
Setelah penjelasan Kak Nia yang membuat kami bersimpati padanya, kami memutuskan untuk membiarkan Kak Nia tetap bersembunyi dari Reza. Paling tidak, hal itu demi keselamatan janin dalam kandungannya. Biar bagaimanapun, janin itu berhak lahir dengan keadaan sehat dan selamat.
Papa merusak surat kuasa itu agar jika Reza mencari kak Nia, dia tidak akan mendapatkan apapun. Papa meyakinkan kak Nia, kalau Reza tak akan bisa menceraikannya karena ia sedang mengandung.
Dua hari berlalu, aku mulai merasa tenang. Sertifikat tanah dan bangunan toko sudah ku simpan dengan aman. Aku sempat khawatir kalau sertifikat itu sudah dicuri oleh Reza atau Kak Nia.
"Reza keterlaluan banget, Zi," ucap Riri saat aku menceritakan apa yang telah terjadi. Aku sengaja memberitahunya karena jika Reza datang, ia bisa mengatasi pria itu.
"Kalau aku jadi kamu, akan ku pata*hkan tangannya." Riri menggerakkan tangannya seperti tengah memotong sesuatu.
"Akan ku tend*ang merpati yang bersemayam di dalam sarangnya itu." Riri tampak geram.
"Lalu, akan ku arak dia keliling komplek," lanjutnya.
Aku tertawa. "Buat apa? Yang ada cuma mengotori tanganku aja, Ri."
"Ya, buat pelajaranlah, Zi," jawabnya.
"Harusnya, kamu lapor polisi, Zi. Perbuatannya itu sudah ada unsur penipuan, loh!"
Aku sempat berfikir demikian. Tapi, aku tidak punya bukti. Kalau surat itu ku serahkan pada pihak berwajib, maka akan panjang urusannya.
"Benar sih, Ri. Tapi, biarkan saja dulu. Nanti, kalau dia bertindak diluar batas lagi, barulah aku akan bertindak."
"Biarkan Reza kalang kabut mencari istrinya dan biarkan Kak Nia menjalani kehamilannya dengan tenang."
"Suatu saat nanti, kak Nia yang menghukum suaminya itu."
Dia menipiskan bibir sebab tak puas dengan cara berfikirku. "Terserahlah!" Dia menghela nafas.
"Yang pasti, aku lega karena aku sama anak-anak lain masih bisa kerja di sini dan kamu masih jadi bos kami. Gak kebayang aja kalau Reza jadi bos disini." Ia bergidik ngeri.
Ponselku berdering dan nama Mas Zayn muncul di layar. Aku senyum-senyum sendiri saat menggeser icon berwarna hijau dan menempelkan benda persegi panjang itu ke telingaku.
"Hallo, Mas!" sapaku dengan suara lembut.
Mas Zayn mengatakan kalau dia sudah ada di depan. Aku segera bersiap dan memintanya menunggu 5 menit.
"Aku pergi, Ri," pamitku sambil memakai slingbag. Aku merapikan kemeja yang ku padukan dengan celana jeans.
Riri menatapku kebingungan. "Mau kemana?"
__ADS_1
"Pacaran!" jawabku sebelum keluar dari pintu. Lalu aku terbahak karena wajahnya seperti sedang kebingungan.
"Sama Mas Zayn?" tanyanya dengan tubuh menghadap ke belakang, tempat dimana pintu keluar berada.
"Ya," jawabku.
"Ziaaaa! Jangan bilang kalau kamu sudah jadian sama Mas Zayn!"
Aku tertawa saat aku masih bisa mendengar teriakannya meski aku sudah keluar dari ruang kerjaku.
Aku menemui Mas Zayn yang sedang menunggu di mobil. Ia bersandar di bagian depan mobil dengan kemeja yang warnanya senada dengan kemejaku.
Kami akan pergi ke suatu tempat, yaitu gedung bioskop. Ada film bagus yang tayang siang ini. Aku ingin menghilangkan rasa penat atas kejadian beberapa waktu terakhir yang sempat membuat fikiranku kacau.
"Zilla gak diajak, Mas?" tanyaku yang tak melihat keberadaan gadis kecil itu. Padahal ini hari Sabtu dan dia biasanya pulang lebih cepat.
Mas Zayn menggeleng. "Film romatis bahaya buat anak seusianya, Zi," jawabnya.
Aku tertawa. "Kenapa gitu?"
"Dia akan banyak bertanya, terutama untuk sebuah kosa kata yang dia gak tahu artinya."
"Dia akan menanyakan banyak hal, Zi. Kenapa begini, Pa? Kenapa dia melakukan itu, Pa. Bla ... bla ... bla ...."
"Lalu, dimana dia sekarang?"
"Ada di rumah kamu," jawabnya dengan senyum lebar. Mas Zayn menatapku sebentar.
Aku berdebar. Aku menatap ke arah depan agar aku tak semakin lemah karena pesonanya. Dia begitu memikat. Tatapannya, senyumannya dan suaranya.
"Aku akan mengajak kamu ke suatu tempat," ucapnya kemudian.
"Kemana, Mas?" tanyaku.
"Ada deh," jawabnya senyum-senyum padaku.
Aku meleleh. Papa! Cul*ik dia dan simpan di kamarku, Pa!
Kami menonton film layaknya pasangan remaja. Aku sedikit kurang percaya diri saat ku lihat orang-orang yang menonton film kebanyakan kebanyakan adalah pasangan remaja yang datang sambil bergandeng tangan.
Mas Zayn meraih tanganku dan aku terkejut. Ku tatap wajahnya yang sedang menatapku juga.
__ADS_1
"Biar gak kalah sama mereka," bisik Mas Zayn sambil menunjuk dengan ekor matanya, pasangan yang sedang berjalan masuk di depan kami.
Aku tersipu malu. Oh, God. Masa remajaku ku habiskan untuk apa ya? Kenapa aku melewatkan masa-masa indah itu dan baru ku lakukan sekarang?
Di dalam gedung bioskop yang gelap, aku dibuat takjub dengan kelakuan remaja jaman sekarang yang berani bermesraan di luar batas di tempat umum.
Tempat ini memang gelap, tapi cahaya dari film yang ditampilkan sesekali membuat bayangan penonton pasti terlihat.
"Mata kurang ajar!" gumamku saat aku baru saja berpaling dari pasangan yang duduk di kursi paling pinggir.
Mas Zayn melihat sekitar. Sepertinya dia mendengar ucapanku.
"Kenapa? Ada yang kurang ajar sama kamu? Siapa? Dan dimana dia?" tanyanya membuatku menahan senyum.
Dia tidak menemukan orang yang ia duga bersikap kurang ajar padaku. Padahal memang tidak akan ketemu. Kan, yang kurang ajar mataku sendiri.
"Gak ada, Mas. Sudah, lihat ke depan. Fokus sama filmnya." Ku dorong pelan rahangnya agar ia menatap lurus ke depan.
Ada sensasi aneh saat telapak tanganku menyentuh rahangnya yang terasa agak kasar. Darahku berdesir dan aku jadi tidak fokus pada film yang tengah di tayangkan.
Sore harinya, Mas Zayn membawaku ke sebuah area pemakaman umum. Aku menebak, nisan siapa yang akan kami datangi.
Namun, setelah memasuki area pemakaman, aku merasa ini bukan jalan menuju makam Kak Kania alias Arsyla.
Kami duduk diantara dua makam dengan nisan yang sama bentuk dan warnanya.
Kami berdoa untuk kedua orang yang namanya tertulis di batu nisan tersebut.
"Zia, ini adalah makam kedua orang tuaku."
Aku sudah menduganya sejak pertama kali ku lihat tulisan di batu nisan itu. Dan yang menjadi pertanyaanku adalah keduanya wafat di hari yang sama sepuluh tahun lalu.
Aku merinding. Ku tatap wajah Mas Zayn yang terlihat guratan kesedihan.
Aku mengangguk.
"Ayah, Ibu, ini adalah Zia. Dia wanita ke tiga yang pernah ku bawa khusus untuk ke kenalkan pada kalian."
Tiga? Siapa saja? Tentu ada nama Arsyla diantaranya. Lalu siapa satu lagi? Apa wanita itu dia kenalkan sebelum Arsyla atau sesudahnya?
"Aku sudah melamarnya dari kedua orang tuanya, tapi sampai sekarang, dia belum memberikan jawaban, Bu." Mas Zayn menahan senyum. Ia memang batu nisan ibunya.
__ADS_1
"Coba ibu tanyakan, dia sebenarnya mau menerimaku atau tidak? Dia mau atau tidak untuk menjadi menantu Ibu?" tanya Mas Zayn pada makam yang tidak akan pernah menjawabnya itu.
Aku menghela nafas panjang. Aku sampai lupa memberi jawaban atas permintaannya itu karena aku keburu emosi dan meminta penjelasannya soal Kak Nia.