
"Tadi malam Zayn mampir, Zi?" tanya papa saat aku baru saja bergabung dengan mama dan papa untuk sarapan.
"He'em." Aku mengangguk. "Cuma sebentar, Pa. Gak masuk juga," jawabku dengan nada lemah.
Papa dan Mama tidak menanyakan apapun lagi. Aku langsung pamit pergi setelah meminum beberapa teguk susu.
"Aku pesan online aja, Ma," ucapku saat mama menawarkan untuk membuatkanku bekal.
Aku malas sarapan pagi ini. Otakku rasanya seperti jungkir balik karena memikirkan permintaan Mas Zayn tadi malam.
Belum lagi, dia yang menciumku tanpa penjelasan. Malam tadi, kami bahkan tidak membahas masalah ciuman itu. Ah, otakku memang payah.
Aku harusnya menanyakan alasannya. Tidak mungkin hanya untuk membuktikan pada Reza mengenai hubungan kami. Hubungan? Ck! Bahkan tidak ada hubungan spesial diantara kami berdua.
Selama bekerja, aku juga tidak berkonsentrasi. Aku hanya duduk merenung dan sesekali mengacak rambutku.
Apa aku menjemput Zilla saja, ya?
Tiba-tiba aku kepikiran untuk bertemu dengan gadis kecil itu. Aku mengirim pesan pada Mas Zayn untuk meminta izinnya agar ia memberitahu pak Marno agar tidak perlu menjemput Zia.
Bukannya membalas pesanku, Mas Zayn malah menghubungiku membuat jantungku rasanya kembali berdegup kencang.
"Hallo, Mas," sapaku.
"Zi, hari ini Zilla ada les renang," ucap Mas Zayn.
"Oh, ya sudah, Mas. Lain kali saja kalau begitu."
"Tunggu dulu, Zi. Bukan mau melarang kamu. Kamu boleh menjemputnya, dan mengajaknya kemanapun."
"Yang penting, jam 4 sore nanti kamu antarkan dia ke jalan X, tempatnya latihan renang."
"Bik Mumun akan mengantarkan perlengkapannya langsung ke sana."
"Oke, Mas."
Aku mengira Mas Zayn melarangku, tapi aku salah. Dia bahkan memperbolehkanku untuk membawa Zia kemanapun.
Aku menunggu di pos satpam dekat gerbang sekolah. Dan anak pintar itu langsung mengenaliku.
"Tante yang jemput, Zilla?" tanyanya.
Tanpa fikir panjang, aku langsung membawanya ke sebuah pusat perbelanjaan. Pertama-tama, ku belikan dia baju baru karena tidak mungkin ku biarkan dia jalan-jalan dengan memakai seragam sekolah.
Setelahnya, kami makan siang bersama. Ku lihat ia tampak senang melahap makanannya.
"Tante tahu, gak? Sekarang papa selalu menemani Zilla sarapan, loh!" pamerny padaku.
__ADS_1
Aku tersenyum lebar seolah aku baru tahu hal tersebut. "Oh, ya? Setiap hari?"
Dia mengangguk beberapa kali. "Iya. Makan malam juga," ucapnya lagi.
"Zilla senang, tante. Sekarang papa punya waktu banyak buat Zilla."
"Tante juga ikut senang, sayang." Aku mengusap kepalanya.
"Apa yang bisa membuat tante mau menjadi mama buat Zilla?" tanyanya tiba-tiba.
Ku lihat tatapannya yang penuh harap. Aku yakin, dia tulus memintaku menjadi mamanya. Apa dia begitu kesepian dan tersiksa tanpa adanya sosok mama di sampingnya?
"Kenapa pertanyaan Zilla seperti itu, sayang?" tanyaku sambil mengusap pipinya.
"Tante Zia juga mamanya Zilla," lanjutku.
"Tapi tante bukan istri papa, makanya tante gak bisa tinggal di rumah sama Zilla," sangkalnya dengan nada polos.
Gadis ini tahu dari mana mengenai hal seperti itu. Apa dari Mas Zayn?
"Tante harus menikah dengan papa supaya bisa jadi mamanya Zilla."
Aku menghela nafas panjang. "Siapa yang bilang begitu?"
"Bik Mumun," jawabnya cepat.
Ku pejamkan mataku sebentar untuk menurunkan emosiku yang hampir naik karena mendengar nama Bik Mumun. Wanita itu mungkin berusaha membuat Zilla mengerti mengapa aku tidak bisa tinggal bersamanya.
"Apa karena papa gak pernah bilang cinta ke tante?" tanyanya lagi membuatku semakin tak karuan.
"Papa memang sering bilang cinta ke mama. Dan Zilla yakin, kalau tante tinggal di rumah, papa pasti juga akan bilang cinta ke tante."
Seandainya kamu tahu, sayang. Semua gak sesimple itu, Nak. Papa dan tante gak semudah itu bisa menciptakan suasana bahagia di dalam rumah. Tante juga gak yakin bisa membuat kalian bahagia, sama seperti yang mama kamu berikan.
Akhirnya, ku ajak Zilla jalan-jalan meski ia belum mendapat jawaban apapun dariku. Aku hanya mengatakan padanya untuk lebih banyak berdoa agar selalu diberikan yang terbaik oleh Tuhan.
"Zilla les renangnya berapa lama, sayang?" tanyaku saat kami berada di dalam mobil dan akan segera menuju lokasi dimana Zilla akan les renang.
"Satu jam, tante."
"Tante temani, ya. Tante pengen lihat, Zilla jago gak renangnya."
Ia tertawa sambil menutup mulutnya. "Zilla tantang tante untuk berenang gaya bebas."
Zilla menantangku? Wah, aku yakin, dia memang sudah jago sehingga ia berani menantangku.
"Tante gak bisa berenang," jawabku sambil nyengir menunjukkan gigiku.
__ADS_1
Dia tertawa. "Sekalian ikut les aja sama Zilla," ajaknya antusias.
"Pelatihnya baik, kok, tante!" serunya.
"Nanti Zilla yang bilang ke pelatihnya. Oke?" tanya mengacungkan ibu jarinya.
Aku tertawa keras membuatnya keheranan. "Tante bisa berenang, kok, Zi!"
"Tapi gaya batu doang!"
Dia tertawa lepas. "Itu namanya tenggelam, Tante."
Aku dan Zilla terbahak bersama. Tapi, ada satu hal yang membuatku khawatir. Sebuah mobil berwarna hitam sedari tadi selalu berada di belakang mobilku. Padahal aku sudah melaju dengan kecepatan sedang, tapi mobil itu tidak mendahului mobilku.
Aku merasa sedikit takut. Bagaimana kalau pengemudi mobil itu sengaja mengikuti kami dan memiliki niat buruk?
Aku bersyukur karena kami sudah tiba di tempat les Zilla dan mobil itu tidak terlihat lagi.
Sangat seru melihat Zilla les renang. Aku dan Bik Mumun menunggu di pinggir kolam sambil terus melihat beberapa orang anak seusia Zilla berenang.
Setelah selesai, Zilla memaksa untuk pulang bersamaku. Aku sama sekali tidak merasa keberatan. Aku akan mengantarkannya pulang.
Aku dan gadis kecil itu saling bercanda sambil menyusun rencana untuk liburan bersama. Entah kapan akan terealisasi, yang penting rencanakan saja dulu. Hehehe.
"Tante gak suka pantai?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Suka dong, siapa sih yang gak suka pantai," jawabku.
"Kalau gitu, kita ke Bali saja, Tan. Ajak papa sekalian."
Bali? Dia pernah kesana?
"Kamu sudah pernah kesana?" tanyaku.
Zilla mengangguk. "Dulu, sama mama dan papa." Wajahnya sedikit murung. Mungkin sekelebat bayangan akan kenangan indah mereka muncul dalam ingatannya.
Tidak bisa di dipungkiri, dia adalah anak pertama dan sudah pasti dia begitu dimanja dan disayangi, meskipun Mas Zayn sibuk. Pasti masih ada waktu luang untuknya.
"Wah, tante saja belum pernah ke sana. Mesti nabung dulu nih tante."
Zilla tersenyum lebar. "Zilla juga menabung, Tan. Papa belikan celengan kelinci untuk Zilla."
Aku membulatkan mata, takjub. "Oh, ya?"
"Tante, awaaaaas!" teriak Zilla tiba-tiba.
Ku lihat dari arah depan sebuah truk sepertinya berhenti mendadak karena rusak. Aku banting stir dan mobilku menabrak bagian belakang truk itu.
__ADS_1
"Aaaaaah!" Aku masih mendengar teriakan Zilla sesaat sebelum tubuhku terasa membentur setir mobil dengan keras.
Lalu seketika semua terasa gelap meski rintihan tangis Zilla masih bisa ku dengar.