
Ponsel yang terus berdering membuatku terpaksa berhenti menyelesaikan pekerjaanku. Padahal aku ingin segera pulang agar aku bisa makan malam bersama putriku, Zilla.
Terlihat nama Pak Marno yang menghubungiku. Ku jawab panggilannya.
"Hallo, Pak. Mobil Mbak Zia kecelakaan dan Non Zilla ada di dalam mobil itu," ucap Pak Marno dengan suara bergetar tanpa jeda.
Seketika lututku terasa lemas seperti tak bertulang. Aku menutup laptop dan bersiap untuk pulang sambil mendengar penjelasan Pak Marno yang baru saja mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan tinggi seolah aku tak peduli lagi dengan nyawaku. Aku belum tahu pasti seperti apa kondisi Zilla dan Zia karena Pak Marno sendiri sedang menunggu mereka ditangani oleh dokter.
Sepanjang jalan, mulutmu komat kamit merapalkan doa terbaik untuk keduanya. Ini kabar duka pertama setelah aku kehilangan Arsyla. Apa lagi saat ini datangnya dari Zilla.
"Ah, sial!" umpatku saat lampu lalu lintas berubah merah.
Meski begitu, ku terobos saja. Soal resiko dan segala urusan dengan pihak berwajib, akan ku urus nanti. Mana bisa aku menunggu lagi. Aku harus segera tiba di rumah sakit dan memastikan kondisi mereka berdua.
Entah kenapa, aku juga khawatir pada Zia. Apa karena ia adalah orang yang saat ini sangat berarti untuk Zilla, atau karena dia juga berarti untukku?
"Astaga! Padahal sebentar lagi aku sampai," keluhku saat dua orang pria berseragam polisi lengkap dengan motor gedenya mengejarku di belakang.
Aku semakin menginjak pedal gas dan syukurnya aku segera tiba di rumah sakit. Aku segera keluar dari mobil dan menemui dua orang petugas kepolisian itu.
"Selamat sore, Pak!" sapa salah satunya.
"Selamat sore," jawabku cepat.
"Bisa tunjukkan surat-suratnya? Anda telah melanggar rambu lalu lintas. Anda menerobos lampu merah."
Aku mengangguk. Ku ambil surat kendaraan di dompet beserta SIMku dan juga kartu namaku.
"Ini, Pak. Tapi maaf, saya harus segara masuk karena anak saya mengalami kecelakaan dan saya harus memastikan keadaannya."
"Saya akan minta orang saya untuk mengurus ini. Maaf sekali lagi, Pak!" Aku segera berlari menuju pintu masuk rumah sakit.
Pak Marno dan Bik Mumun berdiri dengan tidak tenang. Terlihat jelas kalau bahu Bik Mumun bergetar tanda ia sedang menangis.
Dengan langkah gontai, aku mendekati mereka berdua. Pak Marno meminta maaf berulang kali karena tidak membawa pulang Zilla bersamanya.
Aku mengusap bahunya. Bukan salahnya juga, karena Zilla sendiri yang ingin pulang bersama Zia.
"Dokter belum keluar juga, Pak?" tanyaku pada Pak Marno.
__ADS_1
"Belum, Pak," jawabnya dengan nada lemah.
Aku mengusap kasar rambutku. Bercak darah yang ku yakin sampai membasahi baju Bik Mumun dan Pak Marno membuatku semakin berfikiran negatif.
Aku pasrah ya Allah. Tapi, hamba mohon, lindungilah mereka berdua.
"Saya melihat kecelakaan itu di depan mata saya, Pak. Mobil Mbak Zia menabrak bagian belakang sebuah truk." Pak Marno bercerita saat aku coba menenangkan diri sambil duduk di kursi tunggu.
"Saya menemukan Mbak Zia sudah tidak sadarkan diri, Pak."
"Di perjalanan, Mbak Zia berulang kali menyebut nama Non Zilla. Sepertinya dia sangat mengkhawatirkan keadaan Non Zilla." Pak Marno menjelaskan padaku mengenai kejadian setengah jam yang lalu itu.
"Lalu Zilla?" tanyaku cepat.
"Non Zilla sepertinya masih syok, karena melihat darah keluar dari kening dan hidung Mbak Zia, Pak. Dia terus menangis memanggil nama Mbak Zia," papar Bik Mumun.
Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Rasanya dunia seperti runtuh saat aku mendengar kabar ini. Putri kecilku, mengapa kamu harus mengalami hal seburuk ini?
"Keluarga Zilla?"
Aku segera berdiri saat seorang dokter bertanya demikian. "Saya papanya, Dok. Bagaimana keadaan anak saya?"
Dokter muda dan tampan itu tersenyum kecil. "Putri Bapak sangat hebat. Dia gadis yang kuat."
Aku dan dua orang yang selalu menemani dan menjaga Zilla segera menemui putri kecilku itu.
Ku lihat dia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya sangat pucat. Keningnya tampak diperban dan ada luka memar di bagian pipinya.
Aku segara memeluknya. Ku cium seluruh wajahnya sebagai ungkapan rasa bahagia karena dia baik-baik saja.
"Anak papa kuat, ya Sayang!" bisikku dengan air mata yang tak bisa ku tahan lagi.
"Anak papa hebat," lanjutku.
"Tante Zia, Pa!" rengeknya dengan suara lirih. "Tante Zia berdarah, Pa."
Ku tangkup pipinya perlahan karena khawatir dengan luka memar itu. "Kamu saja hebat begini. Papa yakin, tante Zia pasti lebih hebat, Sayang!"
"Tante Zia akan baik-baik saja. Kamu banyak berdoa ya, Nak."
"Pak, dokter yang menangani Mbak Zia memanggil," ucap Pak Marno yang memilih keluar lagi karena tidak tega melihat kondisi Zilla.
__ADS_1
"Papa temui dokter sebentar ya, Nak! Zilla sama Bik Mumun sebentar," pamitku sambil ku usap rambutnya.
"Tante Zia akan segera sembuh, kan, Pa?" tanyanya dan aku mengangguk ragu.
Dokter membawaku ke ruangannya. Dokter juga melihat hasil pemeriksaan Zia yang baru saja diberikan oleh suster.
"Pasien kehilangan banyak darah."
Ku harap ini tidak seperti di film-film yang mana selalu ada adegan kehabisan stok darah.
"Lalu, sudah ditangani kan, Dok?" tanyaku tak sabar.
"Sudah, Pak. Ada luka serius di bagian hidungnya."
Mungkin karena itu hidungnya sampai berdarah.
"Tulang bahunya juga mengalami cidera. Akan segera kami lakukan pemeriksaan lebih lanjut."
"Lakukan yang terbaik, Dok. Yang terpenting, selamatkan dia."
Aku keluar dari ruangan dokter dan aku baru menyadari satu hal yang telah terlewat.
"Aku belum menghubungi orang tua Zia." Aku menepuk keningku.
"Kenapa aku malah melupakan hal sepenting itu?"
Aku segera menghubungi Papanya Zia. Dan orang tua Zia segera menuju ke rumah sakit.
"Zayn, di mana Zia?" tanya mamanya panik sekaligus khawatir.
"Zia sedang di ruang pemulihan, tante." Aku belum bisa memanggilnya mama meski ia adalah mama kandung Arsyla alias Kania.
Ku antarkan mereka ke ruangan dimana putri mereka sedang terbaring lemah. Aku merasa bersalah. Semua ini terjadi karena Zia menuruti keinginan putriku.
"Kenapa bisa terjadi, Zayn?" tanya Om Faisal padaku.
Aku menggeleng. "Saya belum tahu pasti, Om. Karena saya belum mencari tahu mengenai detail kejadiannya sampai mobil mereka menabrak sebuah truk."
"Pihak kepolisan pasti akan menindak lanjuti kecelakaan ini, Zayn!"
Aku mengangguk. "Itu sudah pasti, Om. Tapi untung saja tidak ada korban lainnya."
__ADS_1
Ku lihat mamanya Zia menangis saat keluar dari ruangan itu. "Papa..." tangis wanita itu pecah saat ia memeluk tubuh suaminya.
Aku salut pada mereka yang bisa saling menguatkan. Aku takjub pada mereka yang dengan ikhlas menerima kenyataan ini dan saling memberi dukungan. Apa aku kelak akan memiliki pasangan yang bersedia menemaniku di masa tua?