
"Papa sudah pulang?"
Aku terpaku kala tubuh mungil dengan rambut panjang sepinggang itu berbalik.
Mata yang tampak sembab dan basah itu kini membulat menatapku.
Papa? Apa dia anaknya Mas Zayn?
"Mama..."
Duaaaaar!
Mama? Apa maksudnya semua ini?
Perlahan tubuh kecil itu turun dari kursi. Aku melihat tangannya memegang dua benda yang bisa ku tebak adalah sebuah boneka beruang dan ... sebuah figura?
Kakinya tampak bergetar saat melangkah, namun tubuhnya tidak limbung sedikitpun. Mas Zayn juga tidak menjemput gadis kecil itu dan itu artinya dia baik-baik saja.
Ya Tuhan, malaikat bermata coklat ini begitu memikat.
Dia melangkah hingga kini tubuhnya berada di depanku. Ku lihat dia mendongak masih menatapku.
Aku berjongkok. Ku hapus air matanya yang membanjiri pipi. Ia menangis dalam diam. Dadanya naik turun, dan ku tahu pasti rasanya menyesakkan.
"Bukan mama," gumamnya lalu tertunduk lesu.
Aku menatapnya heran. Tadi, ia memanggilku mama. Dan dalam semenit ia tahu kalau aku bukan mamanya.
Sejuta pertanyaan membuatku bingung. Kemana mamanya? Kenapa Mas Zayn hanya diam saja? Kenapa anak kecil yang usianya sekitar 7 tahun ini begitu sedih bahkan disaat kami belum datang?
"Hai sayang ..." Aku mengalihkan perhatiannya yang tengah menunduk sambil menangis. Bahunya saja sampai bergerak naik turun.
"Nama tante, Zia." Ku ulurkan tanganku di depannya.
Ku intip wajahnya dan aku tersenyum saat ia melirikku. Perlahan wajahnya terangkat dan ia menjabat tanganku. Tangan kecilnya begitu dingin namun terasa lembut.
"Tante Zia?"
Aku menganguk. "Nama kamu siapa, sayang?"
"Azilla."
"Zilla," ulangnya. Mungkin ia biasa dipanggil Zilla.
Zilla menatap Mas Zayn yang masih berdiri. Seketika pria itu berjongkok dan memegang bahu gadis kecil itu.
"Tante Zia bukan mama, Sayang!"
"Tapi, semoga bisa mengobati rasa rindu Zilla kepada mama." Mas Zayn berkata dengan suara menahan tangis.
Aku menatap keduanya bergantian. Air mata mulai menggenang di mata pria itu. Air mata yang sama seperti yang ku lihat kemarin malam.
Zilla tampak mengangguk. "Mama Zilla cuma satu."
Mas Zayn mengangguk dan menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
"Mama Zilla sudah di surga, Pa."
Aku masih bisa mendengar kata-kata Zilla meski ia ucapkan dengan isak tangis yang membuatku merinding.
__ADS_1
Air mataku ikut menerobos keluar. Hatiku rasanya teriris melihat anak sekecil dia harus menghadapi semua ini. Dia kehilangan penopang hidupnya. Dia sudah ditinggalkan separuh nyawanya.
"Zilla benar, Sayang. Dan papa ingin, Zilla mengenal Tante Zia sebagai teman, Nak."
"Bukankah Zilla ingin melihat wajah mama? Tante Zia sangat mirip dengan mama kan, Nak?"
"Zilla gak suka dengan hadiah papa ini?"
Aku mengerti sekarang, mamanya sudah meninggal. Istri Mas Zayn sudah meninggal. Itu berarti .... Dia seorang duda?
Aku menarik nafas dalam. Semirip apa aku dengan istrinya? Apa karena wajahku ini sehingga dia selalu datang ke toko? Apa dia hanya menjadikanku sebagai obat penawar rindu terhadap istrinya?
Ya Tuhan, rasanya sakit sekali. Dia datang bukan karena rasa cake yang ku buat. Bukan karena aku, juga.
Dia datang karena merindukan istrinya dan mencoba mengenang istrinya dengan melihat wajahku.
Dia datang untuk mengenalku lalu menjadikanku teman untuk anaknya. Dia berharap agar aku bisa menghilangkan kesedihan gadis itu.
Aku memang pernah menyewanya dengan bayaran tak seberapa, dan dia membalasku dengan sesakit ini?
Apa dia tidak memikirkan perasaanku? Mengapa dia tidak menceritakan ini di awal? Mengapa dia tidak memberi tahuku agar aku tidak berharap lebih? Apa akunya saja yang terlalu berharap pria ini menaruh hati padaku?
Aku berdiri dan apa yang ku lihat membuatku meraba pipi. Sebuah figura di atas nakas. Di foto itu ada Zilla, Mas Zayn dan wanita yang sangat mirip denganku.
Matanya sama seperti Zilla, berwarna coklat dengan bulu mata yang lebat. Aku dan dia sangat mirip. Dan pipiku hanya sedikit lebih gemuk darinya.
Aku mundur selangkah. Aku ingin pulang saja. Aku kecewa dengan keadaan ini. Aku merasa dimanfaatkan. Dan apa yang terjadi ini sangat jauh dari ekspektasiku.
Aku mengira malam ini aku akan bahagia, tapi nyatanya aku malah menyaksikan hal menyedihkan ini.
Aku berbalik dan tangan Mas Zayn memegang tanganku. Ia menatapku dan menggeleng. Aku tahu, itu artinya aku tidak boleh pergi.
"Papa sayang, Zilla." Dikecupnya kening Zilla dengan penuh perasaan.
"Zilla mau tidur atau masih mau main dengan papa?"
Zilla menatapku dan Mas Zayn bergantian. "Zilla mau tidur, Pa. Besok pagi, Zilla mau ke rumah mama."
Mas Zayn mengangguk. "Besok pagi, papa temani."
Mas Zayn membaringkan gadis kecil itu di atas ranjang dan menyelimutinya. Sementara aku duduk di sofa kecil di samping ranjang.
"Mau papa bacakan cerita?"
"Ya sudah, Zilla bobok ya."
Berarti gadis itu tidak mau dibacakan cerita sebelum tidur. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang tubuh Mas Zayn.
Saat Mas Zayn menidurkan anaknya dengan mengusap rambut panjang itu, aku pun sibuk melihat sekeliling.
Kamar ini sangat luas, dan aku baru menyadari bahwa di kamar ini ada begitu banyak foto mamanya Zilla.
Takdir apa ini, ya Tuhan? Saat aku mulai menyukai seseorang, ada saja cobaannya. Bagaimana bisa aku sangat mirip dengan wanita itu?
"Namanya Arsyla," ucap Mas Zayn saat aku dan dia duduk di sebuah gazebo di halaman depan rumahnya.
"Dia istriku yang meninggal hampir dua tahun lalu."
Aku tidak terkejut lagi karena semuanya sama seperti dugaanku.
__ADS_1
"Karena suatu penyakit ganas yang memang terlambat kami sadari."
"Dan itulah yang membuatku menyesal hingga sekarang."
"Aku punya segalanya tapi aku tidak tahu istriku menahan sakit."
"Aku terlalu sibuk mengumpulkan uang. Dan sekarang aku baru merasakannya, uang sebanyak itu tidak berarti apa-apa tanpa dirinya."
"Zilla sering murung meski aku selalu meluangkan waktu untuknya, membawakan cake coklat kesukaannya atau membawanya liburan ke wahana permainan."
"Aku kehilangan istriku sekaligus senyum putriku."
"Saat itu aku menemukanmu."
"Saat aku membeli sebuah cake untuk Zilla dan aku melihatmu begitu mirip dengan Arsyla."
"Jadi, karena itu kamu datang hampir setiap hari?" tanyaku.
Dia menatapku dan menggeleng. "Bukan, karena aku tahu Sylaku gak akan aku temui pada tubuh wanita lain."
"Aku datang karena aku ingin membawamu ke hadapan Zilla. Menjadikanmu sebagai temannya."
"Maaf, aku terkesan memanfaatkanmu."
Ya, aku merasa begitu, Mas.
"Tapi, bisakah kamu membantuku dengan mengembalikan senyumnya?"
"Ini ulang tahun kedua Zilla tanpa mamanya, Zi."
"Aku tidak ingin dia bersedih seperti tahun kemarin."
Dia menggenggam tanganku sehingga tubuhku seketika seperti tersengat aliran listrik.
"Bukankah dengan melihatku membuatnya semakin merindukan mamanya?"
"Bukankah itu akan terasa menyakitkan?"
Mas Zayn mengangguk. "Aku ingin dia mengikhlaskan kepergian mamanya."
"Aku sudah melihatnya, dan dia sudah ikhlas, Mas."
"Dia bahkan tahu kalau aku bukan mamanya. Dan dengan menghadirkanku, kamu membuatnya kembali menangis."
Kami jadi berdebat begini. Aku tidak setuju dengan keinginannya. Aku dan Zilla berbeda usia. Bagaimana bisa aku menjadi temannya?
"Aku gak mau menemuinya lagi kalau itu atas keinginan kamu, Mas. Aku gak mau jadi penyebab gadis secantik dia bersedih."
"Dia akan mencarimu, Zi. Meskipun aku melarangnya untuk bertemu denganmu."
"Dia hanya syok tadi."
"Dia merindukan mamanya, Zi. Seandainya Syla punya saudara yang mirip dengannya, Zilla pasti sangat senang."
"Dia masih kecil. Ia butuh sentuhan nyata, dia butuh pelukan hangat meskipun dari seseorang yang hanya mirip dengan mamanya."
"Dan aku percaya itu."
Aku diam saja. Aku enggan berdebat dengan Mas Zayn karena apa yang menurut pria itu benar, sama sekali tidak benar menurutku.
__ADS_1
"Tante Zia."