggal!" ucap Papa yang masih membiarkan mama melihat semua foto sampai selesai.


"Kania meninggal karena suatu penyakit, Pak. Putri Bapak begitu hebat," gumam Mas Zayn yang tiba-tiba terlihat sedih. Zilla saja sampai memeluk leher papanya dan bersandar di dada tegap itu.


"Dia menyembunyikan penyakitnya dariku. Aku sibuk bekerja dan akhirnya penyakitnya baru ku ketahui saat sudah parah," ucap Mas Zayn menahan tangisnya.


Aku selalu melihat air matanya menggenangi mata setiap kali ia menceritakan istrinya. Dia begitu sayang pada kak Kania. Satu hal yang baru ku sadari adalah ternyata dia abang iparku. Mendadak semua menjadi carut marut begini. Apa mungkin aku mengharapkan cinta dari suami kakakku sendiri? Apa mungkin aku pantas terus berusaha untuk membuat perasaannya berubah, dari mencintai istrinya sampai akhirnya berbalik arah mencintaiku?


Lalu Zilla, pantas saja aku begitu menyayanginya. Rasa itu tumbuh begitu saja, ternyata karena dia adalah keponakanku. Kalau begini akhirnya, bukankah dia juga putriku meski aku tidak menikah dengan papanya?


"Maafkan saya yang telah gagal menjadi suaminya, Pak."


"Papa, jangan sedih, Pa. Mama kan sudah bahagia di surga. Mama kan sudah enggak sakit-sakit lagi," ucap Zilla sambil menghapus air matanya.

__ADS_1


Mama meletakkan album foto itu diatas meja. Mama merentangkan tangannya dan menatap Zilla. "Zilla, boleh Oma minta peluk, Nak!" tangis mama kembali pecah.


Mama pasti lupa, telah marah-marah kepada kakek dan nenek Zilla padahal Zilla adalah cucu kandungnya. Mama pasti juga khawatir kalau Zilla akan membenci atau takut pada mama karena emosi mama yang meledak-ledak, tadi.


__ADS_2