Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 42 POV Zayn


__ADS_3

Aku tersentak saat mendengar seorang pria meminta tebusan uang sebesar satu milyar untuk keselamatan putriku. Jumlah yang sangat banyak dan aku tidak punya uang sebanyak itu.


Aku segera merebut ponselku dari tangan Zia yang bergetar hebat. Dia sangat ketakutan. Ku peluk dia dan ku bawa untuk duduk di atas ranjang.


"Zilla, Mas!" Ia menangis dalam pelukanku. Dia hanya menangis sambil menyebut nama Zilla sebanyak beberapa kali.


"Aku gak akan maafin siapapun yang sudah menculik Zilla," ucapnya disela isak tangis.


Dia menatap wajahku dan kedua tangannya mencengkeram kaos yang ku pakai. "Kamu harus bisa menyelamatkan Zilla, Mas! Aku gak mau terjadi sesuatu padanya."


"Kak Nia, Mas!" Ah, ya. Aku juga hampir saja melupakan Nia yang hilang bersama putriku.


"Tenanglah, Zi. Aku pasti akan menyelamatkan mereka. Aku akan membuat pelakunya mendapat balasan yang setimpal," ujarku.


Aku memang sudah tak sabar lagi ingin bertemu baj*ingan itu. Dia memanfaatkan putriku yang lemah demi kepentingannya.


Aku menghubungi nomor itu lagi, tapi tidak aktif. Ku lempar ponselku karena merasa geram. Pria itu sepertinya sengaja memancing amarahku.


Aku melempaskan pelukanku dan mengambil jaket. Aku putuskan untuk pulang ke rumah karena sejumlah uangku ada disana. Jumlahnya memang tak mencukupi, tapi sepertinya sertifikat rumahku cukup untuk menebus Zilla. Tak ada harta paling berharga yang melebihi Zilla. Aku rela kehilangan semua itu asal putriku selamat.


"Mas, jangan!" Zia melarangku pergi dengam menarik tanganku. Ia menggeleng pelan.


Aku menangkup kedua pipinya. "Aku rela kehilangan apapun demi Zilla, Sayang!"


"Dan aku takut kehilangan kalian berdua," sahut Zia cepat. Matanya kembali basah karena menangis.


"Aku takut, pria itu akhirnya juga menyakiti kalian berdua meskipun kamu membawa uang yang dia minta, Mas!" Ia memeluk pinggangku. Aku tak sanggup melihatnya seperti ini, tapi bagaimana dengan putriku?


"Lalu, aku harus bagaimana, Zi? Berdiam diri disini sampai akhirnya aku terlambat untuk menyelamatkan Zilla?"


Kami mencoba merundingkan masalah ini dengan papa atas saran dari Zia. Papa sangat terkejut mendengar cerita kami. Papa tidak bisa menyarankan apapun karena belum jelas, dimana posisi Zilla saat ini.


"Jangan gegabah, Zayn! Orang itu juga belum memberitahu kalian kemana harus menyerahkan uang itu, kan?" tanya Papa dan aku menggeleng.


Akhirnya aku menghubungi pengacaraku untuk mengurus masalah ini dengan pihak kepolisian. Aku juga mengirimkan nomor ponsel penelpon tadi agar segera diselidiki.


Berselang satu jam, nomor tak dikenal itu kembali menghubungiku. Aku mencoba untuk tenang.

__ADS_1


"Bagaimana? Sudah ada uangnya?" Pria yang sama kembali bertanya saat aku belum menyapanya.


"Buktikan dulu kalau putriku ada bersamamu!" perintahku tegas.


Aku ingin mendengar suara Zilla karena aku ingin memastikan kalau Zilla memang bersamanya dan dalam keadaan baik-baik saja.


"Boleh! Tunggu sebentar!"


Terdengar suara seperti orang yang sedang berjalan lalu membuka pintu.


"Cepat bicara!" perintah pria itu dengan suara yang terdengar jauh.


"Aduh, sakit Om!" Itu suara Zilla. Kami yakin itu suara putriku.


"Sapa papa kamu! Menangis dan minta tolonglah!" bentak pria itu lalu tertawa.


"Papaaaa! Papaaaa!" teriak Zilla ketakutan. "Papa, jemput Zilla sekarang, Pa! Disini sangat bau dan kotor. Zilla gak suka tempat ini!" Zilla berteriak minta tolong.


"Zilla, tenang ya, Sayang! Papa akan segera datang!"


"Sudah cukup!" ucap pria itu dan suara Zilla tak terdengar lagi. Mungkin mereka berada di ruangan yang berbeda atau mungkin mulut Zilla sudah ditutup.


"Hahahah! Terburu-buru sekali. Baiklah! Pastikan uangmu tidak kurang selembar pun!"


"Jam 12 malam ini di Jalan X. Akan ku hubungi lagi nanti. Jangan membawa polisi atau akan ku kirim mayat putrimu malam ini juga!" ancam pria itu dan detik itu juga panggilan diakhiri.


"Kurang aj*ar!" geramku. Tanganku mengempal meski ponselku masih ku genggam.


Aku segera menuju tempat itu karena kurang dari dua puluh menit lagi sudah menunjukkan jam dua belas.


Aku pergi sendirian karena tim pengacaraku sudah mempersiapkan pihak berwajib untuk mengawalku dari jauh. Aku bahkan tidak membawa uang yang pria itu minta. Aku hanya membawa sebuah koper kosong di dalam mobilku.


"Jalan X," gumamku saat aku berbelok ke kiri menelusuri Jalan X. Aku hanya harus menunggu pengunjuk lagi karena aku tidak tahu di gedung mana pria itu mengajakku bertemu.


Ponselku berdering dan aku melihat nomor pria itu kembali menghubungiku. Aku melihat ke sisi kanan dan kiri, mencoba mencari dimana posisinya.


"Sekarang, jalan terus ke depan dan kamu akan menemukan pertigaan. Letakkan uang itu di balik batu besar yang ada disana," ucap pria itu dan aku menyimaknya dengan seksama.

__ADS_1


"Lalu, dimana bisa ku ambil putriku?" tanyaku sinis.


"Ku pastikan dia sudah ada di depan rumahmu saat uang itu sudah berada di tanganku."


Sial! Jika benar begitu, bagaimana aku bisa memberi tahu Zia kalau Zilla akan diantar ke rumah. Zia masih di rumah papa, dan siapa yang bisa memastikan kalau Zilla ada disana?


"Bohong!" bentakku tak percaya.


Pria itu tertawa. "Terserah, bergeraklah karena sebentar lagi sudah jam dua belas."


"Atau kamu ingin aku membawa putrimu pergi jauh?" ancam pria itu.


Aku segera melajukan mobilku dengan kecepatan sedang. Aku melihat sekitar untuk mencari orang yang terlihat mencurigakan. Aku yakin aku sedang diawasi. Jalan ini memang merupakan pertigaan, tapi tempatnya lumayan sepi karena hanya ada pepohonan dan tak ada rumah di sekitar sini.


Memang benar, ada sebuah batu besar yang terkena sorot lampu mobilku. Aku tak langsung turun karena aku mencoba mengirim pesan pada Zia untuk segera menuju rumahku. Aku juga memberitahu orang yang bekerja di rumah untuk melihat ke arah luar dan memastikan ada tanda-tanda keberadaan Zilla atau tidak.


Aku berdiam diri cukup lama sampai akhirnya pria itu menghubungiku lagi.


"Kenapa kamu belum meletakkan uangnya? Atau kamu ingin melihat putrimu kehilangan nyawa?"


"Ehmmm ... ehmmmm ..."


"Letakkan uang itu sekarang!" bentak pria itu.


Aku sempat mendengar suara aneh, seperti suara seseorang yang ditutup mulutnya. Aku melebarkan mataku dan aku yakin kalau itu adalah suara Zilla atau Nia. Itu artinya mereka ada disekitar sini, bukan di rumah.


Dia bermain-main denganku?


"Bagaimana kalau kita satu lawan satu!" tantangku sengaja memancing emosi pria itu. "Melibatkan anak kecil sebagai sandara, cih! Dasar pecunda*ng!"


Pria itu malah tertawa. "Letakkan uang itu atau nyawa putrimu akan melayang!"


Aku keluar dari dalam mobil. Aku berjalan mendekati batu besar itu dan meletakkan koperku di belakang batu itu agar tidak terlihat oleh orang lain.


Aku melihat ke kanan dan kiri. Pelakunya belum muncul, malah hanya ada beberapa orang berlalu lalang dengan sepeda motornya.


Aku kembali ke mobil, dan berharap semoga rencana ini berhasil. Aku hendak pergi, dan seorang pria berhenti dan turun dari sepeda motornya, lalu memperhatikan sekitar dan berjalan mendekati batu besar itu.

__ADS_1


Pria itu telah mengambil koperku, tapi tak berhasil karena ada seorang pria lain yang menyerang pria itu dan membuat koper itu jatuh ke jalan. Mereka sempat berkelahi dan saling serang beberapa kali. Namun akhirnya pria kedua, bisa dikalahkan oleh pria yang pertama kali datang. Sementara aku hanya melihat dari jarak 10 meter.


"Serahkan koper itu!" bentak pria lainnya tiba-tiba muncul entah dari mana.


__ADS_2