Terjebak Pesona Partner Sewaan

Terjebak Pesona Partner Sewaan
Bab 8 Zilla Sakit


__ADS_3

Hampir seminggu setelah Mas Zayn dan Zilla datang ke toko siang itu, kini mereka tidak pernah datang lagi. Aku tidak tahu apa alasannya, Mas Zayn juga tidak pernah menghubungiku.


Aku merenung di meja kerjaku. Zilla mengatakan ingin bertemu denganku setiap hari dan saat aku sudah mengizinkannya untuk datang ke toko, gadis kecil itu malah tidak pernah datang.


Astaga, kenapa seperti ada yang hilang dalam hidupku? Dikhianati Reza, aku tidak merasa kesepian. Tapi, tanpa mereka berdua kenapa ada yang kurang? Terlebih, saat siang itu aku bisa tertawa lepas bersama ayah dan anak yang terlihat kompak itu.


Namun, ada satu hal yang membuatku sedikit kesal. Menjelang sore, Zilla mengajakku untuk ikut ke makam mamanya, tapi belum ku putuskan ikut atau tidak, Mas Zayn sudah lebih dulu melarang Zilla untuk mengajakku. Alasannya karena aku sibuk. Dengan nisan istrinya saja dia sepossesiv itu.


Ku lihat jam dinding menunjukkan pu*kul 10 malam. Aku bersiap untuk menutup toko. Aku keluar dari ruangan itu dan tampak Mas Zayn sedang tertunduk lesu. Wajahnya juga tampak lusuh dan rambutnya juga tidak rapi lagi. Sangat berbeda dari biasanya.


"Mas Zayn?" sapaku dan seketika pria itu menatapku, dan bibirnya tersenyum tipis.


"Mau pesan sesuatu?"


Dia menggeleng dan aku duduk di depannya. "Ada apa, Mas?"


Mas Zayn menggeleng dan duduk bersandar di kursi. "Aku numpang nenangin fikiran sebentar, Zi."


Aku berdiri dan membuatkan secangkir kopi untuknya. Dia mungkin tidak lapar, tapi ku yakin dia butuh kopi. Dia pasti sedang ada masalah, entah itu mengenai pekerjaan atau yang lainnya.


Dia duduk cukup lama. Aku dan dia tidak saling bicara. Walaupun hanya ada kami berdua di toko karena karyawanku sudah pulang semua.


"Kamu mau nutup toko, Zi?" tanyanya setelah sadar sudah hampir jam 11 malam.


"Enggak apa-apa kalau Mas Zayn belum mau pulang," jawabku. Padahal mataku sudah hampir terpejam saat aku duduk menopang dagu dengan sebelah tanganku sementara tanganku yang lain sedang memegang ponsel dan dan ibu jariku bergerak naik turun menelusuri laman sosial mediaku.


Ponsel Mas Zayn berdering membuatku terkesiap. Wajahnya tampak serius saat mendengarkan orang yang menelponnya. Dia segera mengakhiri panggilan dan bersiap untuk pergi.


"Zilla dilarikan ke rumah sakit, Zi. Dia sempat pingsan tadi!" Mas Zayn panik saat memberitahuku.


"Astaga! Bagaimana bisa, Mas?" tanyaku yang juga ikutan panik.


"Entahlah! Sudah dua hari panasnya gak turun-turun! Dia juga gak mau makan." Mas Zayn berjalan keluar dari toko.

__ADS_1


"Semoga kamu baik-baik saja, Sayang!" Aku masih sempat mendengarnya bergumam penuh harap.


"Tunggu aku, Mas. Aku ikut!" Aku merasa seperti orang jahat kalau aku membiarkan Mas Zayn pergi dalam keadaan panik seperti ini.


Aku menutup pintu toko dan masuk ke dalam mobilnya. Aku yang mengemudikan mobil karena Mas Zayn terlihat panik. Aku takut dia tidak konsentrasi saat berkendara.


"Zilla, maafkan papa," gumam Mas Zayn yang saat ini sudah lebih tenang. "Papa terlalu sibuk bekerja, Nak."


Aku menghela nafas berat saat mendengar kalimat penyesalannya. Kalau sudah begini, memang baru terasa kalau ada yang lebih berarti dibanding pekerjaan.


Aku sudah merasakannya. Sangking sibuknya aku mengurus toko, aku sampai tidak mengetahui pacarku berselingkuh dengan kakakku sendiri. Mungkin karena aku terlalu lama membuat Reza menunggu di rumah saat aku belum pulang dari toko. Lalu, saat itulah Kak Nia dan Reza saling mengenal dan semakin akrab. Ah si*al! Aku malah mengingat mantan kurang ajar itu.


Kami tiba di rumah sakit dan Mas Zayn langsung mencari keberadaan seseorang. Aku ikut berlari di belakangnya. Sungguh, dia sangat mencintai putri kecilnya. Ia sampai lupa kalau aku ikut bersamanya. Ck! Siapa aku? Aku cuma wanita yang kebetulan mirip dengan istrinya.


"Bik Mumun, bagaimana bisa terjadi, Bik? Kenapa Zilla sampai pingsan?" cecar Mas Zayn pada wanita yang tampak panik itu.


"Non Zilla gak mau makan sejak siang, Pak."


"Badannya juga tetap panas meski sudah minum obat." Ku lihat wanita itu menahan air matanya.


Aku sudah menghubungi papa dan mengatakan kalau aku akan pulang terlambat karena harus ke rumah sakit. Papa memang banyak tanya, tapi saat aku belum bisa mengatakan pada mereka kalau putrinya Mas Zayn yang sakit. Karena mereka belum tahu kalau Mas Zayn adalah seorang duda.


"Papa ..." suara lemah itu membuat Mas Zayn segera menghampiri Zilla yang sedang terbaring lemah dengan kantung infus yang menggantung di sampingnya.


"Apa yang kamu rasakan, Sayang? Mana yang sakit?" tanya Mas Zayn.


Aku perlahan jalan mendekat dan berdiri di belakang Mas Zayn yang duduk di kursi. Ku lihat Zilla menatapku sambil tersenyum kecil.


"Tante Zia," ucapnya lirih. Aku tahu dia senang saat melihatku. Aku juga senang saat bisa menjadi alasannya untuk tersenyum.


"Hai, Sayang," balasku menyapanya. "Sudah baikan?"


Dia mengangguk. Manis sekali.

__ADS_1


"Zilla pusing?" tanyaku dan Mas Zayn berdiri dari kursinya lalu mempersilahkan aku untuk duduk.


Ku usap rambutnya, dan ku lihat matanya terpejam. Apa dia rindu sentuhan mamanya? Bukankah seorang ibu sering mengusap rambut putrinya?


"Tante datang sama papa?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Iya Sayang. Kebetulan papa kamu sedang di toko tadi."


Zilla melihat ke arah Mas Zayn dan menatap pria itu tanpa berkedip. Mas Zayn juga tidak mengatakan apapun. Ku lihat keduanya seperti dua orang yang sedang bertengkar.


"Tante, tante mau gak menemani Zilla disini?" minta gadis kecil itu padaku.


Aku melirik Mas Zayn yang lagi-lagi hanya diam. Apa sebenarnya yang sedang terjadi? Mengapa keduanya seperti sedang perang dingin?


"I-iya, tante akan temani kamu disini!"


Zilla bergerak perlahan untuk menggeser tubuhnya. Aku membantu gadis kecil itu.


"Kesini lagi, tante!" Dia minta digeser sampai ke pinggir.


"Tante, nanti tidurnya disini aja, di samping Zilla." Dia menepuk ruang kosong di ranjang itu.


Aku tertegun. Dia ingin aku tidur disampingnya? Lalu, bagaimana dengan Mas Zayn? Apakah dia mengizinkannya?


"Zilla boleh bobo lagi, Tante?" Mungkin dia masih pusing atau tubuhnya memang sangat lelah.


"Boleh sayang," jawabku sambil mengusap rambutnya. "Tidur yang nyenyak ya. Tante akan duduk di sofa dulu. Nanti kalau tante sudah ngantuk, tante akan tidur di samping kamu."


"Tante gak bohong, kan?"


Aku menyelimutinya dan sepertinya setelah ini aku perlu bicara pada Mas Zayn yang seolah tak rela aku tidur di samping putrinya.


Aku dan Mas Zayn keluar sebentar setelah Zilla sudah tertidur. Kami duduk di kursi tepat di depan ruangan itu. Sudah malam, jadi tidak akan ada yang mendengarkan percakapan kami.

__ADS_1


"Dia memintaku untuk menikahimu." Kaliamat pertama yang keluar dari mulut Mas Zayn.


__ADS_2