
Aku dan mama saling melempar tatapan karena Kak Nia menuduhku telah menuduhnya selingkuh. Sebenarnya ada apa ini? Kenapa dia malah menuduhku? Padahal aku tahu hal itu dari suaminya sendiri. Apa ini hanya caranya untuk membersihkan nama? Ia mungkin ingin memungkiri bahwa dirinya telah selingkuh dibelakang Reza sampai Reza meragukan janin dalam kandungannya.
"Aku gak menuduh kamu. Kenyataannya memang begitu, kan?" tanyaku tanpa menyebut nama Reza.
Kak Nia menggeleng beberapa kali. "Aku gak menyangka, Zi, kamu ternyata segini teganya padaku," ucapnya dengan suara tertahan.
"Kamu tahu apa soal aku? Kamu yang selingkuh sama Reza di belakangku dan kamu malah menuduhku. Kamu juga yang menghasut Reza, kan? Kamu licik, Zi!" Jari telunjuknya mengarah ke wajahku dengan ekspresi sangat marah.
Loh ... loh, kok jadi dia yang merasa tersakiti?
"Pertama kamu dan Reza saling bertemu, lalu memberi ide pada Reza untuk melakukan tes DNA dan memanipupasi hasilnya, lalu setelah hasilnya keluar dan anak ini terbukti bukan darah daging Reza, kalian akan kembali bersama."
"Sekarang kamu menuduhku selingkuh, lalu setelah ini apa, Zi?" teriaknya keras.
Papa yang baru saja pulang mengusir kak Nia detik itu juga. "Pergilah! Setiap kedatanganmu hanya membuat keributan. Siapa yang mengizinkan kamu masuk?"
"Pa, sudah. Jangan diteruskan!" larangku.
Papa hanya mendengar sedikit dari percakapan kami dan aku takut papa hanya salah faham. Akhirnya aku berhasil membuat Kak Nia pergi. Ia pergi dengan keadaan marah. Ia membawa tas ransel berukuran kecil, mungkin isinya adalah beberapa potong pakaian. Dia juga tidak mengembalikan uang yang ku berikan. Itu artinya dia sangat butuh uang itu.
Aku membalikkan posisi tidurku ke kanan dan ke kiri. Aku tidak bisa tidur karena sepertinya ada yang salah dengan semua ini. Aku merasa antara Reza dan Kak Nia sedang bersandiwara atau mengadu domba.
Reza bilang, Kak Nia yang selingkuh. Reza sendiri yang bilang akan melakukan tes DNA sebelum lahir dan dalam hitungan hari, ia berubah fikiran untuk melakukan tes setelah anak itu lahir. Dan hari ini, kak Nia mengatakan semua yang Reza katakan padaku adalah tuduhanku. Kenapa Reza seolah ingin membuat aku dan Kak Nia saling membenci?
Aku membulatkan mata saat hal itu terlintas dalam fikiranku. Jika benar semua adalah adu domba Reza, maka sungguh keterlaluan sikapnya sebagai laki-laki.
Aku juga tidak menyangka kalau Reza dan mamanya tega merampas semua perhiasan kak Nia. Ku tahu, isi tabungannya juga lumayan banyak.
Aku bergidik ngerih saat mengingat kalau kak Nia ternyata juga diperlakukan seperti pembantu. Apa hal yang sama akan terjadi padaku kalau aku menikah dengan Reza?
"Reza menghubungiku?" gumamku saat nomornya muncul di ponselku diiringi dengan getaran benda petak itu.
"Ada apa, Za?" tanyaku tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Kakak kamu kabur dari rumah. Dia memang istri durhaka! Dia pasti pergi kesana, kan Zi?" tanyanya.
"Hem," jawabku singkat. "Dia kesini sebentar, lalu pulang."
"Dia belum pulang sampai sekarang. Kemana wanita licik itu," ucap Reza membuat hatiku seperti ter*sayat pisa-u.
Dia begitu kasar dan sok berkuasa. Dia sendiri yang mengatakan kalau istrinya kabur, lalu kini malah mengatakan kalau istrinya belum pulang. Mana ada orang kabur tapi pulang.
"Bukan urusanku," ujarku. Ku akhiri panggilan itu dan ku nonaktifkan ponselku. Aku tidak mau dia kembali menghubungiku lagi.
Tiga hari berlalu, Reza tiba-tiba datang ke toko kue sambil marah-marah. Aku yang sedang berada di ruanganku sampai terusik, apalagi dengan pelanggan-pelangganku.
"Zia! Zia!" teriaknya seperti di hutan.
Aku menatap wajahnya yang berdiri sekitar 5 meter di depanku. "Kalau bertamu, setidaknya sopan sedikit."
Aku semakin mendekat dan dia tersenyum senang. Dia sepertinya sudah gil*. Dia ingin kembali padaku, tapi malah menunjukkan sikap buruknya yang bahkan selama ini tidak pernah ku lihat.
"Mau apa lagi, hem?" tanyaku sambil melipat tangan di dada.
Alisku menyatu dan keningku berkerut karena aku tengah menelisik wajah pria yang semakin hari semakin aneh ini.
Bagaimana tidak ku katakan demikian, dia bisa merubah sikapnya dalam sekejap. Dia menyiksa Kak Nia, lalu kini mencarinya. Seharusnya dia senang karena dia tidak perlu mengurus istrinya lagi. Dia tidak perlu bertanggung jawab lagi meskipun janin itu adalah anak kandungnya.
Apa sebenarnya yang kamu cari, Za?
"Dia istrimu, mengapa bertanya padaku? Aku bukan pengasuhnya. Jadi, mana ku tahu dia dimana? Bahkan bayangannya saja sudah gak diterima lagi di rumah kami," jawabku membuatnya mengeraskan rahang.
Apa maunya? Mengapa dia marah padahal yang ku katakan benar, kan? Ya, walaupun kalimat terakhir sedikit berlebihan. Hehehe.
Dengan kesal, Reza keluar dari toko. Dia masih mengenalku dengan baik. Dia tahu kapan aku berkata jujur dan kapan aku berbohong. Aku memang tidak tahu dimana keberadaan Kak Nia.
"Dia mengalami masalah dengan kandungannya kemarin malam. Ada kemungkinan janin itu gak akan selamat," ucapku membuat langkah Reza berhenti. Reza tak menatapku, ia terus melangkah dan segera masuk ke dalam mobilnya.
__ADS_1
Ayah macam apa yang sama sekali gak peduli dengan calon anaknya? Aku tidak akan mau punya suami sepertinya. Ya Tuhan, aku sangat bersyukur Engkau telah menunjukkan siapa dia sebenarnya sebelum kami menikah.
"Dia buat masalah lagi?"
Tiba-tiba Mas Zayn datang saat aku akan kembali ke ruanganku.
Aku menggeleng.
"Jangan bohong! Aku melihat wajahnya merah padam seperti sedang menahan marah," ucap Mas Zayn kemudian.
Aku terpaksa membawa Mas Zayn ke ruanganku karena aku tidak mau mengganggu para pembeli yang baru saja masuk ke dalam toko.
Dia duduk di depanku. Kami saling berseberangan diantara meja kerjaku. Aku menjelaskan padanya mengenai Kak Nia dan Reza.
"Sepertinya Reza ingin mengadu domba kamu dan Nia," ucap Mas Zayn menyimpukan sendiri berdasarkan ceritaku.
"Aku sempat berfikir seperti itu, Mas. Tapi, untungnya buat dia apa, Mas?" tanyaku.
Mas Zayn diam saja. Ia sedang berfikir sepertinya. Mas Zayn mengangguk beberapa kali. Aku tidak tahu apa yang sedang ia fikirkan.
"Tujuan Reza, ya ...." ucapnya kemudian.
"Hanya dia yang tahu," lanjutnya sambil mencebikkan bibir dan mengangkat bahu.
Aku menghela nafas panjang. Ku kira dia akan memberiku solusi. Ternyata dia hanya mengatakan seperti itu.
Tanpa perlu bercerita dengannya, aku puna tahu kalau pertanyaannya adalah apa tujuan Reza?
Dia menuduh kak Nia selingkuh. Dia tidak mengakui anaknya sendiri. Dia menyiksa Kak Nia. Lalu kenapa sekarang dia marah saat istrinya itu pergi dari rumah?
"Itu berarti selama ini kamu belum memahami sifat aslinya. Kalian sempat dekat bahkan berpacaran, tapi kamu gak bisa menebak kemana Reza membawa permainannya."
Aku menatap Mas Zayn yang meremehkanku. "Aku memang bukan tipe wanita yang hanya makan cinta dan bucin-bucinan. Apalagi sampai bergantung padanya."
__ADS_1
"Aku lebih memilih menghabiskan banyak waktuku untuk bekerja dibanding pacaran. Dan sekarang aku merasa diuntungkan dengan sikapku itu. Aku bisa tetap mandiri meski tidak punya pacar." Aku menaikkan alisku. Aku ingin menunjukkan padanya kalau aku bukan seperti wanita lain yang hanya mengandalkan pemberian suami.
"Ya, ya, ya. Aku percaya," balasnya dengan senyum mengejek. "Kamu sampai gak tahu kalau pacarmu selingkuh dengan kakakmu sendiri."