
Aku meminta izin pada Om Faisal untuk menemui Zia. Aku memang belum masuk ke dalam karena saat dokter memindahkannya, bertepatan dengan datangnya mereka.
"Om sama tante juga mau lihat Zilla sebentar," ucap Om Faisal padaku.
"Zilla di ruangan Anggrek nomor 3, Om," ucapku memberi tahu Om Faisal.
Aku sudah berada di samping tubuh yang terbaring lemah itu. Entah mengapa sang pemilik tubuh itu begitu betah memejamkan mata.
"Kenapa kamu belum bangun juga, Zi. Harusnya buka matamu dan berikan kami secerca harapan. Beri kami semangat untuk menanti kesembuhanmu," ucapku sambil melihat wajah yang tampak pucat dengan beberapa luka memar itu.
Miris sekali melihatnya. Dia yang ceria, murah senyum, dan terlihat sehat kemarin malam saat terakhir kali ku temui, kini malah tak berdaya seperti ini.
"Boleh ku akui satu hal, Zi?"
Ku tatap wajahnya dalam-dalam. "Aku mencintaimu," ucapku dengan sudut bibir yang melengkung.
"Aku seperti pecunda*ng yang mengakui perasaannya di hadapan tubuh yang tak berdaya," ejekku pada diri sendiri.
"Sejak Reza kembali dalam hidupmu, aku merasa ada sesuatu yang salah dengan hatiku."
"Aku marah dan aku cemburu."
"Lalu, di saat yang sama, aku tersadar. Siapa aku?"
Selama ini aku terus menyangkal perasaanku sendiri hanya karena malu sebab tidak ada hubungan dan komitmen diantara kami berdua. Sebagai lelaki, aku merasa gengsi mengakui perasaanku pada gadis yang tidak ku ketahui perasaannya terhadapku. Aku juga takut kalau perasaanku ini hanya cinta sesaat sebab wajahnya membuatku merindukan Arsyla.
Dengan statusku yang tidak lagi perjaka dan lajang, aku mulai berfikir kalau perasaanku sebaiknya ku kubur dalam-dalam.
Lalu, permintaan Zilla membuatku semakin bimbang. Ku persunting Zia, tapi aku belum tahu bagaimana perasaannya terhadapku. Kalau ku abaikan permintaan putriku, lalu bagaimana dengan perasaannya? Dan orang tua Zia, apakah mereka akan merestui hubungan kami nanti?
"Apa aku boleh menjadi begitu serakah untuk menjadi menantu papa kamu untuk yang ke dua kalinya, Zi?" Aku menahan perasaan menggelitik dalam hatiku. Aneh saja jika aku menikahi dua orang yang memiliki hubungan darah.
Ku usap punggung tangannya yang terasa dingin. "Ah, ya. Zilla ingin menemuimu. Ku mohon bangunlah, Zi."
__ADS_1
"Zia, ku mohon!" ucapku dengan lirih.
Aku menenggelamkan wajahku di samping tangannya. Tak terasa air mataku mulai menetes. Kini aku tahu, sepenting apa dia.
Gadis yang membuatku tertarik karena keramahannya, kemandiriannya dan kebaikannya, serta kecantikan wajahnya yang mengingatkanku pada seseorang yang kini telah pergi dariku.
Perasaanku padanya memang tidak sama seperti perasaanku pada Arsyla. Saat melamar Arsyla dulu, aku sama sekali tidak takut ditolak karena aku tahu perasaannya terhadapku.
Aku merasakan jemari tangan Zia bergerak. Aku menegakkan kepalaku dan ku lihat tangan pucat itu memang bergerak pelan.
Segera ku panggil dokter dengan menekan sebuah tombol di dinding. Aku merasa secerca harapan itu mulai muncul. Kini tangisku menjadi tangis bahagia. Aku melupakan kebimbangan dan pergolakan batin yang sempat ku rasakan. Kesembuhannya menjadi hal paling penting saat ini.
Ku panggil namanya dan ku harap ia mendengar suaraku. "Zia ... Zia ...."
"Bangun, Zi!"
"Buka mata kamu! Semua orang menunggumu bangun," bisikku pelan sambil mengusap tangannya.
Tim dokter masuk dan mengusirku agar aku keluar dari ruangan itu. Aku mondar-mandir di depan ruangan itu dengan perasaan cemas. Entah apa mauku, saat dia belum sadarkan diri, ku harap ia segera bangun. Dan saat ia mulai dasar, aku malah menakutkan banyak hal. Aku takut dia mengalami lupa ingatan seperti beberapa dampak dari kecelakaan yang dialami orang-orang.
"Zayn," seru Om Faisal yang datang dengan langkah lebar disusul oleh istrinya.
"Bagaimana dengan kondisi Zia? Dia benar-benar sudah sadarkan diri?" Om Faisal tampak senang mendengar kabar dariku. Ia sampai bertanya untuk meyakinkan dirinya kalau apa yang ku sampaikan memang benar.
"Tangannya bergerak, Om. Jadi, aku segera memanggil dokter."
Dua hari kemudian.
"Masih sangat sakit, ya?" tanyaku pada Zia yang meringis sambil memegang bahunya saat ku bantu ia untuk duduk.
Kondisinya semakin membaik. Ia sudah dipindahkan ke ruangan rawat dan ia mulai menjalani pengobatan untuk memulihkan kembali bahunya yang mengalami cedera.
"Masih, sedikit," jawabnya.
__ADS_1
"Kamu gak kerja, Mas?" tanyanya mengalihkan pembicaraan kami.
Aku menggeleng. "Aku cuti," jawabku singkat. Aku mengambil sepiring buah yang sudah ku potong sebelumnya dari atas meja.
"Cuti? Untuk apa?" tanyanya dengan ekspresi heran.
Ku suapkan sepotong apel agar ia tidak banyak bicara lagi. Kali ini matanya melotot karena kesal padaku.
Aku tertawa. "Ya, cuti saja. Zilla sedang sakit dan kamu juga sakit."
Padahal aku sengaja izin dari kantor untuk menjaganya setiap hari. Zilla justru sudah pulang dari rumah sakit. Aku memilih untuk merawatnya di rumah setelah dokter memastikan tidak ada luka serius yang Zilla alami.
"Aku kan bersama mama, Mas."
Aku menggeleng. "Dimana mama kamu?" tanyaku melihat sekeliling.
"Mama kamu lebih memilih untuk rebahan di rumah," jawabku asal.
Ia memukul bahuku pelan dengan tangannya yang tidak sakit. "Kamu yang menyuruh mama untuk pulang, Mas! Malah menuduh mama seperti itu."
Aku tertawa lagi. Wajahnya yang cemberut itu sama seperti wajah Zilla saat aku tidak mau membelikan mainan yang ia inginkan.
"Aku harus bertanggung jawab untuk kesalahan Zilla, Zi," ucapku kemudian dengan nada serius.
Aku hanya merasa bersalah karena keinginan Zilla untuk diantar olehnya sehingga mobilnya melewati jalan tersebut dan mengalami kecelakaan. Harusnya, jika Zilla pulang bersama Pak Marno dan Bik Mumun, Zia tidak akan melewati jalan itu.
"Ssssst! Bukan salahnya, Mas! Jangan menyalahkannya. Kalau dia dengar, pasti dia akan merasa sangat sedih." Dia tidak suka saat ku katakan demikian.
"Semua ini musibah, Mas. Gak ada yang tahu kapan datangnya."
"Aku saja yang gak konsentrasi sampai akhirnya mobil kami menabrak truk di depan."
"Justru aku yang harusnya minta maaf karena membuat Zilla dalam bahaya. Dan aku sangat bersyukur karena dia baik-baik saja."
__ADS_1
Aku tidak bisa berkata-kata lagi saat ku lihat ketulusan hatinya. Dia memang sempat menangis haru saat bertemu dengan Zilla kemarin. Ia bersyukur karena Zilla tampak baik-baik saja. Ia berulang kali meminta maaf karena telah membuat Zilla dalam bahaya.
Aku sampai mundur beberapa langkah sebab tak kuat melihat pemandangan di depanku kala itu. Aku seperti melihat Arsyla tengah memeluk Zilla. Pelukan Zilla juga begitu erat. Lalu, bagaimana bisa hatiku tak menghangat saat melihat hal itu?