Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 14 Menjauh


__ADS_3

Tepat jam 10 malam, ku tutup toko dan aku segera berjalan menuju mobilku yang terparkir tidak terlalu jauh.


"Zi," seseorang memanggilku.


Aku berbalik dan perlahan tubuh seorang pria datang dari kegelapan karena tidak terkena cahaya lampu. Sudah ku duga, dari suaranya saja aku sudah mengenalinya.


"Mas Zayn? Toko sudah tutup, Mas," ucapku dan aku kembali berbalik untuk pulang.


Mas Zayn meraih tanganku sehingga aku berhenti melangkah. Aku berusaha melepaskan tanganku yang ia pegang, tapi sangat sulit. Ia menatapku begitu dalam sehingga bulu kudukku berdiri tegak. Aku merinding melihat tatapannya.


"Mas, aku harus pulang!"


"Kenapa kamu menjauhiku?" tanyanya. Dia menarikku untuk duduk di sebuah bangku yang terbuat dari batu.


"Aku? Aku enggak menjauh, Mas!" elakku. Bukannya menjauh, aku hanya menjaga jarak darinya. Aku takut pada perasaanku sendiri.


"Kamu menjauh, Zi. Kamu gak pernah membuatkan ku kopi, kamu gak pernah melayaniku kalau aku datang ke toko, dan kamu tidak pernah lagi mengangkat telfon dariku," papar Zayn dan semuanya memang benar.


"Karena aku sibuk, Mas."


Bagaimana aku bisa bertemu terus-terusan dengan dia sementara aku harus menahan sesak di dada setiap kali aku bersamanya?


Aku pernah mengatakan kalau aku jatuh hati pada putrinya, tapi aku keliru, aku juga jatuh cinta pada papanya. Entah sisi mana yang membuatku jatuh cinta, mungkin karena dia paket komplit dengan bonus seorang malaikat kecil. Hehehe.


"Jangan mencoba membohongiku, Zi. Sesibuk-sibuknya kamu, gak mungkin kamu mengabaikan aku," ucapnya percaya diri.


"Siapa kamu, Mas? Kamu cuma pelanggan," jawabku kesal. Dia bisa sepercaya diri itu. Selama ini aku baik padanya. Lalu, apa hal itu membuatnya menyimpulkan sesuatu?


Deg!


Jantungku rasanya berhenti berdetak. Apa dia merasa kalau aku menyukainya?


Mas Zayn tampak tertunduk lesu. "Kamu hanya menganggapku sebatas itu, Zi?" tanyanya seperti seseorang yang sedang kecewa.

__ADS_1


Aku mengangguk. "Awalnya," jawabku refleks.


"Awalnya?" kening Mas Zayn tampak berkerut.


Dasar aku! Bohong sedikit saja tidak bisa, heh! Aku merutuki diriku sendiri.


Mikir Zia. Mikir!


"Semakin kesini, kita malah memiliki hubungan kerabat. Kamu adalah abang iparku!" ucapku dengan senyum palsu.


Ah, miris sekali kenyataan ini ya Tuhan! Ingin sekali aku menjerit sekuat yang ku bisa. Aku benci kenyataan ini!


Pria yang ku sukai tidak bisa ku miliki. Dia iparku sendiri. Hiks... hiks... hiks... Aku boleh nangis kan, readers tersanyang?


Mas Zayn tampak mengusap tengkuknya. Mungkin ia juga memikirkan hal yang sama. Dia lantas tertawa. "Kamu benar, kenapa takdir seperti sedang mempermainkan kita."


Kita?


"Dulu aku berharap kalau almarhumah Arsyla punya saudara yang mirip dengannya demi melihat Zilla tidak bersedih lagi."


"Aku berharap kamu bisa menjadi temannya, tapi dia memintaku untuk menjadikan kamu sebagai mamanya."


"Lalu, sebuah fakta terbuka lebar kalau kamu adalah tantenya," ucapnya sambil tertawa pelan.


"Ah, ya. Aku sudah mengatakan pada Zilla kalau sepertinya tidak perlu menjadikan kamu sebagai mamanya untuk bisa bersama kamu. Karena saat ini kalian bebas bertemu kapanpun dan bahkan dia bisa menginap di rumah kalian saat libur sekolah."


Aku mengangguk lemah. Mauku apa sih? Aku kesal karena dia sepertinya enggan menikahiku, tapi aku juga tidak siap dinikahi oleh pria yang masih sangat menyayangi mendiang istrinya.


"Kamu menjauh karena sungkan atas hubungan baru kita, ya?" tanyanya padaku. Padahal hal itu tidak ada hubungannya dengan apa yang ia katakan barusan.


"Enggak juga. Aku memang sedang sibuk, Mas."


Mas Zayn menghela nafas. "Kalau begitu, ya sudah!"

__ADS_1


Ya sudah? Aku terpelongo.


"Aku hanya memastikan kamu menjauh bukan karena marah padaku. Bukan karena kecewa sebab aku sudah memohon pada papa kamu untuk memaafkan kedua mertuaku," ucapnya seperti merasa bersalah atas perubahan sikapku terhadapnya.


Mungkin dia lupa kalau mama dan papa adalah mertua yang sebenarnya. "Aku sedikit kecewa, tapi kata papa semua demi Zilla."


"Aku malas memperpanjang urusan ini, Mas. Kak Kania juga sudah tiada dan Zilla kami anggap sebagai berkah atas sebuah kabar baik sekaligus kabar buruk yang papa dan mama tunggu-tunggu selama lebih dari 25 tahun," jelasku.


Beberapa hari berlalu, dan setiap hari Mas Zayn tetap datang ke toko. Aku sedikit heran, mengapa ia selalu datang. Kalau dulu, mungkin alasannya karena ingin lebih mengenalku lalu memperkenalkanku pada Zilla. Lalu sekarang, apa lagi tujuannya?


Sore ini, Mas Zayn datang untuk sekedar ngopi. Aku sengaja tidak melayaninya dan ku serahkan tugas itu kepada karyawanku. Aku benar-benar butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau aku tidak mungkin meraihnya.


Aku sepertinya mulai tidak waras. Kenapa aku bisa melupakan Reza begitu cepat dan melupakan rasa sakitku? Aku bisa menerima kenyataan kalau akhirnya Reza malah menikah dengan kak Nia. Lalu, kenapa aku sulit sekali move on dari Mas Zayn yang belum menjadi siapa-siapaku?


"Zi, aku ingin bicara!" ucap seseorang padaku saat aku sedang berdiri di belakang etalase untuk membantu melayani pembeli sambil sesekali melirik pria di sudut sana yang berhasil memporak-porandakan perasaanku.


Ku lihat Reza sedang berdiri tepat di depanku. Kenapa aku tidak melihatnya saat dia masih di luar? Kalau saja aku melihatnya, mungkin aku akan memilih untuk sembunyi saja.


Dia tampak rapi seperti biasa, tapi wajahnya sedikit berbeda. Apa yang membuatnya tampak berbeda, ya? Aku menelisik wajahnya dan ku temukan jawabannya. Lingkar hitam di sekitar matanya. Apa dia kurang tidur? Ah, pengantin baru hitungan bulan ini pasti selalu bergadang tiap malam untuk merayakan cinta.


"Zia, kamu melamun?" tanya Reza membuatku sedikit terkejut. Aku tersadar sedang memikirkan hal yang bukan urusanku. Mau mereka tidur atau tidak, bahagia atau tidak, bukan urusanku.


"Eng, enggak!" jawabku. "Ada apa, Za? Aku gak punya banyak waktu karena aku sedang sibuk," ucapku yang enggan berlama-lama melihat wajahnya. Padahal waktuku begitu lapang. Jalan-jalan ke wahana permainan pun aku masih sempat. Haha, itu berlebihan guys!


"Sebentar saja, Zi. Ku mohon!"


Aku melihat sekitar dan Mas Zayn sedang melihat ke arah kami. Entah sejak kapan dia memperhatikanku dan Reza, tapi aku suka melihat ekspresinya yang tegang-tegang kepo itu.


"Disana saja!" Ku tunjuk meja kosong tak terlalu jauh dari meja Mas Zayn.


Entah apa yang pengkhianat ini ingin katakan, tapi yang pasti aku tidak mau terlihat lemah dengan takut menghadapinya.


Aku duduk berhadapan dengannya. Ku tegakkan kepalaku dan ku lipat tanganku di dada. "Kamu mau apa lagi, Za?" tanyaku agak ketus.

__ADS_1


Reza menarik nafas dalam. "Tania selingkuh!"


Hahahaha... Dosa tidak ya, kalau aku tertawa?


__ADS_2