
"Semua itu idenya, Zi!" Reza menunjuk Kak Nia dengan tatapan tajam.
"Dia iri padamu yang selalu mendapatkan apa yang kamu mau," lanjut Reza lagi.
Aku memandang pria yang dulu begitu ku kagumi, ku sayangi, dan ku harap bisa menjadi imam yang baik bagiku. Tapi saat ini, pria itu telah membuka topengnya. Kebusukannya ia tunjukkan tanpa ragu sedikitpun.
Dimana akal sehatnya, saat ia meminta untuk kembali padaku, tapi ia malah menunjukkan sifat aslinya yang curang itu. Apa dia sudah berada di ujung tanduk? Melakukan segala cara untuk menutupi keburuk-annya dengan terus memojokkan Kak Nia tanpa ampun.
Sungguh, aku merasa tertipu habis-habisan. Aku menyesal karena pernah menjalin cinta dengan pria itu.
"Bohong!" teriak Kak Nia yang tak terima dituduh seperti itu.
Seketika aku menoleh ke arahnya. Tampak ia sedang menahan geram dengan berderai air mata.
"Kamu pembohong, Za!" teriaknya lagi. Telunjuknya mengarah tepat ke wajah Reza yang mulai panik.
"Harusnya aku sadar sejak awal kalau kamu bukan pria baik-baik. Kamu tega mengkhianati Zia yang katanya kamu cintai hanya untuk menguasai bisnisnya!"
"Dan kamu mengorbankan aku," ucap Kak Nia yang terduduk lemas di sofa.
Ia tampak memegangi perutnya. Mama mendekat untuk memastikan kalau perutnya hanya kram biasa.
"Kenapa? Apa karena menikahinya masih terlalu lama, hah!" Tampak sorot kebencian itu tertuju pada Reza yang diam seribu bahasa.
"Dasar tukang fitnah!" Tante Rani maju beberapa langkah di depannya.
"Berani kamu memfitnah Reza! Selama ini saya diam, tapi sekarang tidak lagi."
"Saya akan menghancurkan hidupmu!" Tante Rani menunjukk wajah Kak Nia. Dia bahkan mengulurkan tangannya untuk menarik rambut Kak Nia.
Aku menghalangi wanita menor itu dengan berdiri di depan kak Nia. Ku tangkap tangannya dan ku lepaskan lagi.
"Jangan pernah mendekatinya, Tante."
"Dia yang kurang ajar, Zi. Dia yang iri padamu, tapi malah memfitnah Reza. Dasar wanita ...."
Ku angkat tanganku dan ku arahkan kepadanya. "Tunggu dulu, Tante."
"Silakan duduk kembali. Dari pada saling tuduh dan menghina, lebih baik kita bicarakan baik-baik," ujarku. Sudah lelah ku mendengar tuduhan demi tuduhan tanpa bukti.
Aku duduk di samping kak Nia. Reza dan mamanya juga duduk. Setelah beberapa menit, situasi mulai tenang. Kak Nia juga tampak lebih rileks.
__ADS_1
"Perut Kakak kram lagi?" bisikku pada Kak Nia.
Dia menggeleng tanda ia baik baik saja. Dan itu artinya aku bisa melanjutkan masalah ini.
Reza dan Tante Rani menolak untuk menghadirkan papanya Reza, dengan alasan pria itu sedang sibuk. Akhirnya aku hanya menghadirkan papa disini.
"Za, sebaiknya kita selesaikan masalah kalian disini, sekarang juga," ucap Papa dan Reza mengangguk.
Aku melirik sinis. Pria itu tampak kalem meski ku tahu otaknya sedang berfikir keras untuk mengatur rencana baru.
"Saya tanya, kamu mau apa sekarang? Rumah tangga kalian mau dibawa kemana?" tanya Papa pada Reza.
"Saya mau menceraikannya dan menikahi Zia," ucap Reza tanpa rasa malu sedikitpun.
Papa melihat ke arahku dengan kening berkerut. Mungkin papa sama gelinya denganku. Terlalu berani si Reza ini.
"Saya sungguh menyesal, Om. Saya sangat mencintai Zia dan telah terjebak bujuk rayunya," lanjut Reza tanpa jeda.
"Saya mohon, beri kesempatan ke dua pada saya." Ia memelas dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi kamu mau menceraikannya?" tanya Papa dan Reza mengangguk mantap.
"Dia akan menceraikan kamu, Nia."
"Nia siap bercerai darinya, Pa," balas Kak Nia tak kalah mantap.
"Tapi, tolong kembalikan semua yang pernah kalian ambil dariku," ucap Kak Nia lirih.
Tante Rani dan Reza kompak membulatkan mata.
"Aku harus menghidupi diriku dan anak ini," tunjuk Kak Nia pada perut buncitnya.
"Dan apa yang telah kalian ambil seharusnya cukup untuk biaya hidupku sampai aku benar-benar sembuh setelah persalinan."
"Apa yang kami ambil darimu, hah?" tanya Tante Rani seperti sedang menantang Kak Nia. Wajahnya yang sombong itu membuatku geram.
"Kembalikan saja apa yang tante rasa telah tante ambil darinya," ucapku sengit.
Tante Rani dan Reza tetap tak mau mengaku. Mereka malah membela diri dan mengatakan kalau Kak Nia lah yang telah mencuri di rumah mereka.
"Stop!" Kak Nia berdiri. "Selesaikan semuanya sekarang!" bentaknya.
__ADS_1
"Mau kembalikan barang-barang milikku atau ku bawa masalah ini ke jalur hukum!"
Reza dan Tante Rani tersenyum remeh seolah akan merasa menang kalau Kak Nia membawa masalah ini ke jalur hukum.
"Aku punya bukti!" ucap Kak Nia dan seketika ekspresi wajah mereka berubah datar.
Kak Nia menunjukkan foto luka memar di punggung dan pahanya. Aku sempat terkejut karena selain wajah lusuhnya yang terlihat, ternyata ada luka bersembunyi yang selama ini berusaha dia tutupi.
Lalu, Kak Nia menunjukkan foto hasil visum yang aku sendiri tidak tahu ia dapat dari mana. Aku tidak menyangka, dia melakukan hal sejauh ini.
Reza dan Tante Rani tampak ketar ketir sementara Kak Nia tersenyum puas.
"Kembalikan semua perhiasan dan uang tabunganku. Maka akan ku maafkan kesalahan kalian," lanjut Kak Nia.
Tanpa banyak berdebat, Reza dan mamanya setuju untuk mengembalikan semua barang-barang milik Kak Nia yang telah mereka ambil. Tidak sekarang, karena mereka meminta waktu sampai jam 7 malam nanti.
Setelah Reza dan mamanya pulang, ku temui Kak Nia yang sedang duduk di halaman belakang. Aku duduk di sampingnya dan kami berdiam diri cukup lama.
"Waktu yang singkat, tapi berhasil membolak-balikkan keadaan menjadi kacau," ucapku sambil tertawa pelan.
"Semua ini salahku. Aku telah terpengaruh oleh ucapannya," jawab Kak Nia sembari menghela nafas.
"Aku memang sempat iri padamu. Aku iri kamu punya bisnis dan kamu punya pacar yang baik dan sayang padamu," lanjutnya.
Aku tersenyum miris. "Jika dia sayang padaku, dia gak akan mungkin berkhianat."
"Jika dia pria baik-baik, dia gak akan mungkin tega mempermainkan Kakak."
Kak Nia menatapku. Air matanya mulai menggenang dan siap meluncur di tebing pipinya.
"Maafkan aku, Zi." Dia memelukku. Pelukan erat yang menghangatkan.
"Maafkan aku yang egois dan sudah merusak hidupmu," ucapnya sambil terisak.
Ku usap punggungnya dan sesekali ku tepuk pelan. Aku tahu, dia menyesali perbuatannya. Selama ini kami tidak terlalu akrab, memang. Kak Nia lebih bebas dan sering pergi dengan teman-temannya ketimbang denganku. Tapi, meskipun begitu, kami tetap saling menyayangi.
Kami dibesarkan di rumah yang sama, oleh orang tua yang sama. Di lubuk hati yang paling dalam ini, pasti sama-sama ada rasa peduli terhadap saudara. Kenangan masa kecil yang kami lalui tak mungkin bisa terlupa begitu saja.
"Kakak yakin dengan keputusan kakak ini?" tanyaku.
Dia mengangguk. "Aku harus menyelamatkan anak ini dari ayah yang jahat sepertinya. Ayah yang tidak mengakuinya," ujar Kak Nia sambil mengusap perutnya.
__ADS_1