
Aku masih ingin melihat apa yang akan terjadi setelah pria kedua berhasil dikalahkan. Apakah masih ada orang yang akan muncul lagi untuk mengambil sesuatu yang ku letakkan di belakang batu besar itu?
Namun ternyata aku salah. Semua drama ini sudah berakhir, karena terlihat Zilla tiba-tiba muncul bersama beberapa orang yang merupakan anggota kepolisian. Aku segera keluar dari mobil dan berlari memeluk putri kecilku.
Ku fikir, penja-hat kelas kakap yang telah menculik Zilla, tapi ternyata hanya penja-hat kelas teri yang ingin punya uang jajan dalam waktu singkat.
"Kamu gak kenapa-kenapa kan, Sayang?" Aku berlutut memeriksa lengan dan wajah putriku.
Zilla menggeleng dan ia memelukku sangat erat. "Zilla takut, Pa!"
Aku mengusap kepalanya, "Papa ada disini, Sayang! Maaf kalau papa gak bisa menjaga kamu. Maafin papa ya, Sayang!"
"Tante Nia, Pa!" Zilla menangis menyebut nama Nia.
Kenapa aku melupakan Nia? Bukankah Nia menghilang bersama Zilla? Lalu dimana keberadaannya sekarang?
"Tante Nia berdarah, Pa."
"Berdarah? Dimana dia sekarang, Nak?" tanyaku padanya. Nia berdarah? Apakah karena terluka atau telah terjadi sesuatu pada bayi dalam kandungannya?
Zilla menggeleng. "Aku gak tau dimana tempat itu, Pa," ucap Zilla lagi. "Tempatnya gelap, kotor dan bau."
Aku mengusap kepala putriku. Aku harap ia tidak mengalami trauma akibat kejadian ini. Aku berjalan mendekati pelaku yang telah menculik Zilla. Aku membuka penutup wajahnya dan mataku membulat.
"Reza?" gumamku tak percaya kalau ternyata pria ini yang menculik Zilla.
Reza tersenyum miring. "Kenapa terkejut, Zayn?"
"Dimana Nia?" bentakku.
"Cari saja sampai ketemu!" Ia menyeringai.
"Baj*ingan!" Aku menarik kerah bajunya. "Katakan dimana Nia?"
"Kenapa kamu begitu khawatir? Apa kamu menyukai mantan istriku itu, hah!"
Aku menghajar wajahnya, tapi petugas kepolisian melarangku dengan menjauhkan pria busuk itu.
Reza segera dibawa ke kantor polisi setelah mengatakan keberadaan Nia. Ia dipaksa bicara oleh petugas kepolisian.
Aku dan dua orang polisi menuju lokasi sesuai informasi yang Reza berikan. Kami tiba di sebuah bangunan tua.
__ADS_1
Zilla langsung mengenali tempat itu. "Iya pa, disini tempatnya!"
Aku membiarkan Zilla tetap berada di dalam mobil karena khawatir jika ada penyerangan mendadak.
"Zilla hubungi mama kalau seandainya ada hal mencurigakan atau papa belum kembali setelah 10 menit, ya!" perintahku sambil memberikan ponselku padanya. Zilla mengangguk mengerti.
"Papa hati-hati," ucapnya.
Aku dan salah satu polisi masuk ke dalam sementara yang satu lagi berjaga di luar sekaligus menjaga Zilla.
Aku mencari dimana Nia berada dengan bantuan senter kecil ditanganku. Kami membuka setiap pintu di bagunan yang gelap itu. Tidak ada tanda-tanda keberadaan seseorang di tempat ini. Apa mereka sudah membawa Nia pergi dari sini?
"Nia!" teriakku memanggil namanya.
"Nia, kamu masih disini?"
"Kamu mendengarku, Nia?"
"Tolong aku!" suara itu terdengar lemah tapi aku yakin itu suara Nia.
"Nia, kamu dimana?"
"Itu kamu, Zayn. Aku disini?" suara Nia seperti sedang menahan sakit. Ia juga mengenali suaraku.
Aku segera membuka tali yang mengikat tubuhnya. Aku tak sanggup melihat kursi itu basah karena darah yang ku rasa keluar dari ....
"Kamu pendarahan, Nia." Aku terkejut setelah menyadari apa yang telah terjadi pada Nia.
"Anakku, Zayn. Tolong selamatkan anakku!" ucap Nia hingga akhirnya ia pingsan.
Aku segera membawa Nia ke rumah sakit. Aku menghubungi Zia agar segera menyusul kami. Aku tahu, istriku pasti menunggu kabar baik dariku.
"Mas, Kak Nia dimana?" tanya Zia saat ia baru tiba di rumah sakit bersama mama dan papanya.
Aku memang mengatakan padanya mengenai kondisi Nia. Dia juga sudah tahu kalau Zilla baik-baik saja karenanya ia menanyakan Nia lebih dulu ketimbang Zilla.
"Nia masih ditangani dokter, Zi. Dokter terpaksa mengeluarkan janin dalam kandungan Nia karena detak jantung janin itu sudah tidak ada."
Zia menangis, "Kak Nia keguguran?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Lalu, dimana Zilla, Mas?"
__ADS_1
Aku menunjuk ke arah kursi tunggu dimana Zilla sedang duduk sendirian. Zia segera berlari dan memeluk putri kecilku.
"Terima kasih karena sudah melakuan yang terbaik, Zayn!" Mama memelukku sambil menangis.
"Mama gak tau apa jadinya kalau kamu terlambat atau salah siasat."
"Semua ini berkat bantuan polisi, Ma," jawabku yang dengan senang hati membalas pelukan hangat mama. Pelukan hangat seorang ibu yang sudah lama tidak ku rasakan.
"Kita temui kak Nia dulu, Mas," ucap Zia saat aku mengajaknya pulang karena mama dan papa yang akan menjaga Nia di rumah sakit.
Kami masuk ke ruangan tempat Nia di rawat. Wajahnya sangat pucat dan matanya masih sembab. Ia pasti sangat sedih karena telah kehilangan bayi yang harusnya ia lahirkan beberapa minggu lagi.
"Sabar ya, Kak!" Zia mendekap tubuh Nia. Keduanya menangis, tapi tak sepilu Nia yang harus mengikhlaskan harapan baru dalam hidupnya.
"Tuhan pasti punya rencana yang jauh lebih baik, Kak!"
"Tapi kenapa harus dengan mengambil bayiku, Zi!"
"Kakak harus ikhlas, Kak! Aku janji akan membuat pelakunya mendapat hukuman yang setimpal, Kak."
"Reza pelakunya, Zi!" Nia menangis. "Dia yang menyebabkan anaknya meninggal. Dia begitu jahat, Zi!"
"Dia mendorongku sampai aku terjatuh dan perutku terbentur tembok. Aku membencinya, Zi!" Nia sampai tidak bisa mengontrol dirinya. Padahal kondisinya masih lemah.
Kami sudah sampai di rumah. Aku membiarkan Zilla membersihkan tubuhnya dengan dibantu oleh Zia. Aku memilih untuk turun ke dapur dan membuat coklat panas untuk kami bertiga. Aku juga memanggang roti karena Zilla mengeluhkan perutnya yang terasa lapar.
"Kapan tante Nia pulang, Pa?" tanya putriku. Kami sedang duduk bertiga diatas ranjang. Sebentar lagi sudah memasuki waktu subuh, dan kami belum juga tidur.
"Hoaam." Zilla menguap dan menutup mulutnya membuat aku dan Nia tertawa.
"Tante Nia akan pulang secepatnya setelah sehat, Sayang!" jawab Zia. "Kita doain semoga tante Nia cepat sembuh, ya."
"Sekarang, saatnya Zilla tidur." Zia menggeser tubuhnya dan memeluk tubuh
Zilla.
Tak butuh waktu lama, Zilla langsung terlelap. Dia pasti kelelahan setelah mengalami kejadian yang begitu membekas dalam ingatannya.
Aku berpindah posisi agar bisa memeluk tubuh Zia. Dia membalikkan tubuhnya dan kami saling berhadapan.
"Gak nyangka ya, sehari jadi pengantin malah dapat cobaan berat seperti ini?" tanyaku dan ia mengangguk. Ku selipkan rambut ke belakang telinganya.
__ADS_1
"Dan kita bisa melewatinya." Aku memeluknya. "Semoga kita akan terus bersama meski badai besar sekalipun yang datang untuk menguji kita."