Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 39 Partner Sewaan


__ADS_3

Aku mengemas pakaianku ke dalam koper karena setelah makan malam nanti, aku dan Mas Zayn akan langsung pergi menuju hotel tempat kami menginap selama beberapa hari.


Di depanku, ada sepasang kekasih berbeda usia yang membuatku ingin membatalkan bulan madu singkat itu. Suamiku, sedang duduk di lantai, memangku putri tercintanya yang sedang memeluk boneka beruang.


Gadis kecil itu tampak murung, tapi sekalipun tidak melarang kami untuk pergi. Mas Zayn terlihat beberapa kali mengecup kepala Zilla.


"Sedih terus sih, Sayang? Kenapa, hem?" tanyaku yang duduk mendekati mereka berdua.


"Aku gak lagi sedih," jawab Mas Zayn membuat Zilla mendongak menatap wajahnya.


"Aku gak nanya sama kamu, Mas!" jawabku. "Aku bicara sama anakku," lanjutku sambil mengusap pipi Zilla.


"Zilla mau ikut papa sama mama?" tanyaku padanya.


Dia menggeleng.


"Good girl!" ucap Mas Zayn cepat.


"Mas!" Aku meliriknya kesal. Putrinya belum bicara sepatah katapun, dan malah terus-terusan dia yang menjawab.


"Zilla mau ikut, Nak?" tanyaku lagi.


Dia menjawab dengan cara yang sama, yaitu menggeleng.


"Ada sesuatu yang mau kamu tanya atau bicarakan, Sayang? Sini mama pangku!" Aku merentangkan tanganku dan memintanya duduk di pangkuanku.


Dia tak bergerak. Aku jadi bingung dengan putri kecil yang sejak pagi tadi selalu bahagia dan tiba-tiba murung saat kami akan berangkat.


Ku lirik Mas Zayn yang hanya bisa mencebikkan bibir sambil menggeleng. Pria itu juga belum tahu alasan putrinya tiba-tiba murung.


"Pa ...." Ah, akhirnya Zilla mau bicara juga.


"Ya, Sayang!" Mas Zayn menatap wajahnya.


"Apa ...." Terlihat ragu, saat Zilla akan bertanya pada Mas Zayn.


"Apa papa akan tetap sayang sama Zilla kalau sudah ada adik bayi?"


Ya Tuhan! Siapa yang telah membuat Zilla berfikir demikian. Pasti ada yang meracuni fikiran gadis ini. Pagi tadi, dia sendiri yang penasaran kapan kami akan memberikannya adik, tapi sekarang dia malah terlihat khawatir kalau kami akan melupakannya.


Mas Zayn mengusap rambutnya. "Sekarang, papa mau tanya sama Zilla."


"Dulu Zilla sayang sama mama Syla kan?" tanyanya dan Zilla mengangguk.

__ADS_1


"Terus, sekarang Zilla juga sayang kan, sama mama Zia?"


Zilla mengangguk lagi.


Mas Zayn tersenyum kecil. "Lalu, setelah ada mama Zia, apa Zilla melupakan mama? Apa Zilla gak sayang mama lagi?"


Zilla diam sejenak, mungkin dia sedang mencoba memahami apa yang papanya katakan.


"Zilla tetap sayang mama Syla walaupun sekarang ada mama Zia," jawab Zilla.


"Seperti itulah sayangnya papa kepada Zilla. Zilla akan tetap menjadi anak yang papa sayang, meskipun nanti Zilla punya satu, dua, atau tiga adik."


Aku membulatkan mata karena terkejut dengan keinginnnya. Satu saja belum dibikin, eh malah ingin dua atau tiga.


"Zilla bisa punya tiga adik, Pa?" tanyanya excited dengan menunjukkan tiga jarinya.


Mas Zayn mengangguk. "Bisa dong! Makanya, Zilla doain ya, semoga mama sama papa diberi kepercayaan sama Allah untuk punya adik bayi. Supaya Zilla punya teman main."


Aku lega karena ternyata drama ini cepat berakhir. Zilla yang cerdas itu mengatakan pada kami kalau ada yang mengatakan padanya bahwa dia tidak akan disayang lagi saat kami sudah punya anak suatu saat nanti.


Zilla tidak tahu namanya, tapi dia menjelaskan kalau seorang wanita berbaju biru yang mengatakan padanya saat acara akad nikah tadi.


Sungguh kurang kerjaan sekali orang tersebut, mungkin niatnya hanya bercanda, tapi dia tidak memikirkan dampaknya pada Zilla. Untung saja, Zilla mau bercerita sehingga kami bisa menjelaskan padanya.


"Jangan nakal ya, Sayang!" pesan Mas Zayn pada putrinya.


"Baik-baik boboknya, jangan sampai kena perut tante hamil," ucap Mas Zayn lagi karena malam ini Zilla ingin tidur bersama kak Nia.


Aku bersyukur, Kak Nia ternyata benar benar ingin berubah dan menyesali perbuatannya. Dan aku bersyukur, hatiku dan hati kedua orang tuaku masih membuak pintu lebar-lebar untuknya. Dan ini bukan tentang salah atau benar, tapi tentang sebuah kesempatan.


Aku berjongkok dan mencium pipi Zilla. "Lusa, susul mama sama papa ya, Sayang."


"Oke, mama."


Aku dan Mas Zayn segera pergi menuju hotel karena waktu terus berjalan. Aku sedikit khawatir meninggalkan Zilla.


"Mas, kenapa baru lusa mereka bisa ikut menginap, Mas?" tanyaku karena masih terasa berat membiarkan Zilla tidur dengan kak Nia.


"Ya, karena lusa, Zilla baru bisa libur sekolah, Zi. Tadi, kita kan sudah membahas masalah ini."


Kami memasuki kamar hotel yang sangat mewah dengan ranjang super luas. Mungkin aku bisa bebas berguling malam ini.


Mas Zayn langsung masuk ke kamar mandi. Jujur saja, aku merasa berdebar.

__ADS_1


"Dia gak sabaran sekali. Baru juga sampai," gumamku yang sudah berfikiran macam-macam.


Ternyata aku salah, ku fikir dia akan langsung menanggalkan pakaiannya dan menyerangku untuk segera memproses seorang adik bayi untuk Zilla.


Mas Zayn berjalan melewati tubuhku yang mematung saat melihatnya keluar dari kamar mandi masih dengan pakaian lengkap. Dia membuka lemari es dan mengambil dua minuman kaleng.


Aku segera masuk ke kamar mandi sebelum dia menyadari kalau aku memikirkan hal yang memang seharusnya terjadi malam ini.


Aku mengganti pakaianku dengan setelan piyama tidur. Aku duduk di sampingnya, dan kami memandang kaca besar yang menampilkan ribuan bintang di langit.


"Gugup, hem?" tanyanya yang langsung merangkul bahuku. Dia ternyata bisa menebak apa yang ku rasakan sekarang.


Aku mengangguk malu. Siapa yang tidak gugup saat akan melewati malam panjang tanpa ada gangguan sama sekali seperti ini.


Dia tertawa pelan. "Aku yang sudah berpengalaman saja, juga merasa gugup," akunya tanpa malu sedikitpun.


"Masa, sih?" tanyaku tak percaya.


Dia mengangguk. "Semoga aku belum lupa caranya," ucapnya sambil tertawa pelan.


Aku tertawa juga, sengaja agar suasana tidak terasa menegangkan. "Dan semoga aku bisa ...."


"Bisa apa?" tanyanya dengan manatap wajahku.


"Ya, bisa ... bisa merasa nyaman."


Dia tertawa. "Kenapa kita malah seperti anak belasan tahun yang baru jadian?"


Benar juga katanya. "Entahlah, Mas. Apa karena aku menikahi partner sewaanku, ya?"


Ya, anggap saja kami dulu pernah pacaran bohongan dan sekarang pacaran beneran.


"Lalu, sekarang aku malah kena karma, dan kita malah menikah, sungguhan pula, bukan bohongan."


Dia tertawa. Mungkin dia mengingat kembali kalau dia pernah ku sewa dengan bayaran dua potong cake selama seminggu.


"Mungkin waktu kita sedang sandiwara di atas pelaminan Reza dan Nia, malaikat sedang mengaminkannya," ucap Mas Zayn.


"Dan semoga kali ini malaikat kembali mengaminkannya," ucapku sungguh-sungguh.


Aku memejamkan mata. "Semoga pernikahan kita tetap harmonis hingga waktu kita telah habis di dunia ini."


"Amin." Aku mendengar suara lembutnya.

__ADS_1


Setelahnya, aku malah merasakan sentuhan lembut menyapu permukaan bibirku. Aku tahu apa yang sedang ia lakukan dan aku tahu, sekaranglah saatnya untuk menghabiskan malam sebagai sepasang pengantin baru.


__ADS_2