
"Dia memintaku untuk menikahimu," ucap Mas Zayn dan seketika tubuhku terasa beku. Aku tidak salah dengar karena ucapannya begitu jelas. Hal yang membuatku terdiam adalah permintaan anak seusia Zilla yang ku rasa sedikit aneh.
Zilla menyayangi mamanya dan mengatakan aku hanya mirip dengan mamanya. Beberapa hari lalu Zilla juga mengatakan ingin bertemu denganku setiap hari. Lalu, hari ini ku dengar Mas Zayn mengatakan hal itu.
Aku menatap Mas Zayn yang awalnya menatapku kini tertunduk lemah. Apa ini yang membuatnya tampak kusut malam ini? Apa hal ini juga yang membuatnya tidak datang ke toko kue dan tidak juga memberi kabar padaku?
Memberi kabar? Astaga! Harusnya aku sadar diri, siapa aku baginya?
"Aku belum bisa," ucap Mas Zayn yang mendesah pelan.
Kini pria itu menatapku yang sedikit kecewa karena ia mengatakan belum bisa. Aku tidak berharap, tapi aku penasaran apa yang membuatnya belum bisa.
"Maaf, Zi. Aku sudah mempertemukan kalian dan semuanya malah jadi seperti ini," ucapnya seperti orang yang tengah menyesal.
"Tidak apa-apa, Mas. Kamu gak salah. Zilla juga gak salah. Zilla belum mengerti dengan apa yang ia minta dari kamu, Mas. Dia masih terlalu kecil untuk memahami pernikahan."
"Saat ini, yang terpenting adalah kesehatannya. Dia akan lupa dengan permintaannya asal kamu memperhatikannya saat ia sedang dalam kondisi seperti ini."
"Dia butuh support, Mas. Bertemu denganku mungkin membangkitkan banyak kenangan manis Zilla bersama mamanya," ucapku lagi.
Mas Zayn mengangguk. "Aku juga merasakan hal yang sama, Zi."
"Melihatmu membuatku mengingat almarhumah mamanya Zilla." Mas Zayn menatap lurus ke depan.
"Aku kadang berfikir, seandainya ada keajaiban kalau istriku masih hidup atau bahkan lebih konyolnya, jiwanya ada dalam tubuh kamu ...." Mas Zayn melihatku sekilas lalu tertawa menyadari kebod*hannya.
"Aku pasti akan merengkuhmu dan membawamu pulang ke rumah kami," sambungnya lagi dan ia menunduk.
Aku tertegun. Sesayang itu dia pada istrinya? Sampai-sampai ia berfikir sekonyol itu. Dia belum bisa menerima takdirnya. Ya Tuhan, aku tahu hatinya pasti sakit sekali. Dia kehilangan orang yang ia sayangi disaat dia belum siap. Mereka pasti hidup sangat bahagia sebelum berpisah seperti sekarang.
Mas Zayn tampak menangis lagi. Aku bingung harus merasa senang atau sedih. Aku senang, jika aku bisa menikah dengan pria yang nyaris sempurna ini. Dia mapan, tampan, menawan dan ku yakin dia penyayang. Namun, aku sedih karena ternyata dia masih begitu mencintai istrinya. Jika dia menuruti keinginan Zilla, apa aku bisa hidup dengan pria yang masih hidup dalam bayang-bayang istrinya yang telah tiada?
Mas Zayn mengusap wajahnya. Ia menunduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Dia menyayangi Zilla sehingga tidak bisa menolak permintaannya. Tapi, dia punya perasaan yang tidak bisa semudah itu menggantikan istrinya dengan wanita lain.
__ADS_1
"Aku akan bicara pada Zilla," ucapku karena pembicaraan kami ini tak menemukan solusi. Mas Zayn sendiri tidak bisa membuat pilihan. Dia memang terlihat kacau malam ini.
"Kamu akan mengatakan apa, Zi?" tanya Mas Zayn yang seketika menatapku. Matanya memerah dan tampak basah.
"Jangan katakan apapun kalau itu akan menyakitinya, Zi. Ku mohon." Mas Zayn menatapku sendu.
"Biar aku saja yang pelan-pelan menjelaskan padanya. Aku percaya, dia akan mengerti nanti," ucap Mas Zayn.
Sesuai dengan janjiku pada Zilla, malam ini aku tidur di ranjangnya. Sementara Mas Zayn tidur dengan meringkuk di sofa dan tubuhnya tertutup selimut yang memang sengaja di antarkan oleh supir atas perintah Bik Mumun.
Aku tidur miring dan ku lihat hidung kecil nan mancung milik malaikat kecil ini. Bulu matanya lentik dan alisnya lumayan tebal. Sekilas aku melihat diriku saat masih kecil dulu. Apa karena aku mirip dengan mamanya? Zilla memang tidak terlalu mirip dengan Mas Zayn, hanya alis tebal itu yang sepertinya menurun pada Zilla.
Menjelang pagi, aku terbangun saat ku rasakan tubuh Zilla bergerak. Aku terkejut saat ku lihat Mas Zayn sedang membantu Zilla turun dari ranjang. Seketika aku terduduk dan menggosok mataku.
"Zilla mau dibawa kemana, Mas?" tanyaku dengan suara parau.
"Zilla mau ke toilet, Zi."
Aku segera turun saat Mas Zayn menggendong tubuh Zilla dan satu tangannya lagi memegang tiang yang digunakan untuk menggantung kantung infus.
Zilla menatapku saat ia sudah berada di dalam toilet. Aku dan Mas Zayn saling tatap saat melihat Zilla sedikit berbeda.
"Zilla mau tante bantu?" tanyaku menawarinya. Dan gadis kecil itu mengangguk. Ah, dia masih marah pada papanya.
Aku masuk ke dalam dan Mas Zayn menunggu di luar. Setelah selesai, kami membawa Zilla kembali berbaring diatas ranjang.
"Kamu kenapa gak banguni tante, Sayang?" tanyaku yang merasa tidak enak hati karena tidak tahu kalau Zilla ingin ke toilet.
"Papa tadi lagi bangun, Tante," jawabnya.
Aku senang, dia sudah lebih baik. Wajahnya juga tidak terlalu pucat dan demamnya berangsur turun. Hasil lab akan diketahui besok pagi. Semoga Zilla tidak mengalami penyakit yang serius.
"Ya, Zi. Kebetulan aku sedang terbangun untuk mengecek suhu tubuhnya."
__ADS_1
"Sekarang, Zilla bobok lagi ya, Sayang!" Mas Zayn mengusap kepalanya dan mengecup keningnya.
Zilla hanya mengangguk saja. Aku menarik selimut hingga ke dadanya. Ia sudah memejamkan mata, tapi ku tahu dia tidak tidur secepat ini.
Mas Zayn kembali ke sofa dan tertidur. Nafasnya terdengar mulai teratur setelah beberapa menit. Sementara aku tidak bisa tidur lagi. Aku memandangi wajah Zilla dan aku terkejut saat kepalanya menoleh ke arahku.
"Tante gak tidur?" bisiknya. Dia takut suaranya membangunkan papanya.
Aku menggeleng. "Tante gak bisa tidur." Aku juga mengatakannya dengan berbisik.
"Sama, Zilla juga," bisiknya lagi.
Aku mengusap pipinya yang terasa lembut seperti kapas. "Kamu kan, sedang sakit, Sayang. Kamu harus banyak istirahat."
Zilla menatapku. "Apa Zilla salah kalau mau menjadikan tante sebagai mama Zilla?"
Aku menghela nafas. Dia bertanya padaku untuk masalah yang aku dan Mas Zayn belum ketahui jalan keluarnya.
Aku menggeleng.
"Lalu, kenapa papa marah-marah, Tante? Kenapa papa menolak saat Zilla minta papa untuk menikah sama Tante dan kita tinggal satu rumah?" tanyanya dengan mata berkaca.
Aku tidak mungkin mengatakan kalau papanya belum bisa menggantikan mamanya dengan wanita manapun. Aku juga tidak mungkin mengatakan kalau aku tidak mau menikah karena papanya hanya melihat banyangan mamanya dalam diriku, bukan karena benar-benar mencintaiku.
"Karena menikah bukan hal yang sederhana seperti yang Zilla fikirkan, Sayang!" Ku selipkan anak rambutnya. Aku ingin bicara selembut mungkin dan semoga bisa membuatnya mengerti.
"Ada banyak alasan mengapa seseorang memutuskan untuk menikah, Sayang."
"Apakah salah satunya cinta, Tante?"
Aku menautkan alisku. "Kamu tahu cinta?" Ku sentuh lembut hidungnya dengan ujung ibu jariku.
"Karena dulu, setiap hari, papa mengatakan love you pada mama," jawab gadis kecil ini dengan begitu polosnya.
__ADS_1
Sekarang aku tahu, dimana posisiku. Aku masih jauh dari hati Mas Zayn. Aku masih terlalu jauh untuk bisa meraih cintanya.